Ribuan Kasus TBC, Kemenkes Akan Skrining Besar-besaran
Admin
JAKARTA, cendananews.com – Penyakit tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan yang menjadi perhatian global.
Sementara itu di Indonesia, jumlah penderita TBC terus meningkat setiap tahunnya.
Ironisnya, cakupan pengobatan TBC secara nasional menurun dari 67 persen di tahun 2019, menjadi 42 persen di tahun 2020.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, menyatakan hal tersebut tidak lepas dari adanya pandemi Covid1-19.
Pandemi menyebabkan penanggulangan penyakit TBC berbasis masyarakat mengalami hambatan signifikan.
Data terbaru dari Global WHO tahun 2021 ada sekitar 9,9 juta penderita TBC di dunia. Jumlah tersebut termasuk penderita yang ada di Indonesia.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes RI, Dr drh Didik Budiyanto, Mkes menyampaikan hal itu dalam siaran daring kanal YouTube Kemenkes RI.
Didik juga mengatakan, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam jumlah kasus TBC setelah India dan China.
Adapun jumlah kasus TBC di Indonesia tahun 2021 mencapai 824.000 kasus, dengan jumlah kematian 93.000 per tahun.
“Itu setara dengan 11 kematian per jam,” kata Didik.
Didik mengungkapkan, bahwa 91 persen kasus TBC di Indonesia tersebut adalah TBC paru.
Hal itu menurutnya berpotensi menularkan kepada orang yang sehat di sekitarnya.
“Satu kasus TBC ini bisa menularkan kepada 15 orang di sekitarnya,” kata Didik.
Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi, menurut dia dari estimasi 824.000 pasien TBC di Indonesia itu baru 49 persen yang ditemukan dan diobati.
Sehingga, masih ada 500an ribu orang dengan TBC yang belum terobati dan berisiko menjadi sumber penularan.
Didik mengatakan, upaya penemuan kasus sedini mungkin dan pengobatan secara tuntas, menjadi upaya penting dalam memutuskan penularan TBC.
Untuk itu, Didik mengatakan Kemenkes RI akan melakukan skrining TBC terhadap 500an ribu kasus yang belum ditemukan tersebut.
Skrining dengan peralatan X-Ray Artificial Intelligence untuk memberikan hasil diagnosis TBC yang lebih cepat dan efisien.
”Kami merencanakan skrining besar-besaran yang transformasional, dengan memanfaatkan peralatan X-Ray Artificial Intelligence” kata Didik.