Praktisi Pertanian Urban: Berkebun Sistem Hidroponik Harus Dimasifkan
Editor: Makmun Hidayat
BANDUNG — Ketahanan pangan menjadi isu yang sangat krusial saat ini. Sedikitnya ada tiga masalah yang menjadi pemicu terjadinya kelangkaan pangan di masa mendatang. Lahan yang semakin sempit, alih fungsi lahan pertanian, serta pertumbuhan penduduk yang semakin pesat.
Teguh Gumilang, seorang praktisi pertanian urban sekaligus pendiri Akademi Hidroponik, mengatakan, saat ini setiap keluarga harus mulai berusaha menciptakan ketahanan pangannya sendiri atau mengurangi ketergantungan terhadap bahan pangan dari luar.
“Kita bisa lihat bagaimana lahan-lahan pertanian telah beralih fungsi menjadi lahan bangunan dan perumahan. Kita juga sudah mendengar hasil riset Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut di tahun 2035 jumlah penduduk dunia mencapai 10 miliar jiwa. Hal-hal ini tentu sangat mempengaruhi ketersediaan pangan kita di masa depan,” jelas Teguh dalam webinar bertajuk Sustainability Bootcamp 2021, Senin (20/9/2021).
Teguh mengungkapkan, peluang menciptakan ketahanan pangan di tingkat keluarga sudah sangat terbuka, dengan semakin bervariasinya sistem pertanian, seperti sistem hidroponik, yang bisa dilakukan di lahan terbatas, dan dijalankan secara praktis.
“Jadi berkebun dengan sistem hidroponik harus mulai dimasifkan dari sekarang. Orang banyak keliru, sebetulnya hidroponik itu adalah sistemnya, caranya sendiri macam-macam, mulai dari menggunakan sumbu, rakit apung, NFT, DFT, drip atau irigasi tetes, dan cara aeroponik,” kata Teguh.
Menurut Teguh, saat ini berkebun dengan sistem hidroponik sudah cukup berkembang, khususnya di wilayah perkotaan, namun lanjut Teguh, tidak sedikit orang yang keliru mengaplikasikannya.
“Saya perlu ingatkan, bahwa dalam berhidroponik kita harus memperhatikan enam hal. Pertama kualitas air, karena kan kita tidak menggunakan tanah. Kedua, kualitas benih. Ketiga, bahan yang dipakai. Keempat, cara yang kita gunakan seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Kelima, jenis tanamannya. Dan keenam kondisi lingkungan kita,” papar Teguh.
“Kita harus perhatikan hal-hal tersebut sebelum berhidroponik, agar nantinya kita bisa menghasilkan tanaman yang baik dan maksimal,” sambungnya.
Di forum yang sama, Rahma Renata, seorang praktisi hidroponik juga menyampaikan, bahwa tidak jarang sebagian tanaman hidroponik mengalami masalah seperti layu, bahkan mati. Menurutnya, hal tersebut bisa diakibatkan oleh tidak seimbangnya perlakuan terhadap tanaman.
“Misal yang menggunakan sistem hidroponik DFT atau paralon, coba cek bisa jadi paralonnya ada kemiringan, sehingga ada tanaman yang tidak lama menyimpan air terlalu lama. Atau bisa pula mengecek suhunya, atau juga ada tanaman yang tergenang air lebih banyak. Ini yang banyak terjadi,” kata Rahma.
Lebih lanjut, Rahma menilai, berhidroponik merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Ia pun menyebut, jika seseorang tidak merasakan kesenangan dalam berhidroponik, maka sejatinya ia tidak sedang berhidroponik.
“Saya sudah 5 tahun berhidroponik, dan saya selalu merasa seperti berwisata saat mengunjungi kebun. Ini bukan hanya saya yang merasakannya, tapi semua orang yang saya jumpai mengatakan hal yang sama. Jadi ayo kita mulai berhidroponik,” pungkas Rahma.