SUARA azan Subuh yang bersahutan dari beberapa masjid baru saja berlalu, ketika pintu rumah bagian depan diketuk keras berkali-kali.
“Lik, ibu ngamuk lagi…,” teriak Nurmala terengah-engah.
“Di mana dia sekarang?”
“Tadi berlari keluar rumah, menuju ke jalan…”
Aku yang hanya memakai kaos singlet dan celana pendek bergegas mengikuti langkah Nurmala. Bulan sabit terlihat masih menggantung di langit. Udara pagi musim kemarau ini benar-benar menusuk tulang.
“Masya Allah, Yu Sri…” aku berlari menghampiri kakak perempuanku itu. Dengan susah payah kutangkap tubuhnya, kucegah tangannya yang ingin melucuti pakaian tidur yang melekat pada tubuhnya.
Ia meronta-ronta sambil berteriak keras, mengeluarkan sumpah serapah tak karuan. Tangis Nurmala pun ikut memecah pagi. Orang-orang yang akan pergi Salat Subuh ke masjid berdatangan, ikut membantuku membawa kembali Yu Sri ke rumah.
“Sebaiknya, kalau mbakyu panjenengan sudah benar-benar tenang, nanti dibawa ke psikiater atau semacamnya saja, Nak Hasan. Biar bisa ditangani dengan benar. Kami warga kampung juga tidak akan was-was lagi…” kata Kaji Daud, takmir masjid dekat rumah memberi saran. Aku mengangguk pelan.
****
SEMENJAK bapak dan ibu tiada, ditambah lagi dengan kepergian suaminya merantau ke negeri seberang yang lambat laun tiada berkabar, perilaku Yu Sri menjadi berbeda.
Ia lebih banyak diam dan melamun, walaupun masih beraktivitas seperti biasa. Setiap pagi, Yu Sri berjualan bubur sumsum di pasar kecil dekat rumah sebagai mata pencaharian untuk membesarkan kedua anaknya, Nurmala dan Asnan yang mulai beranjak besar.
Dulu, Yu Sri adalah kesayangan bapak dan ibu. Anak tertua yang pintar dan cantik. Aku tidak mengira, bapak dan ibu akan pergi secepat itu.
Memang, dari dulu bapak sering sakit-sakitan. Tetapi tentang ibu yang pergi mendahului bapak, sungguh mengagetkan orang-orang di sekitarnya.
Kata tetangga, ibu terlalu lelah merawat bapak. Tak berapa lama kemudian, bapak menyusul ibu juga, pergi untuk selamanya.
Lengkap sudah derita kehilangan yang dialami Yu Sri, karena di saat bapak dan ibu berpulang secara berurutan, suaminya tak ada di sisinya pula.
Keputusan Kang Agus untuk merantau mencari penghasilan yang lebih baik ke negeri seberang, sungguh aku sesalkan. Aku ingat betul bagaimana Kang Agus dan Yu Sri berjuang begitu rupa untuk meyakinkan bapak dan ibu agar bisa bersatu dalam biduk rumah tangga.
Awalnya bapak dan ibu tidak menyetujui hubungan mereka. Bapak dan ibu ingin Yu Sri sekolah yang tinggi dan bisa memperoleh pekerjaan yang baik, baru kemudian menikah.
Bapak dan ibu juga sudah berencana menjodohkan kakak perempuanku itu dengan salah satu anak orang terpandang di daerah ini. Namun kenyataan berkata lain, keteguhan hati Yu Sri yang tak mau berpisah dengan Kang Agus akhirnya membuat bapak dan ibu menyerah juga.
Yu Sri dan Kang Agus akhirnya menikah dan tinggal satu rumah dengan bapak dan ibu. Sedangkan aku yang kemudian menikah juga, membangun rumah sendiri di pekarangan bagian belakang. Kang Agus yang belum memiliki pekerjaan tetap, selalu menjadi rasanan bapak dan ibu.
Apalagi setelah dua anaknya lahir dan kebutuhan keluarganya banyak ditopang oleh bapak dan ibu. Suasana tak nyaman itulah yang membuat Kang Agus memutuskan merantau saat anak-anaknya masih kecil.
Namun entah apa yang terjadi di rantau, hanya di tahun-tahun awal saja Kang Agus berkirim uang dan kabar kepada keluarganya. Tahun-tahun berikutnya, hanyalah menyisakan tanda tanya dan kecemasan bagi yang ditinggalkan.
Aku yang kebetulan memiliki rejeki lebih, menjadi guru negeri di sebuah sebuah sekolah dasar, ikut membantu keuangan Yu Sri sehari-hari. Seiring berjalannya waktu, anak-anaknya mulai melupakan bahwa sebenarnya mereka memiliki seorang ayah.
Hanya Yu Sri yang masih terus menjaga kesetiaannya sebagai seorang istri. Banyak lelaki berusaha mendekatinya, namun tiada satu pun yang ia tanggapi.
