Harga Beras Tinggi Warga Beli Secara Kredit

CENDANANEWS – Harga beras di beberapa wilayah Kabupaten Lampung Selatan sejak  dua pekan terakhir mencapai kisaran Rp 10.000 hingga Rp11.500 perkilogram bahkan beberapa jenis beras bisa lebih. Meski sudah diupayakan penyelenggaraaan Operasi Pasar Murah disejumlah titik namun tetap saja ada masyarakat yang tak bisa membeli beras dengan harga murah dari program pasar murah.
Kenaikan beras tersebut membuat Ahmad (34) warga di Kalianda memutar otak untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dengan bahan makanan yang akan dimasaknya menjadi nasi tersebut. Ahmad mengaku membeli beras untuk kebutuhannya dengan mencicil alias kredit.
“Ia saya membelinya secara kredit, kalau mau ikut pasar murah harus nunggu dan terkadang tak kebagian jadi saya membelinya secara kredit karena tak bisa beli secara kontan,” ujar Ahmad kepada Cendananews.com Senin (2/3/2015).
Ahmad mengaku membeli beras sebanyak 25 kilo dengan harga perkilo 12 ribu yang dipatok oleh penjual beras yang memang memberinya kesempatan untuk membeli secara kredit. Harga tersebut akan dicicil selama 20 hari dengan uang muka sebesar R100ribu.
“Jadi totalnya saya harus membayar 300 ribu untuk sebanyak 25 kilogram beras karena itu tadi secara kredit,” ujar Ahmad yang memiliki dua orang anak tersebut.
Meski jatuhnya mahal Ahmad mengaku selain dirinya beberapa tetangga di lingkungan Sinar Laut Kecamatan Kalianda tempatnya tinggal warga sudah biasa membeli beras dengan sistem semacam itu. Sistem tersebut membuatnya sedikit terbantu sebab sementara belum memiliki uang cukup ia sudah bisa mendapat beras untuk kebutuhan keluarganya.
“Ekonomi memang sedang susah apalagi harga BBM juga diisukan akan naik, ini semakin membuat harga beras otomatis akan naik lagi padahal penghasilan kami pun hanya pas pas an,” ujarnya.
Sementara itu dari pantauan, di Kecamatan Penengahan beberapa petani terlihat sudah memanen padi milik mereka dan sebagian masih belum panen. Kepada media  ini salah seorang warga Warno (40) mengungkapkan di wilayah Penengahan panen memang tak bersamaan, meski pun panen namun harga beras tak kunjung turun.
“Seluruh petani di sini memang belum memasuki panen raya karena dengan kondisi harga beras yang mahal itu sangat berpengaruh pada masyarakat miskin,” jelasnya.
Warno mengungkapkan meskipun nantinya panen, ia pun tak bisa menjamin harga bisa turun. Sebab meskipun harga naik namun harga gabah pun tak sesuai dengan harapan petani dalam situasi ekonomi yang sedang tak baik ini.
Senin, 2 Maret 2015
Jurnalis : Henk Widi
Lihat juga...