Gedung Kepanduan Eks Kantor Rotterdam Lloyd, Potret Sejarah Kemaritiman Indonesia

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Indonesia dikenal sebagai negara maritim yang sarat dengan sejarah dan budaya dalam perkembangannya. Salah satunya Gedung Kepanduan Eks Kantor Rotterdam Lloyd yang menyimpan banyak sejarah kemaritiman yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.

Kepala Museum Maritim, Tinia Budiati mengatakan, pemahaman budaya dan sejarah kemaritiman harus dikenalkan kepada generasi muda. Apalagi, Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki banyak pelabuhan, dermaga dan fasilitas bangunan pendukung kegiatan kemaritiman. Bangunan atau sarana pendukung itu bukan hanya dibangun pada masa kini, tapi sejak zaman dulu, yakni, di masa kolonial Belanda .

“Banyak kerajaan yang hidup dengan budaya maritim dan sejarah dalam penguasaan wilayah di Indonesia. Bangsa asing juga banyak bermuatan kekuatan maritim,” ujar Tania, dalam acara virtual kemaritiman di Jakarta yang diikuti Cendana News, Minggu (25/7/2021).

Dia menjelaskan, perjalanan waktu telah memperlihatkan sejumlah bukti sejarah dari peninggalan budaya kemaritiman yang berlangsung di negara Indonesia. Terlihat dari peta perpolitikan, penguasaan, dan peta perekonomian pada masa lalu, sangatlah erat kaitannya dengan kemaritiman. Berbagai peninggalan itu memberikan informasi penting bagi perjalanan dan peta kemaritiman pada masa datang.

“Jadi, tidak hanya dari literatur-literatur mengenai sejarah, tapi juga pengenalan terhadap berbagai peninggalan budaya dari aktivitas kemaritiman masa lalu,” imbuhnya.

Bukti kejayaan maritim dan strategi kemaritiman memperkaya era kepelabuhan baru. Yakni salah satunya, kata Tania adalah Gedung Kepanduan Eks Kantor Rotterdam Lloyd yang berada di terminal 2 Tanjung Priuk, Jakarta Utara.

“Bangunan sejarah ini dulunya adalah kantor operasi kapal di pelabuhan Tanjung Priok milik swasta dari Belanda pada tahun 1930 sampai 1950,” jelasnya.

Rotterdam Lloyd dikenal memiliki kapal-kapal mewah yang populer pada masa tahun 1930-1950. Dengan kapal-kapal mewah itu menjadikan padatnya aktivitas pemandu ketika
pelabuhan Tanjung Priok dibangun pada akhir abad ke-18 Masehi.

“Aktivitas pemandu padat, karena saat itu banyak kapal uap besar dengan lalu lintas yang sangat ramai. Apalagi setelah dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869,” tukasnya.

Tim Museum Maritim, Andi menambahkan, gedung kepanduan ini merupakan perjalanan sejarah bangsa dari dibangunnya pelabuhan Tanjung Priok. Sebagai bukti sejarah itu, terlihat adanya barang-barang antik berupa keramik kuno yang usianya mencapai puluhan dan ratusan tahun.

“Bangunan depan gedung ini masih dipertahankan keasliannya, tapi di bagian belakangnya sudah difungsikan sebagai lapangan untuk berbagai kebutuhan pelabuhan,” ujar Andi.

Sedangkan di bagian depan gedung, tambah dia, terparkir kapal pandu siap siaga. Sehingga ketika kapal besar datang untuk berbagai keperluan, kapal pandu siap menghampiri. Semua kapal-kapal pandu siaga yang terparkir di depan Gedung Kepanduan Eks Kantor Rotterdam Lloyd, masih terawat dengan baik.

Di bagian depan gedung itu terdapat sebuah prasasti peringatan hari jadi ke 100 Pelabuhan Tanjung Priuk. Pelabuhan yang berada di Jakarta Utara ini, dibangun pada tahun 1877 dan selesai pada1986.

ki-ka: Tim Museum Maritim, Andi dan Kepala Museum Maritim Tinia Budiati saat menjelaskan sejarah budaya kemaritiman Gedung Kepanduan Eks Kantor Rotterdam Lloyd pada acara virtual kemaritiman, yang diikuti Cendana News, Minggu (25/7/2021). foto: Sri Sugiarti.

Kemudian pemerintah Hindia Belanda mengembangkan kawasan Tanjung Priok sebagai pelabuhan baru Batavia pada akhir abad ke-19 Masehi untuk menggantikan Pelabuhan Sunda Kelapa yang berada di sebelah baratnya.

Pembangunan pelabuhan baru dimulai oleh Gubernur Jenderal Johan Wilhelm van Lansberge pada tahun 1875 dan selesai pada 1881. Bahkan kata Andi, bentuk Gedung Kepanduan juga mirip dengan atap lobi depan Museum Maritim.

“Pelabuhan Sunda Kelapa dipandang terlalu sempit untuk menampung peningkatan lalu lintas perdagangan yang terjadi akibat pembukaan Terusan Suez. Jadi dikembangkanlah kawasan pelabuhan Tanjung Priuk sebagai pelabuhan baru untuk memperluas fungsi kemaritiman,” pungkasnya.

Lihat juga...