Sejumlah Pelaku Usaha Sektor Pariwisata di Jogja Menolak PPKM
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
YOGYAKARTA — Sejumlah pelaku usaha sektor pariwisata di Yogyakarta mengaku menolak jika pemerintah kembali melakukan kebijakan lockdown atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan melarang wisatawan masuk ke Yogyakarta.
Para pelaku wisata di Yogyakarta mengaku berat jika harus menghadapi kembali situasi semacam itu, sebagaimana mereka alami beberapa waktu lalu, saat pandemi Covid-19 awal merebak.
Salah seorang pelaku usaha di sektor pariwisata, Asih, tak menampik adanya fakta peningkatan signifikan kasus positif Covid-19 di Yogyakarta maupun daerah lain seminggu terakhir. Namun ia menilai, hal itu tak semestinya menjadi alasan pemerintah kembali memberlakukan lockdown.
“Memang saat ini kabarnya kasus Covid-19 kembali meningkat dimana-mana. Tapi melihat pengalaman beberapa waktu lalu, walaupun sudah lockdown kan tetap saja kasus Covid-19 meningkat. Jadi menurut saya kurang efektif. Justru masyarakat kecil yang lebih dirugikan karena tak bisa mendapat pemasukan,” kata pedagang oleh-oleh kaos khas Jogja di kawasan Rotowijayan, Kraton, Yogyakarta itu, Selasa (22/06/2021).
Asih menyebut, pasca masa libur lebaran lalu, usaha penjualan kaos miliknya sebenarnya mulai berangsur pulih seiring semakin banyaknya wisatawan datang berlibur ke Yogyakarta. Omset usahanya yang sebelumnya turun drastis, saat ini juga perlahan mulai meningkat.
“Saat ini sebenarnya sudah mulai membaik. Setiap akhir pekan seperti Jumat, Sabtu, Minggu penjualan kaos sudah mulai ramai. Ya terhitung sejak masa libur lebaran kemarin. Karena itu kalau bisa jangan ada lockdown lagi, agar pelaku usaha kecil seperti kita bisa tetap hidup,” ungkapnya.
Menjual berbagai macam kaos oleh-oleh khas Jogja, Asih mengaku setiap akhir pekan dagangannya rutin diambil pedagang kaki lima di kawasan Malioboro maupun tempat wisata lainnya seperti Gembiraloka. Dalam sehari omset dagangan pun bisa mencapai Rp2-3juta. Jumlah tersebut tercatat meningkat hampir 50-70 persen dibanding sebelum-sebelumnya.
“Saat ini omset sudah mulai meningkat sekitar 70 persen. Kalau saat awal pandemi sampai beberapa bulan itu kita memang sama sekali tak bisa berjualan. Jadi sebenarnya sudah lumayan, walaupun memang belum bisa pulih 100 persen seperti sebelum ada pademi Covid-19,” ungkapnya.