Gelora dari Ballroom Merlynn Park: Lintasan Harapan, Realitas, dan Peta Baru UKM–IKM Indonesia

“Sistem tidak selalu berkeadilan,” ujarnya. Kalimat itu jatuh datar, tapi meninggalkan gema panjang.

Ia mengusulkan model pendampingan terpadu yang mempertemukan organisasi dengan kampus: literasi bisnis, klinik perizinan, hingga inkubasi produk.

 

Di Balik Sangkar Kristal Ballroom: Peta Jalan UKM Masa Depan

Setelah makan siang, sesi pemaparan program kerja berlangsung lebih teknis. Namun jika diamati dari jauh, tampak dua arus besar yang muncul dari pertemuan ini:

1. Dorongan Konsolidasi Organisasi

DPW, DPD, hingga relawan UKM di berbagai provinsi mendorong model kerja yang lebih terukur dan terpusat, menghindari fragmentasi yang selama ini menjadi penyakit umum organisasi berbasis kerakyatan.

2. Tuntutan Kebijakan yang Lebih Realistis

Para peserta menyerukan: akses pembiayaan rendah bunga, penyederhanaan proses perizinan, digitalisasi yang tidak hanya berbentuk pelatihan, dan keberpihakan nyata terhadap usaha mikro keluarga miskin.

Sebagian dari tuntutan ini bukan hal baru, tetapi Rakernas membuatnya terdengar dengan artikulasi yang lebih kompak.

 

Menutup Hari dengan Sebuah Tekad Diam

Menjelang sore, ketika acara ditutup, ruangan mulai lengang. Para peserta mengemas produk, menggulung banner, dan berpamitan.

Tidak ada tepuk tangan panjang, tidak ada musik perayaan. Yang tersisa adalah suasana yang lebih subtil—semacam tekad diam. Bahwa perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 tidak mengandalkan gedung megah atau jargon besar, melainkan jutaan usaha kecil yang bertahan dengan tenaga seadanya.

Bahwa motor ekonomi negeri ini bukan pada gedung-gedung bertingkat, tetapi pada warung, kios, sentra IKM, dan tangan-tangan kecil yang terus mencari celah bertahan.