Teknologi Proliga Lipatgandakan Hasil Panen Cabai
Admin
JAKARTA, Cendana News – Teknologi produksi lipat ganda (Proliga) hasil pengembangan Balitbangtan diklaim mampu melipatgandakan hasil produksi cabai.
Teknologi Proliga merupakan paket teknologi untuk meningkatkan produktivitas tanaman cabai menjadi lebih dari 20 ton per hektare.
Jumlah produksi cabai dengan teknologi Proliga itu dua kali lebih tinggi dari rata-rata produktivitas nasional yang berkisar di bawah 10,2 ton per hektare.
Peneliti Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Ir Wiwin Setiawati MS, menjelaskan terkait teknologi Proliga tersebut.
Menurut Wiwin, teknologi Proliga merupakan sinergi antara lima komponen teknologi.
Mulai dari pemilihan varietas unggul, pesemaian sehat, penambahan populasi tanaman, dan pengolahan lahan dan pemupukan.
“Juga pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT),” jelas Wiwin dikutip dari laman litbangpertanian, Senin (11/4/2022).
Wiwin menekankan, komponen varietas unggul merupakan faktor penting dalam meningkatkan produktivitas tanaman cabai.
Selain potensi hasil cukup tinggi, varietas unggul juga tahan terhadap OPT. Toleran genangan dan musim hujan, serta mampu beradaptasi di musim kemarau.
Pemilihan varietas cabai juga sesuai permintaan pasar. Antara lain dari aspek rasa, warna, penampakan, dan ukuran, serta kecocokan kondisi ekosistem atau lahan.
Sementara itu, Abdul Manan, petani pengguna teknologi Proliga di Sukabumi, Jawa Barat, mengakui keunggulan Proliga.
Abdul Manan menerapkan teknologi proliga di lahan bekas demplot seluas 1,25 hektare untuk pertanaman cabai rawit, cabai merah, dan cabai keriting.
Dia menanam 20.000 batang pohon cabai rawit di lahan tersebut, dengan jarak tanam 50 x 50 meter.
Dengan populasi tersebut, tanaman cabai bisa tumbuh baik dengan penyemprotan dan pemupukan yang benar.
Menurut Abdul, penerapan teknologi proliga membuat produktivitas tanaman cabai meningkat. Dan, mengurangi biaya produksi.
Dia mengatakan, rata-rata produksi per pohon cabai sekitar 3 ons, 4 ons, atau setengah kilogram.
Sementara dengan teknologi Proliga, per pohon bisa menghasilkan 1 kilogram cabai.
“Jadi, produktivitas meningkat mencapai 20 ton per hektare,” kata Abdul.
Kemudian, biaya produksi juga menurun. Karena, teknologi Proliga memungkinkan penggunaan pupuk dan pestisida secara efisien.
Abdul mencontohkan, untuk penggunaan pupuk kandang lebih irit, namun hasil lebih maksimal.
Cukup 20 ton pupuk kandang per hektare, dari umumnya sebanyak 30 ton per hektare. Dengan 20 ton pupuk itu tanaman bisa produksi maksimal.
Menurut Abdul, perbedaan mendasar dari penerapan Proliga ini adalah teknik pembuangan pucuk utama sejak di persemaian, istilahnya pinching.
“Itu nanti seolah-olah kita tanam dua pohon, karena dari tunas air pohon cabai tumbuh dua cabang,” katanya.
Selain itu, pada saat pesemaian juga menggunakan greenhouse, sehingga kualitas benih terjaga.
Kemudian, perbedaan lain adalah waktu penyemprotan pestisida dilakukan sore hari. Dan, metode pemupukan susulan secara kocor.
“Metode tersebut membuat pertumbuhan tanaman lebih cepat. Karena, pemberian nutrisinya bisa tepat,” kata Abdul.