Penuhi Kebutuhan Daging, Penajam Kembangkan Sapi Potong
PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim), terus berkonsentrasi mengembangkan ternak sapi potong. Hal itu dilakukan, untuk memenuhi kebutuhan lokal.
Saat ini, kebutuhan daging baru tercukupi 30 persen dari peternak setempat. “Tantangan pemenuhan kebutuhan daging diupayakan bersama antara pemerintah, peternak, pelaku usaha, swasta, akademisi, dan lembaga peneliti,” ujar Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten PPU, Arief Murdiyatno, di Penajam, Minggu (15/8/2021).
Untuk komoditas utama, hal yang didorong saat ini adalah komoditas sapi potong. Hal itu sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No.472/Kpts/RC.040/6/2018, tentang Lokasi Kawasan Pertanian Nasional.
Berdasarkan Kepmentan tersebut, Kabupaten PPU menjadi salah satu daerah yang ditunjuk sebagai kawasan pengembangan sapi potong di Provinsi Kaltim. Sehingga kegiatan prioritasnya adalah menumbuhkan target budi daya, guna meningkatkan populasi sapi secara signifikan. “Program unggulan yang telah berjalan dalam upaya ini adalah Sikomandan (Sapi dan Kerbau Komoditas Andalan Negeri). Sikomandan merupakan program lanjutan dari Program Siwab (Sapi Indukan Wajib Bunting),” ungkap Arief.
Melalui program Sikomandan, dilakukan optimalisasi reproduksi ternak dengan kawin alam maupun inseminasi buatan. Dengan target yang diharapkan, peningkatan kelahiran. Kemudian intensifikasi kelahiran dengan upaya menangani gangguan reproduksi ternak, sehingga induk dapat berproduksi atau melahirkan pedet, ditambah program inovasi perawatan induk bunting dan anak umur dua bulan agar kematian induk maupun pedetnya menurun.
Hal lain yang dilakukan adalah optimalisasi pakan ternak berkualitas, dengan meningkatkan penanaman hijauan pakan ternak unggul di lahan peternak seperti king grass, odotan, pakchong, indigofera dan leguminosa. “Selain meningkatkan hijauan pakan ternak, upaya lain yang kami lakukan adalah memanfaatkan limbah pertanian seperti jerami, limbah hortikultura, dan limbah perkebunan seperti bungkil sawit dan lainnya,” jelas Arief. (Ant)