Indonesia dorong pemanfaatan teknologi antariksa untuk ekonomi digital
Admin
JAKARTA, Cendana News – 20 kepala badan antariksa dari negara-negara kelompok G20 dan para mitra berkolaborasi membangun sektor keantariksaan berbasis ekonomi dan lingkungan.
Indonesia selaku tuan rumah G20 pun mendorong diperkuatnya pemanfaatan teknologi antariksa untuk pemulihan dan pertumbuhan ekonomi melalui ekonomi digital, dan ekonomi biru-hijau.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Robertus Heru Triharjanto, menyatakan hal itu sebagaimana dikutip dari laman indonesia.go.id, Jumat (4/11/202).
Dia mengatakan, bahwa para pemimpin lembaga antariksa dari negara-negara Kelompok 20 (G20) setuju teknologi keantariksaan pada masa sekarang merupakan penggerak ekonomi.
Pemanfaatannya untuk memberi akses adil dari pengembangan dunia digital bagi semua lapisan masyarakat. Hal ini supaya tidak ada satu pun tertinggal untuk mengakses informasi secara digital.
Pada ekonomi biru, teknologi keantariksaan bisa dioptimalkan dalam membangun ekonomi berbasis maritim. Dan, menjaga serta memelihara laut dari pencemaran.
Selain itu pula mencegah eksploitasi laut berlebihan seperti penangkapan ikan secara ilegal.
Sedangkan pada ekonomi hijau, didorong untuk menjaga kebelanjutan kehidupan di muka bumi dan ruang angkasa.
Pemanfaatan ruang antariksa harus dilakukan secara bertanggung jawab dan untuk tujuan damai bagi manusia.
Space20 bisa dipakai sebagai etalase semua pihak untuk mencegah dampak buruk dari perubahan iklim.
Misalnya, satelit dalam teknologi keantariksaan bisa untuk memantau dinamika laut yang berpotensi mempengaruhi cuaca.
Atau, kenaikan muka air laut sebagai indikator pemanasan global.
Teknologi keantariksaan bisa pula untuk memantau kekeringan dan sebagai peringatan dini untuk melacak efek rumah kaca dan polusi udara.
Turut membantu memantau penebangan hutan ilegal, serta menghitung luas tutupan lahan atau hutan.
Sehingga, Indonesia mendorong terjalinnya kerja sama dengan swasta untuk semakin bergairah berinvestasi di sektor keantariksaan.
Utamanya, berkolaborasi dalam penginderaan jarak jauh karena pemerintah sudah berinvestasi di dalamnya.
Robertus beralasan, bahwa teknologi keantariksaan tidak lagi menjadi ranah negara, Namun juga menjadi wilayah swasta karena ada dampak ekonominya.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menyampaikan semua itu dalam pertemuan 3rd Space Economy Leaders Meeting atau Space20 di Jakarta, pekan lalu.
Pertemuan tersebut merupakan lanjutan dari dua pertemuan sebelumnya pada 2020 di Arab Saudi dan 2021 di Italia.