Sejumlah Rumah Isolasi Terpusat di Kota Semarang Mulai Ditutup

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Sebaran angka Covid-19 di Kota Semarang menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang per Jumat (6/8/2021), ada 817 pasien covid-19 yang dirawat di rumah sakit, dengan 307 di antaranya merupakan pasien luar kota.

“Kalau kita lihat data sekarang ini, tren Covid-19 di Kota Semarang sudah menunjukkan penurunan yang signifikan. Kita ketahui pada Juli 2021 lalu, kita sampai menyentuh angka 2.300an kasus,” papar Kepala DKK Semarang, Abdul Hakam, saat dihubungi di Semarang, Jumat (6/8/2021).

Penurunan angka baru Covid-19 tersebut, juga berdampak pada tingkat keterisian rawat inap rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR), yang terus menurun. Termasuk juga pada rumah isolasi terpusat.

“Saat ini, dengan turunnya angka Covid-19, kita juga sudah menutup sejumlah tempat isolasi terpusat yang sebelumnya kita fungsikan, yakni di asrama mahasiswa UIN Walisongo, kemudian Wonolopo Gunungpati dan Gedung Islamic Center. Ketiganya sudah kita tutup,” terangnya.

Kepala DKK Semarang, Abdul Hakam, saat dihubungi di Semarang, Jumat (6/8/2021). -Foto: Arixc Ardana

Sementara untuk tempat isolasi terpusat yang masih difungsikan, yakni di gedung LPMP Srondol Semarang dengan kapasitas 200 tempat tidur, rumah Dinas Walikota dengan 200 tempat tidur, gedung diklat Kota Semarang berkapasitas 100 tempat tidur, serta Miracle Healing Center (MHC) dengan 100 tempat tidur.

“Tempat isolasi terpusat masih tetap ada, hanya saja jumlahnya sudah kita kurangi. Saat ini, ada 600 tempat tidur, dari sebelumnya sekitar 1.000 tempat tidur,” tandasnya.

Di lain sisi, penurunan jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit juga berdampak pada menurunnya kebutuhan oksigen di Kota Semarang.

“Sebelumnya, pada Juli 2021 lalu kebutuhan oksigen di seluruh rumah sakit, puskesmas dan mobil Ambulans Hebat yang ada di Kota Semarang mencapai 42 ton. Sekarang sudah turun hingga 60 persen, rata-rata kebutuhan oksigen per hari di angka 17 ton,” terangnya.

Hal tersebut juga berimbas pada ketersediaan stok oksigen di kalangan masyarakat. Warga yang membutuhkan oksigen saat ini relatif lebih mudah mendapatkannya, terutama untuk isi ulang atau pun tabung oksigen, dibandingkan pada bulan Juli 2021 lalu.

“Sekarang ini, meski masih mengantre untuk isi ulang, namun sudah tidak seperti bulan lalu. Stok juga ada, demikian juga dengan harga, untuk ukuran 1 meter kubik saya bayar Rp70 ribu untuk isi ulang,” papar Muji Astuti, warga Genuksari Semarang, saat ditemui di sela mengantre isi ulang oksigen gratis di Balai Kota Semarang, Jumat (6/8/2021).

Terpisah, pengelola tempat isolasi terpusat Wonolopo, Chanif NS, menuturkan saat ini tempat isolasi tersebut sudah kembali difungsikan sebagai laboratorium Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus).

“Sebelumnya tempat isolasi terpusat Wonolopo ini merupakan laboratorium Kesehatan Masyarakat Unimus, yang kita ubah sebagai tempat isolasi. Ini menjadi bagian dari komitmen kita untuk membantu Pemkot Semarang, dalam menghadapi lonjakan kasus covid-19,” tandasnya.

Lihat juga...