Update COVID-19, 19 Agustus 2021: Kematian Meningkat Jadi 1.492

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Setelah beberapa hari menunjukkan tren menurun, kasus kematian harian Indonesia kembali meningkat pada 19 Agustus 2021, yaitu 1.492, jauh meningkat dari angka pada 18 Agustus, yaitu 1.128. Angka ini menjadikan total kasus kematian menjadi 122.633 atau 3,120 persen dari total keseluruhan kasus, yaitu 3.930.300.

Sementara angka kesembuhan berada pada 29.012 menurun sedikit dibandingkan angka kemarin, 29.794 kasus, menjadikan total kasus sembuh menjadi 3.472.915 atau 88,362 persen dari keseluruhan kasus.

Tercatat sepuluh besar provinsi yang memiliki angka kematian terbesar harian adalah Provinsi Jawa Tengah 388 jiwa, Provinsi Jawa Barat dengan 239 jiwa, Jawa Timur 223, Lampung 90, Kalimantan Timur 71, Bali 62, DI Yogyakarta 57, Sumatera Utara dan DKI Jakarta mencatatkan angka 34, Kalimantan Selatan 29 dan Riau 28.

Sementara untuk jumlah kasus baru harian, untuk sepuluh besar dicatatkan secara berurut oleh Jawa Barat 3.266 kasus, Jawa Timur 3.019, Jawa Tengah 1.428, DI Yogyakarta 1.175, Sumatera Utara 1.129, Kalimantan Timur 1.100, Bali 1.032, Sulawesi Selatan 892, Riau 835 dan Sulawesi Tengah 833.

Pada 19 Agustus 2021, pukul 09.54 GMT, Worldometer melaporkan jumlah kasus menjadi 210.214.749 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 4.407.236 dan kasus sembuh 188.308.506. Posisi Indonesia adalah 13 di seluruh dunia dan menempati posisi ke-4 di Asia.

Walaupun angka kematian dalam beberapa hari ini menunjukkan penurunan, tak boleh menjadikan kewaspadaan masyarakat pada COVID-19 menurun. Karena, terbukti hari ini kembali meningkat.

Epidemiolog, Dicky Budiman, menyatakan, selama kasus harian masih menunjukkan angka tinggi, di atas 1.000, maka masih perlu penerapan protokol kesehatan secara ketat.

Epidemiolog, Dicky Budiman, dalam salah satu acara kesehatan, Kamis (12/8/2021) lalu – Foto: Ranny Supusepa

“Masyarakat harus tetap menerapkan 5M, yakni mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Jangan karena merasa sudah mulai turun, malah lalai. Atau karena merasa sudah vaksinasi, melalaikan protokol kesehatan,” kata Dicky, Kamis (19/8/2021).

Ia juga menyatakan pemerintah harus terus mengoptimalkan 3T, pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment) dan secara masif mempercepat program vaksinasi.

“Karena untuk menekan kasus COVID-19, hanya tiga cara itu yang bisa. Walaupun memang Indonesia memiliki keterbatasan SDM, sistem kesehatan, sistem sosial maupun faktor ekonomi hingga geografis, tetap harus dilakukan seoptimal mungkin,” pungkasnya.

Lihat juga...