Pikiran Yu Sri sering menerawang jauh. Mengingat masa-masa penuh bahagia dengan suaminya. Juga kenangan manis waktu kecil, ketika menjadi kesayangan bapak dan ibu. Setiap orang yang diajaknya bicara, tentu akan trenyuh melihat keadaan kakak perempuanku itu.
Ia terbelenggu dengan kenangan indah masa lalu, yang sungguh berbeda dengan kenyataan sekarang.
***
SUDAH lama aku berkeinginan memugar tabon yang sekarang dihuni Yu Sri dan anak-anaknya. Rumah kayu berbentuk limasan itu memang diberikan bapak dan ibu untuk Yu Sri.
Namun kondisinya sungguh memprihatinkan, usuk dan kayu-kayu lainnya yang menopang mulai keropos. Atapnya juga banyak yang bolong, kalau musim penghujan tiba, air berlelehan di dalam rumah.
“Aku tak mau rumah ini dibongkar. Kalian memang banyak uang, tapi tidak boleh seenaknya begitu, apalagi pada sesuatu yang bukan menjadi hak kalian!” Yu Sri menolak rencanaku.
“Kang Hasan tidak bermaksud mengambil hakmu Yu, tapi kondisi rumah ini membahayakan Yu Sri, juga anak-anak…, istriku turut membujuknya.
“Rumah ini banyak menyimpan kenangan, bapak dan ibu kalau masih hidup pasti juga tak akan mengizinkannya,” kata Yu Sri kukuh dengan pendiriannya.
“Aku tidak berencana menggantinya dengan bentuk rumah yang baru, cuma memperbaikinya saja agar nyaman ditempati,” aku masih berusaha membujuk Yu Sri.
“Tidak boleh. Aku tak mau kalian menyentuh rumah ini!” teriak Yu Sri lantang. Aku dan istriku tak mampu meluluhkan hatinya.
Esok harinya Yu Sri berbuat di luar akal sehat. Ia memagari rumahnya dengan tali rafia melintang tak beraturan, seolah membuat batas agar orang lain tak masuk ke wilayah rumahnya.
Ia juga meracau tak jelas maksudnya. Aku yang begitu mengkhawatirkannya, memutuskan untuk mengisolasi Yu Sri.
Sekalipun ia meronta tak mau dipindah, dibantu dengan beberapa orang tetangga, aku membawa Yu Sri ke salah satu kamar dalam rumahku.
Nurmala dan Asnan bersedia menemani ibunya tinggal sementara di rumahku. Akhirnya, perbaikan tabon dilaksanakan, walau tak mendapat persetujuan dari Yu Sri.
Namun sesuatu yang tak kuperhitungakan sejak mula ternyata terjadi. Setelah perbaikan tabon selesai, Yu Sri seperti tidak mengenali rumahnya lagi.
Ia tampak kebingungan. Walau masih bisa berkomunikasi dengan baik, emosinya tidak stabil. Tanpa diduga ia bisa marah, tertawa, atau pun menangis.
***
TIBA-tiba saja, Kang Agus pulang dari rantau. Namun, bukan kebahagiaan seperti yang diharapkan, justru nestapa yang dialami Yu Sri.
Suaminya itu kembali ke desa ini menjadi sosok yang lain, jauh berbeda dengan yang kukenal dahulu. Kang Agus yang biasa saja, bahkan terkesan tidak peduli dengan soal-soal keagamaan, kini berubah menjadi ahli agama dengan penampilan baru.
Dalam banyak kesempatan, ia sering bersinggungan dan berbeda pendapat dengan Kaji Daud dan tokoh agama lainnya. Kang Agus beranggapan tradisi keagamaan turun temurun di desa ini tidak sesuai dengan tuntunan agama yang benar.
Bukan perubahan itu sebenarnya yang diratapi Yu Sri, tetapi kepulangan Kang Agus bukan hanya seorang diri. Di perantauan, ternyata ia telah membina keluarga baru.
Seorang perempuan dan beberapa anaknya turut serta dibawanya pulang. Yu Sri tidak mau dimadu, mereka kemudian berpisah rumah.
Kang Agus dan keluarga baru yang dibawanya dari rantau tinggal di rumah peninggalan orang tua Kang Agus. Penantian Yu Sri selama ini sia-sia, bertolak belakang dengan angan-angannya.
***
PERISTIWA siang itu menjadi awal keresahan warga terhadap perilaku Yu Sri yang mulai tidak wajar. Tiba-tiba saja ia menghambur dalam kerumunan warga yang sedang gotong royong memperbaiki jalan di depan rumahnya.
“Hai, apa yang kalian lakukan? Mengapa kalian habiskan wora-wari itu. Nanti kalau Kang Agus pulang bisa pangling dengan rumah ini!” teriak Yu Sri dengan keras.
