Bambu dan Kayu Solusi Efisiensi di Tengah Menjamurnya Ajir Besi
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LAMPUNG — Pemanfatan plant stake atau ajir pabrikan terbuat dari besi mulai banyak dimanfaatkan petani Lampung Selatan. Hal tersebut dikarenakan memiliki daya tahan kuat berbahan besi, pelapis plastik polyolefin dominan warna hijau.
Wiyono, petani hortikultura penanam timun, kacang panjang di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, mencoba plant stake atau ajir besi sejak dua tahun silam. Harga per batang mencapai Rp7.000 hingga Rp10.000 menyesuaikan ukuran. Ukuran tersedia mulai 11 mm x 75 cm hingga 11 mm hingga 210 cm.
“Kendala bagi petani harganya masih kurang bersahabat, membeli sebanyak seratus ajir saja bisa menghabiskan biaya ratusan ribu,” terang Wiyono saat ditemui Cendana News di kebunnya, Senin (5/7/2021).
Wiyono membeli sekitar 100 ajir besi untuk menanam timun dan kacang panjang. Kombinasi pemakaian ajir bambu dan kayu menjadi alternatif memperkuat rambatan. Jenis tanaman ekonomis tinggi sistem budidaya hidroponik berupa melon golden lebih cocok karena mempertimbangkan biaya.
Perbandingan biaya pembelian ajir besi dan bambu serta kayu bisa mencapai ratusan ribu. Meski demikian ia menyebut ajir besi bisa dicuci, dibersihkan serta disimpan karena memiliki tingkat keawaetan tinggi. Penggunaan untuk pertanian ekstensif memakai rumah plastik, hidroponik dengan produk pertanian bernilai ekonomi tinggi jadi solusi.
“Jenis paprika, melon golden dan komoditas sayuran yang bernilai jual tinggi bisa menutup biaya produksi pembelian ajir besi,”ulasnya.
Eko Prapto., petani sayuran di Desa Bakauheni mengaku juga pernah memakai ajir besi. Penggunaan hanya digunakan sebagai penyangga tanaman sayur kacang panjang di halaman rumah. Meski demikian ia menyebut dominan memakai ajir dari ranting tanaman dan bambu.
“Pernah memakai ajir besi, tapi bagi petani tradisional harga belum terjangkau sehingga masih memakai kayu dan bambu,”ulasnya.
Efisiensi pemakaian ajir bambu dan kayu sebutnya bisa menekan biaya. Ia bahkan hanya mengeluarkan biaya modal bensin untuk mengangkut ajir ke kebun.
Suyatin, petani melon dan cabai di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut bisa memakai sebanyak 5.000 hingga 7.000 ajir. Penggunaan ajir bambu dibanding ajir besi lebih murah dan masih bisa menopang tanaman. Meski demikian ia menyebut daya tahan ajir bambu bertahan tiga hingga empat kali masa tanam.
“Satu kali masa tanam bisa mencapai empat bulan, bisa digunakan lagi meski perlu dilakukan penggantian,” ulasnya.
Ajir bambu dibeli seharga Rp500 atau modal sebanyak 5000 ajir dikeluarkan biaya Rp2,5juta. Jumlah tersebut lebih murah dibanding memakai ajir besi mencapai puluhan juta.
Petani timun di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Samadi dan Sukirman memilih memakai ajir bambu meski ajir besi yang mulai banyak digunakan petani.
“Ajir besi masih bisa efisien dipakai pada lahan terbatas, tapi untuk skala besar modal kami belum cukup,” ulasnya.

Sukirman, petani lainnya mengaku ajir bambu bisa disediakan dari hasil kebun. Alat perambat tanaman jenis bambu sebutnya bisa diganti saat mulai lapuk. Proses penggantian ajir bambu dikombinasikan dengan tali bambu bisa memperkuat rambatan tanaman. Selain efesien pemakaian ajir bambu menjadi sarana produksi ramah lingkungan. Sebab ajir bambu yang lapuk bisa terurai dengan cara dibakar.