Warga Bakalankrajan Sukses Kembangkan Usaha Budidaya Ikan Nila di Kala Pandemi
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
MALANG — Merebaknya pandemi covid-19 di awal 2020, tak lantas menyurutkan semangat anak-anak muda kelurahan Bakalankrajan, Kecamata Sukun, Kota Malang dalam melihat peluang usaha, terutama di bidang usaha budidaya ikan nila merah. Bahkan tak tanggung-tanggung, di awal masa pandemi itu, mereka mampu menghadirkan Kampung Nila Slilir.
Ketua kelompok budidaya Ikan (Pokdakan), Slilir, Agung Sugiantoro, menceritakan, sebelumnya, banyak kegiatan kebudayaan yang rutin dilakukan warga di lingkungannya. Namun memasuki masa pandemi, tidak boleh lagi ada kerumunan, sehingga kegiatan yang selama ini rutin dilakukan menjadi terhenti.
Dari situlah kemudian muda-mudi, khususnya di RW 3 ini mencoba mencari kegiatan lain yang tidak menimbulkan kerumunan, yakni dengan mengembangkan budidaya ikan nila merah.
“Disini dulu ada lima petak kolam beton yang terbengkalai, kemudian coba kita bersihkan dan manfaatkan satu kolam untuk budidaya 500 ekor bibit ikan nila, bantuan dari lurah setempat,” ujarnya di Kampung Nila Slilir, Selasa (22/6/2021).
Berjalan dua bulan, karena tidak ada kematian pada ikan, Pak lurah kemudian menambahkan bantuan 1.000 ekor bibit ikan nila lagi untuk ditebar di kolam lainnya. Setelah dinilai berhasil, anak-anak muda ini kemudian mulai mengajak warga sekitar untuk ikut budidaya. Tapi ternyata dari warga ada sedikit kendala terkait biaya jika harus membuat kolam beton.
“Akhirnya kita coba mencari solusi dengan memakai kolam terpal dan menggunakan sistem bioflok supaya biayanya lebih hemat,” urainya.
Menurut Agung, dengan menerapkan sistem boflok, jumlah ikan yang ditebar bisa lebih banyak sekitar 100 ekor per kubik. Berbeda dengan kolam konvensional, satu kubiknya hanya bisa ditebar 18 – 20 ekor. Dari segi air juga lebih hemat karena air tidak terlalu sering ganti, ramah lingkungan dan tidak berbau.
“Untuk kolam dengan diameter 2 meter, maksimal kita bisa tebar ikan 350 ekor. Kalau diameter 4 meter bisa tebar 1.200-2.000 ekor,” sebutnya.
Untuk masa panen ikan Nila tergantung ukuran ikan disaat awal tebar. Kalau standar ikan yang kami tebar biasanya diatas 12 cm atau sekitar 100 gram jika ditimbang. “Dengan ukuran itu, dalam waktu 4-5 bulan ikan sudah bisa dipanen,” jelasnya.

Lebih lanjut Agung mengatakan, terkait masalah pemasaran, mereka sepakat untuk menghindari tengkulak dan lebih memilih menjualnya langsung ke konsumen akhir atau end user.
“Kita sudah ada timnya pemasaran sendiri untuk memasarkan melalui media sosial seperti IG, FB, WA, sehingga tidak tergantung kepada tengkulak karena sasaran kita adalah end user. Dari pihak kelurahan juga turut mempromosikan ke instansi lainnya dan kerap mengajak tamu dari dinas lain untuk datang ke Kampung Nila Slilir,” tandasnya.
Menurutnya, dibandingkan ikan nila hitam, harga ikan nila merah lebih stabil, karena yang membudidayakannya masih sedikit.
“Satu kilogram ikan nila merah biasanya kami jual Rp32 ribu langsung ke end user,” ucapnya.
Karena keterbatasan produksi, saat ini Kampung Nila Slilir baru mampu melayani pemesanan di area Malang raya. Kebanyakan pemesanan berasal dari rumah makan maupun kolam pemancingan.
“Peminatnya sebenarnya banyak. Kadang satu kwintal ikan nila bisa habis dalam waktu satu hari. Tapi sementara ini, kami belum bisa banyak mengirim ke luar Malang karena produksi kita masih terbatas,” akunya.
Disebutkan, selain menjual ikan nila, Pokdakan Kampung Nila Slilir juga menjual paket budidaya ikan nila dengan sistem bioflok. Mulai dari kolam, pemasangan, instalasi, pengolahan air, tebar ikan, mereka yang mengerjakan semua.
Untuk satu paket kolam diameter 2 meter dijual seharga Rp2,4 juta. Diameter 3 meter Rp3,8 juta dan Diameter 6 meter seharga Rp5,8 juta.
“Jadi petani tinggal memberikan pakan saja. Kita juga memberikan petani pendampingan selama satu kali panen. Kemudian kalau mereka sudah mampu, baru kita lepas. Peminatnya sudah banyak, ada yang dari Gunung Kawi, Lawang, Dau, Kepanjen, Tumpang, Blitar dan Mojokerto,” imbuhnya.
Sementara itu tim teknis Kampung Nila Slilir, Tuy Juniarto mengatakan, dengan menggunakan sistem bioflog dapat menekan angka kematian pada ikan meskipun jumlah ikan yang ditebar lebih banyak.
“Kita menyebutnya Survival Rate (SR) atau angka kehidupan ikan pada sistem bioflok ini lebih tinggi dibandingkan dengan sistem budidaya lainnya. Sistem budidaya bioflok ini jika pengaplikasiannya benar, Insyaallah sampai akhir panennya aman,” sebutnya.
Selain itu, dari segi biaya hitungan bisnis, sistem bioflok ini juga lebih hemat. Karena dalam budidaya ikan, bukan hanya dari sisi pakan saja yang harus dihemat, tapi juga hemat dalam penggunaan air.
“Sayangnya penggunaan air jarang dimasukkan dalam perhitungan. Padahal kalau kita berada di daerah dengan kondisi air tidak melimpah dengan terus ganti air, maka baru akan terasa borosnya disitu. Tapi dengan penerapan sistem bioflok, air dalam kolam tidak perlu terlalu sering diganti,” pungkasnya.