“Sabar Mbak Sri, sesuai hasil musyawarah kemarin, pagar hidup milik warga di pinggir jalan sepakat dihilangkan, karena jalan desa ini mau diaspal. Biar terlihat lebar dan rapi nantinya. Termasuk tanaman yang ada di pekarangan Mbak Sri ini. Kemarin panjenengan sudah menyetujui juga to?” Pak Dukuh berusaha menenangkan.
“Tidak bisa. Tidak boleh!” teriak Yu Sri sambil berusaha mencegah warga yang membersihkan pagar hidup tanaman wora-wari di depan rumahnya.
Aku ingat, dulu waktu masih anak-anak, Yu Sri dan Kang Agus sering bermain di antara tanaman itu. Mereka bermain manten-mantenan, dengan bunga sepatu warna-warni terkadang diselipkan oleh Kang Agus di sela telinga Yu Sri. Kakakku itu walau masih kecil terlihat dewasa dan cantik sekali.
Warga menjadi gempar. Aku yang turut dalam kerumunan, berusaha menenangkan kakak perempuanku itu sebisa mungkin.
Yu Sri ternyata tidak mudah dikendalikan, bahkan dengan beringas menyerang warga. Akhirnya, dengan susah payah beberapa warga berhasil meringkus dan membawanya ke rumah.
“Sebaiknya, kalau mbakyu Panjenengan sudah benar-benar tenang, nanti dibawa ke psikiater saja, Nak Hasan. Biar ditangani dengan benar, jangan sampai terlambat!” Demikian saran Kaji Daud untuk pertama kalinya yang kuingat, dan terus berulang dikatakannya ketika melihat Yu Sri mendadak bertindak di luar kewajaran.
Aku hanya mengiyakan, tanpa pernah berbuat seperti sarannya. Kesibukan pekerjaan menjadi salah satu alasan belum sempat membawa Yu Sri ke psikiater atau semacamnya.
Tetapi lebih dari itu, aku tak tega untuk mengakui bahwa kakak perempuanku itu sebenarnya telah gila karena terbelenggu kenangan-kenangan indah yang tak sesuai dengan harapannya selama ini.
***
SETELAH peristiwa Subuh itu, entah mengapa, kondisi Yu Sri berangsur-angsur membaik, padahal aku belum sempat membawa Yu Sri ke mana pun seperti saran Kaji Daud.
Yu Sri kini terlihat tenang, bahkan mulai bisa berinteraksi normal dengan orang lain. Yu Sri berulang kali minta maaf atas ketidakmampuannya mengontrol diri selama ini. Nurmala dan Ahsan juga terlihat gembira, ibu mereka telah pulih kembali.
Beberapa hari ini aku ditugaskan keluar daerah mengikuti semacam pendidikan dan pelatihan bagi para guru. Aku selalu memantau keadaan Yu Sri lewat sarana komunikasi yang ada dengan istriku, atau pun langsung dengan kedua keponakanku itu.
Malam ini di sela-sela kesibukan mengerjakan tugas, aku iseng-iseng membuka media sosial lewat laptop. Sontak aku terkejut, melihat tautan berita dalam beranda media sosialku.
Tentang berita terkini yang menggemparkan, seorang perempuan yang diduga mengidap gangguan jiwa menghabisi dengan keji orang-orang di sekitarnya.
Peristiwa itu baru saja terjadi sehingga belum ada informasi lebih lanjut. Lokasi dalam berita itu merujuk ke suatu tempat di daerahku
Aku ingat Yu Sri, tapi aku tak yakin bahwa itu kakak perempuanku. Kucari ponselku yang entah kutaruh di mana.
Aku terhenyak, ternyata ada berkali-kali panggilan masuk yang tak kusadari. ***
Kulonprogo, 2021
Catatan istilah/kata dalam Bahasa Jawa:
1. Mbakyu panjenengan: kakak perempuan Anda.
2. Rasanan: gunjingan.
3. Trenyuh: terharu bercampur sedih.
4. Tabon: rumah peninggalan orang tua.
5. Wora-wari: tanaman bunga sepatu.
6. Manten-mantenan: bermain menjadi sepasang pengantin.
Imam Wahyudi, lahir dan menetap di Kulonprogo, Yogyakarta. Cerpen-cerpennya dipublikasikan di beberapa media cetak, di antaranya Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Lampung Post, Jurnal Medan, Jurnal Nasional, Magelang Ekspres, Republika dan Djaka Lodang. Buku antologi yang memuat karyanya, antara lain yaitu: Kumcer Joglo 7 (Mengeja September), Tiga Peluru (Kumpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi), Kota Tanpa Wajah (Antologi Cerpen Bengkel Sastra Surakarta), Tepung (Antologi Cerkak Dinas Kebudayaan DIY), Gelar Jagat (Antologi Cerpen Joglitfest), dan Kluwung: Lukisan Maha Cahaya (Antologi Sastra Komunitas Sastraku Kulonprogo)
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.