Warga Dusun Kasuran masih pegang teguh larangan tidur di kasur
Editor: Koko Triarko
YOGYAKARTA, Cendana News – Dusun Kasuran di desa Margolowih, Seyegan, Sleman, memiliki keunikan tersendiri.
Seluruh warga di dusun Kasuran ini masih menjunjung tinggi kepercayaan tradisi dan budaya leluhurnya.
Selama ratusan tahun, warga dusun Kasuran memiliki pantangan untuk tidak tidur di kasur atau alas tidur dari kapas atau kapuk.
Mereka percaya, siapa yang dengan sengaja melanggar pantangan itu bakal terkena musibah atau hal-hal yang buruk.
Alhasil, sampai saat ini seluruh warga dusun ini masih memegang teguh kepercayaan turun-temurun itu, dengan tidak tidur beralas kasur kapuk.
“Warga takut tidur di atas kasur kapuk, dan biasanya warga menggantinya dengan busa, dipan (papan kayu), karpet atau springbed,” ujar Kepala Dusun setempat, Wartilah.
Wartilah menjelaskan, munculnya tradisi dan kepercayaan masyarakat itu sudah ada sejak sekitar 600 tahun silam. Saat itu dusun ini masih bernama dusun Njaron.
“Suatu ketika Sunan Kalijaga singgah ke dusun ini untuk melakukan syiar Islam. Beliau menginap di salah satu rumah warga,” katanya.
Namun, ternyata ada seorang sesepuh setempat yang tidak suka dengan kedatangan Sunan Kalijaga itu, karena berbeda keyakinan.
Sesepuh yang bernama Sonco Ndalu itu kemudian berniat mencelakai Sunan Kalijaga.
Karena tidak berani berhadapan secara langsung, Sonco Ndalu mengirimkan telung atau santet.
Ia menempatkannya di bawah kasur yang digunakan Sunan Kalijaga untuk tidur.
“Santet itu membuat Sunan Kalijaga demam dan badannya bergetar,” kata Wartilah.
Namun, keesokan harinya Sunan Kalijaga terlihat sehat dan bugar. Sunan Kalijaga pun lantas berpamitan dengan penduduk hendak meninggalkan dusun.
Menurut Wartilah, sebelum pergi itu Sunan Kalijaga menitipkan pesan agar siapapun jangan sampai tidur di atas kasur yang digunakannya itu karena khawatir akan terkena telung atau santet.
“Sejak itu sampai sekarang warga takut dan tidak mau tidur di atas kasur,” jelasnya.
Meski ada kisah itu, Wartilah mengatakan nama dusun Kasuran tidak terkait dengan kisah Sunan Kalijaga tersebut.
Nama dusun Kasuran baru muncul sekitar tahun 1835, saat terjadi peperangan antara pasukan Pangeran Diponegoro melawan Belanda.
Wartilah mengatakan, nama Kasuran itu asalnya dari kata ‘kasoran’ yang artinya kalah.
“Karena pada saat itu pasukan Pangeran Diponegoro sedang mengalami kekalahan, dan mengungsi di dusun ini. Saat itu dusun ini masih bernama Njaron,” katanya.
Menurut Wartilah, di dusun ini Pangeran Diponegoro dan pasukannya membuat pesanggrahan atau tempat peristirahatan.
“Sehingga dusun ini pun sejak saat itu sering disebut dengan dusun Kasoran, yang lama-kelamaan menjadi Kasuran,” katanya.
Sementara itu tempat petilasan Pangeran Diponegoro dan pasukannya masih ada hingga sekarang.
Termasuk sebuah sendang dan batu-batu yang konon pernah disinggahi Sunan Kalijaga.
“Sayangnya memang kurang terawat,” ungkapnya.
Namun, saat ini warga berkerja sama dengan pihak terkait untuk memaksimalkan aset dan potensi tersebut sebagai potensi pariwisata.
Salah satunya dengan membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dusun Kasuran.
Wartilah mengatakan, dalam prosesnya muncul kendala karena lokasi pesanggrahan Diponegoro kini berada di tanah pribadi. “Sehingga kita kesulitan untuk mengelola, walaupun kita tetap merawatnya meski tidak bisa rutin karena biayanya mahal,” katanya.
Meski belum resmi menjadi kawasan wisata budaya, dusun Kasuran sudah terkenal. Tidak sedikit orang baik itu siswa sekolah, mahasiswa, maupun peneliti datang ke dusun ini untuk melakukan riset dan penelitian.
“Belum lama ini kita juga diminta tampil untuk pentas oleh Dinas Kebudayaan DIY. Kita akhirnya membawakan lakon ketoprak dengan ‘Lambang Sari Edan’,” katanya.
Menurut Wartilah, warga sebenarnya berniat membawakan lakon ‘Mula Bukaning Dusun Kasuran’ yang menceritakan kisah Sunan Kalijaga. Mereka bahkan sudah berlatih selama beberapa hari.
Namun, menurut Wartilah sesaat sebelum pentas pelatih dan ketua ketoprak di sini dapat wisik berupa mimpi berturut-turut. Wisik itu meminta agar tidak membawakan lakon tersebut.
“Setelah kita diskusikan, akhirnya kita sepakat untuk tidak membawakan lakon mengenai asal-usul dusun Kasuran itu demi kebaikan bersama,” pungkasnya.