Menteri Kebudayaan Wacanakan Upaya Keberlanjutan Penelitian Situs Gunung Padang

JAKARTA – Kementerian Kebudayaan menyelenggarakan Diskusi Publik bertema “Melihat Kembali Nilai-nilai Penting Situs Cagar Budaya Nasional Gunung Padang: Suatu Upaya Pelestarian Cagar Budaya Berkelanjutan”.

Kegiatan yang dilaksanakan di Graha Gedung A Lantai 3 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini diikuti oleh 250-an peserta yang terdiri dari berbagai elemen baik peneliti, akademisi, pemerintah, ikatan profesi, jurnalis, dan komunitas.

Diskusi ini mencoba untuk memperlihatkan bagaimana nilai-nilai penting Gunung Padang
sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional dapat menjadi suatu stimulan dalam upaya
Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Cagar Budaya.

Diskusi ini juga bertujuan untuk mempublikasikan nilai penting termutakhir berdasarkan penelitian terkini oleh para ahli di Gunung Padang.

Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan dalam laporannya menyampaikan diskusi ini bertujuan untuk mewacanakan upaya keberlanjutan penelitian terhadap Situs Gunung Padang.

“Adanya diskusi ini adalah untuk mendiskusikan secara komprehensif terobosan baru bagaimana arah dan kelanjutan Situs Gunung Padang karena ini memerlukan usaha dan kerja sama untuk mewujudkannya,” ucapnya, belum lama ini.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon dalam sambutannya menyampaikan bahwa penelitian
mendalam diharapkan dapat dilanjutkan untuk menggali lebih dalam informasi valid yang
ada di situs tersebut.

Tidak menutup kemungkinan hal ini dilakukan dengan melibatkan ahli dari luar negeri.

“Kita masih dalam tahap early stage, tahap awal penelitian, tentu kalau kita lakukan riset
lebih lanjut terhadap Gunung Padang ini perlu adanya kolaborasi dengan banyak lembaga, pihak dan ahli-ahli diperlukan juga mengundang ahli dari luar untuk melakukan riset megalitik Gunung Padang,” ungkapnya.

Menteri Fadli juga menekankan pentingnya forum diskusi antar para ahli, pemerintah, dan pihak terkait untuk mencari solusi upaya penelitian lebih lanjut sekaligus pelestarian situs tersebut kepada para peserta yang terdiri dari sejumlah kementerian dan juga lembaga masyarakat seperti: Kemenko PMK, Setditjen DPR RI, Kemenpar RI, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cianjur, Perkumpulan Ahli Arkeologi (IAAI), Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), hingga Komunitas Forum Masyarakat Peduli Gunung Padang dan sejumlah mahasiswa.

“Kalau saya sebagai orang awam sifat keingintahuannya sangat common sense yakni tempat itu apa, dan kapan dibuatnya. Sebenarnya ini yang kita ingin dengar dari 6 narasumber kita. Demikian dari saya sebagai pengantar atas perdebatan dan polemik yang tajam (tentang situs Gunung Padang), sehingga nantinya menghasilkan sintesa bagi jawaban-jawaban yang ditunggu oleh masyarakat tentang situs Gunung Padang,” tutupnya, sekaligus membuka resmi forum diskusi tersebut.

Situs Gunung Padang ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 023/M/2014.

Menurut Arkeolog Junus Satrio Atmodjo, salah satu narasumber diskusi, situs Gunung Padang merupakan tinggalan budaya megalitik berupa punden berundak yang tersusun dari batuan kekar kolom berbentuk balok dengan lima teras berundak.

“Situs ini memiliki lima teras yang disusun bertingkat, bangunan ini digunakan untuk memuja nenek moyang, di mana konsepnya merupakan teras bertingkat,” ujarnya.

Selain itu pada diskusi situs Gunung Padang juga disampaikan paparan oleh narasumber
lainnya, yaitu: Dr. Taqyuddin, S.Si., M.Hum.

Ia memaparkan bagaimana nilai-nilai penting Gunung Padang sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional dapat menjadi suatu stimulan dalam upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya.

Dengan demikian, Gunung Padang dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bukti kejayaan peradaban nusantara di masa lampau.

Setelahnya, Prof. Ris. Dr. Sutikno Bronto, M.Sc., pada kesimpulannya menyampaikan Gunung Padang adalah situs arkeologis dan geologis yang unik, tetapi rentan terhadap bencana alam, sehingga perlu perhatian khusus dalam pelestariannya.

Pembicara berikutnya Prof. Dr. Danny Hilman Natawidjaja, M.Sc., menyebutkan hasil penelitiannya bahwa semua lapisan batuan kolom di bagian atas bukit Gunung Padang disusun oleh manusia dan tidak ada yang alamiah.

Kemudian pembicara berikutnya, Dr. Lutfi Yondri, menyampaikan perlunya penelitian
berkelanjutan dilakukan untuk mengungkapkan lebih banyak tentang situs ini dan
mengembangkan potensi pariwisata yang dapat mendukung ekonomi lokal dan
melestarikan kebudayaan Indonesia.

Pembicara terakhir, Dr. Ali Akbar, menyebutkan hasil uji laboratorium dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mendukung usia situs yang mencapai ribuan tahun.

Menurutnya situs ini memiliki makna spiritual dan historis yang mengarah pada kemungkinan bahwa Gunung Padang bukan hanya struktur alami  tetapi juga dibentuk oleh manusia. ***

Lihat juga...