Dag, Dig, Dugderan Karya Leyla Hana

CENDANANEWS, Bukan hanya sekedar produk makanan, perlengkapan dapur dan busana yang menguasai pasar import. Buku pun demikian, banyak penerbit yang lebih memilih menerbitkan buku terjemahan, padahal banyak karya anak negeri yang sangat bagus dan butuh apresiasi dari sesama anak negeri.Sama halnya dengan produk dalam negeri lainnya, jika sesama anak negeri tidak menghargai dan mencintai, maka bagaimana anak negeri akan terus berkarya ?

Pada edisi Minggu ini, mengupas tentang Leyla Hana, Penulis muda, cantik, keibuan dan cerdas. Memutuskan sebagai penulis kisah remaja tentu bukan tanpa alasan.

“Alasan saya menulis novel remaja karena saya pertama kali menulis saat usia remaja (13 tahun), jadi cerita-cerita yang saya tulis pun bertema remaja. Jika di usia sekarang (32 tahun), masih menulis novel remaja, itu karena saya ingin memperkaya khazanah literatur fiksi remaja. Berbagi inspirasi, motivasi, dan semangat kepada adik-adik remaja.  Bahwasanya kita bisa menyelipkan pendidikan yang baik ke dalam novel fiksi, karena remaja lebih suka membaca novel fiksi daripada nonfiksi” Jelasnya. 

Berikut Sinopsis dan Resensi Buku “Dag. Dig, Dugderan”
Judul: Dag, Dig, Dugderan
Penulis: Leyla Hana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Oktober, 2014
ISBN: 978-602-03-0806-7
Sinopsis

Olimpiade Sains Nasional sudah di depan mata. Sri, Eileen, dan Farah tidak mengira mereka yang terpilih mewakili sekolah untuk ajang bergengsi tersebut. Sri, gadis Jawa yang menyukai pelajaran biologi, harus menyembunyikan keberhasilannya itu karena khawatir melukai Bulek. Eileen, gadis keturunan Tionghoa sekaligus calon fisikawan, disokong habis-habisan oleh kedua orangtuanya dan optimistis bisa menjadi pemenang. Sedangkan Farah, gadis keturunan Arab yang jago matematika, belajar dengan giat agar dapat meraih medali kemenangan. Tak dinyana, menjelang pertandingan berbagai musibah menimpa tiga gadis ini. Apakah mereka berhasil memenangi Olimpiade Sains Nasional di tengah masalah keluarga, juga debaran cinta, yang membelit?
Dari resensi Riawani Elyta
Dag, dig, dugderan!
Seiring berlangsungnya Festival Dugderan, ketiganya mendapatkan jawaban yang mengejutkan…
Mengapa novel ini layak disebut novel inspiratif?
Pertama – karena novel ini mengangkat karakter remaja-remaja yang rajin belajar dan tak mudah menyerah. Inilah karakter yang semestinya diteladani oleh remaja pada jaman ini.
Kedua – karena perjuangan para tokohnya dalam mengatasi permasalahan hidup dapat memberi motivasi bagi para pembaca khususnya remaja untuk berani menghadapi berbagai kesulitan hidup.
Ketiga – novel ini juga sangat informatif. Di dalamnya kita bisa mengetahui kultur sosial masyarakat Semarang yang menjadi latar tempat novel ini, juga kultur Arab yang direpresentasikan oleh Farah dan keluarganya, kultur etnis Tionghoa yang diwakili Eileen dan keluarganya, juga kultur Jawa yang mewarnai kehidupan Sri dan keluarga Buleknya.
————————————————-
Jumat, 23 Januari 2015
Narasumber : Leyla Hana
————————————————-
Lihat juga...