Tokoh Masyarakat Dusun Dowaluh Apresiasi Program Mulia Yayasan Damandiri

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA, Cendana News – Keberadaan program Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML) yang dijalankan Yayasan Damandiri di Desa Trirenggo Bantul, sejak 5 tahun terakhir, diakui mampu memberikan manfaat nyata bagi warga sekitar.

Salah satu contoh program pemberdayaan tersebut adalah pemberian akses modal usaha pada warga miskin/kurang mampu. Dimana program ini selama ini dijalankan Yayasan Damandiri melalui unit ‘Modal Kita’ Koperasi Gemah Ripah Trirenggo.

Hal tersebut diungkapkan salah seorang tokoh masyarakat di wilayah Padukuhan Dowaluh, desa Trirenggo, yang juga merupakan ketua Kelompok Unit “Modal Kita” Maju Lancar, Saptono, kepada Cendananews.

Menurut Saptono, sejak adanya program pinjaman modal usaha dari Yayasan Damandiri tersebut, warga di dusunnya kini tak perlu lagi mengandalkan pinjaman pada rentenir. Selain itu warga juga bisa mulai merintis usaha kecil-kecilan dengan memanfaatkan pinjaman modal koperasi.

“Sejak awal, program pinjaman modal usaha dari Yayasan Damandiri ini saya lihat tujuannya sangat mulia. Yakni untuk membantu warga miskin dalam merintis usaha. Tentu kita masyarakat Dowaluh sangat mengapresiasi upaya Yayasan Damandiri ini,” katanya.

Dijelaskan Saptono, di wilayah padukuhan Dowaluh sendiri terdapat sedikitnya 2 kelompok unit “Modal Kita” yang berisi masing-masing sebanyak 80-an anggota. Biasanya dalam satu kelompok unit Modal Kita itu, terbagi lagi dalam 5-6 sub kelompok yang berisi sebanyak 10-15 anggota.

“Jadi di satu wilayah padukuhan Dowaluh ini saja, ada sekitar 100an lebih warga miskin/kurang mampu, yang telah merasakan manfaat program pinjaman modal usaha dari Koperasi Yayasan Damandiri. Walaupun masing-masing hanya mendapat pinjaman modal sebesar 2-3 juta rupiah,” ungkapnya.

Sebelum masa pandemi, pencairan modal usaha di satu kelompok unit Modal Kita padukuhan Dowaluh tercatat memiliki jumlah cukup besar, yakni mencapai Rp180 juta per tahun. Sementara perputaran uang koperasi di tingkat dusun diperkirakan mencapai sekitar Rp20 juta setiap bulannya.

“Namun adanya pandemi memberikan dampak luar biasa. Banyak usaha warga yang gulung tikar. Sehingga saat ini perputaran modal kelompok kita menurun 50 persen menjadi hanya sekitar Rp10 juta per bulan saja. Ini akibat banyaknya anggota yang mengalami kredit macet,” ungkapnya.

Meski tercatat mengalami penurunan akibat pandemi, namun Saptono menilai, keberadaan program pinjaman modal usaha Koperasi Yayasan Damandiri yang didirikan Presiden HM Soeharti ini telah mampu melahirkan pelaku-pelaku usaha baru di dusunnya.

Sejumlah pelaku usaha mikro yang tetap eksis dan bertahan melewati pandemi inilah, yang diharapkan bisa terus berkembang. Dan mampu berkontribusi dalam menggerakkam perekonomian dusun, sebagaimana tujuan awal program DCML yang diinisiasi Yayasan Damandiri.

Lihat juga...