
CENDANANEWS – Budidaya ikan air tawar masih menjadi usaha sampingan yang dilakukan warga Dusun Bunut Selatan Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi Lampung Selatan. Ketersediaan air dimusim penghujan serta lahan yang dekat dengan tempat tinggal warga membuat warga memanfaatkannya untuk budidaya ikan air tawar.
Yusuf (34) mengaku sudah lima tahun membudidayakan ikan air tawar. Ia memiliki lahan seluas 300 meter di dekat rumahnya ang ditebari bibit ikan emas, nila, mujair.
Bibit ikan tersebut menurutnya dibeli dari Bogor, Tasikmalaya. Bibit ikan emas yg lebar dengan ukuran badan 2cm dibelinya Rp 200/ekor. Ikan Nila lebar badan 2cm,Rp 125/ekor.
“Beberapa warga di sini sebagian berasal dari Tasikmalaya yang sudah biasa membudidayakan ikan air tawar. Karena lahan mendukung maka kami memelihara ikan, ” ungkap Yusuf kepada Cendananews.com Rabu (25/2/2015).
Namun meski lahan, bibit tersedia namun ada kendala yang dihadapinya, terutama untuk budidaya ikan air tawar hanya bisa dilakukan pada musim penghujan. Menurut Yusuf warga rata rata membudidayakan ikan air tawar di lahan pekarangan mereka berupa kolam alam sehingga berisi air pada musim penghujan tapi kering pada musim kemarau.
“Jika musim kemarau warga tidak memelihara ikan karena tidak memiliki sumur bor untuk kebutuhan air kolam. Sementara beberapa bulan ini curah hujan tinggi sehingga terkadang banjir, ” tegas Yusuf.
Selain membudidayakan ikan di kolam, warga lainnya Mamat (45) juga membudidayakan ikan bandeng yang ditebar dengan udang windu. Budidaya ikan bandeng bersama udang windu dilakukan untuk meminimalisir kerugian.
Mamat mengaku menebar bibit bandeng sebulan sebelum bibit udang windu ditebar. Hal tersebut dilakukannya berdasarkan pengalamannya hampir sepuluh tahun sebagai petambak.
“Biasanya saat ada serangan hama udang banyak udang yang mati namun kami masih bisa panen bandeng. Itu sudah biasa dilakukan warga di sini, ” tegasnya.
Selain untuk konsumsi sendiri menurutnya peluang budidaya ikan bisa dimanfaatkannya untuk tabungan. Sebab sambil mengerjakan pekerjaannya sebagai wiraswasta ia masih bisa mendapatkan keuntungan dari budidaya ikan miliknya.
Pelanggan yang mengambil ikan darinya biasanya pengepul yang akan mengirimnya ke Pulau Jawa atau daerah Lampung dan sekitarnya. Sedangkan untuk memperluas pemasaran ia biasanya menawarkannya ke warung-warung makan yang ia datangi.
Untuk satu petak kolam di sekitar rumahnya Yusuf dan Maman mengaku bisa memperoleh ikan emas, nila rata rata sekitar 100 kilogram. Demikian juga ikan bandeng yang dibudidayakan bersamaan dengan udang windu.
Yusuf yang biasa menampung ikan nila dari para pemilik kolam mengaku saat ini harga ikan nila mencapai Rp15 ribu per kilogramnya. Harga tersebut adalah harga konsumen dengan rata rata 1 kilogram berisi 3 ekor ikan ukuran besar atau sekitar 6 ekor ukuran kecil.
Sementara itu warga lain Makmun mengatakan selama ini ia dan warga lain tetap memanfaatkan lahan yang ada untuk peningkatan perekonomian apalagi Kecamatan Sragi, Kecamatan Bakauheni merupakan kecamatan pendukung Kecamatan Ketapang yang ditetapkan sebagai kawasan Minapolitan. Ia juga mengungkapkan membentuk kelompok budidaya ikan sehingga mudah difasilitasi oleh pemerintah setempat untuk mendapatkan permodalan.
“Warga yang membudidayakan ikan di sini terkendala modal, namun jika mereka membentuk kelompok akan lebih mudah untuk mendapatkan modal, ” ungkap Makmun.
Selain permodalan, warga mengaku mendapat pendampingan dari pemerintah setempat untuk kelompok pembudidaya ikan air tawar, tambak di Desa Bandar Agung melalui penyuluh perikanan. Penyuluh perikanan dari DKP memberikan pelatihan dari mulai pemilihan bibit, pemeliharaan hingga
paska panen baik pengolahan serta pendistribusian.
Kamis, 26 Februari 2015
Henk Widi