Gelora dari Ballroom Merlynn Park: Lintasan Harapan, Realitas, dan Peta Baru UKM–IKM Indonesia
Ia mengingatkan bahwa organisasi ini tidak boleh menjadi wadah yang hanya hidup di pusat sementara daerah tertinggal pada sisi implementasi.
Kata-katanya mengandung semacam peringatan: jika UKM IKM ingin menjadi tulang punggung ekonomi nasional, maka konsolidasi organisasi harus lebih dari sekadar seremonial.
UKM Indonesia: Besar di Statistik, Rapuh di Lapangan
Sejumlah pejabat kementerian hadir, silih berganti naik ke panggung. Mereka mengutip angka-angka yang selama ini mengisi lembar presentasi: kontribusi UKM terhadap PDB mendekati 57 persen, menyerap tenaga kerja hingga lebih dari 97 persen, dan jumlahnya mencapai 64 juta unit lebih.
Statistik itu terdengar impresif, tetapi seperti banyak feature Tempo, angka-angka itu sesungguhnya hanya kulit.
Di lapangan, UKM dan IKM Indonesia menghadapi serangkaian problem yang tak berubah dalam satu dekade terakhir: mahalnya biaya legalitas, ketidakpastian akses pembiayaan, rantai pasok yang timpang, penetrasi pasar digital yang tidak merata, hingga daya saing produk yang jauh tertinggal dari negara tetangga.
Dan realitas itu turut hadir di ballroom ini—tidak dalam bentuk paparan, tetapi dalam obrolan bisu, raut wajah, dan cerita-cerita kecil para pelaku usaha.
Andy Subhan: “Rakernas Ini Momentum Penguatan Nyata”
Ketika tiba gilirannya berbicara, Andy Subhan, Ketua DPW UKM IKM Nusantara DKI Jakarta, menyampaikan pesannya tanpa banyak metafora.
“Rakernas ini adalah momentum penguatan organisasi. Ini langkah nyata mendukung Nawacita Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.
Nada Andy santai, tapi argumentasinya tegas. DKI Jakarta, sebagai pusat ekonomi nasional, memiliki konsentrasi pelaku UKM yang besar namun menghadapi persaingan paling ketat.