Sanggar Seni Tari Topeng Ma Manih Lestarikan Budaya Betawi

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Sekumpulan anak usia belia dengan selendang diikat di pinggang, berlenggok gemulai menarikan tari Lenggok Si Botoh karya seniman Betawi, Linda Nirin. Tari ini merupakan perpaduan seni tari dan musik Betawi yang khas, lebih bersifat teatrikal dan komunikatif lewat gerakan gemulai. 

Gerak lincah nan gemulai para penari belia itu tersaji di pendopo Sanggar Seni Tari Topeng Ma ‘Manih’ H Nirin Kumpul, di gang Kumpul, Kelurahan Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Minggu (20/6/2021).

Para penari terlihat antusias berlatih dengan gerakan tubuh gemulai dan lentikan jemari tangan nan lincah. Sesekali tubuh mereka berputar dengan keseimbangan gerak tariannya yang mempesona.

“Lenggok Si Botoh ini tarian kreasi Betawi karya saya, yang berkisah seorang penari perempuan yang cakep dengan gerakan tari gemulai. Ibarat orang Betawi, botoh itu kan capek banget,” ujar Pimpinan Sanggar Seni Tari Topeng Ma ‘Manih’ H Nirin Kumpul, Linda Nirin, kepada Cendana News, di sanggarnya, Minggu (20/6/2021).

Linda Nirin, pimpinan Sanggar  Seni Tari Topeng Ma ‘Manih’ H Nirin Kumpul saat ditemui di sanggarnya di gang Kumpul, Kelurahan Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Minggu (20/6/2021). -Foto: Sri Sugiarti

Selain tari Lenggok Si Botoh, mereka juga berlatih tari khas Betawi lainnya. Seperti, tari Lenggang Yai, Lambang Sari, Sirih Kuning, topeng tunggal, Gegot, Nandak Ganjen, Tapak Tangan, dan lainnya.

Linda Nirin yang merupakan putri seniman  Betawi almarhum H.Nirin Kumpul ini mengatakan, sanggarnya sangat concern terhadap pelestarian budaya Betawi.

Setiap siswa yang belajar di sanggar ini, menurutnya harus terlebih dulu tahu gerakan ragam dasar. Seperti sikap kewer, yaitu kaki silang badan merendah. Tangan kiri di pinggang, tangan kanan lurus ke samping.

Lalu, gerakan tangan kanan ke pundak dan gerakan kaki kanan melangkah di tempat bersamaan dengan gerakan kepala menghadap ke kanan.

Selanjutnya, sebut dia, adalah sikap gibang, yang mengatur gerak kaki, tangan, tubuh, dan kepala. Dalam gerakannya, kaki kanan berada di posisi depan dan kaki kiri ditekuk.

Pada tangan, bagian tangan kanan ditekuk di depan dada dan tangan kiri ditekuk berjajar dengan pinggang.

Sedangkan pada tubuh, posisi badan merendah serta dada dibusungkan ke depan. Lalu, kepala dapat digoyangkan menurut langkah kaki.

Sikap berikutnya, adalah koma puter. Gerakan ini memperagakan kaki yang dirapatkan antar dua tumit. Juga membuka posisi lutut, lalu telapak kaki diarahkan mendatar.

Adapun gerakan dasar lainnya adalah rapat nindak. Pada gerakan ini, jelas Linda,  dilakukan dengan badan merendah. Pada bagian tangan, tangan kiri agak dibengkokkan dan tangan kanan melepaskan selendang ke samping kanan. Kepala diarahkan ke kiri, lalu ke depan.

Selanjutnya, yakni sikap koma pendek. Gerakan ini dilakukan dengan merapatkan kaki dan badan tegak. Lalu, kedua tangan direntangkan ke samping, dan kepala menghadap ke depan  dengan hitungan tujuh sampai delapan.

Adapun sikap cendol ijo, pada tarian Betawi  gerakan ini dilakukan dengan merapatkan kedua tumit dengan jarak sekepal. Pada posisi badan, yakni badan direndahkan dan menggoyangkan pinggul.

Selanjutnya, kedua tangannya dibengkokkan dengan posisi tangan di pinggang, lalu kepala putar ke bagian kanan dan kiri.

“Setiap tarian Betawi yang ditampilkan memiliki gerakan dasar yang saling dikolaborasikan, untuk membentuk sebuah tarian yang mengagumkan. Jadi, setiap siswa harus tahu gerakan dasarnya. Setelah tahu gerakan dasar, baru mereka belajar tari Tapak Tangan, Topeng Tunggal, Lambang Sari dan lainnya,” urai Linda.

Sehingga, lanjut dia, belajar tari Betawi ini ada tingkatannya. “Kasarnya itu ada tahapannya, ibarat kata kelas satu, kelas dua. Jadi kaya sekolah ada naik kelasnya. Apalagi, sanggar kami ini bukan sanggar sembarangan, tapi  sudah ada sertifikat dari Dinas Kebudayaan dan Pendidikan. Setiap tahun ada ujian tari kenaikan tingkat,” ungkap Linda, yang merupakan putri dari almarhum H.Nirin Kumpul.

Kembali dia menegaskan, dari gerakan-gerakan dasar itu diambil satu-satu gerakan yang kemudian terbentuklah sebuah tarian. Seperti tari Lambang Sari yang merupakan karya seniman Yogyakarta, Wiwik Widiastuti.

“Nah, awalnya Bu Wiwik itu belajar nari Betawi dari nenek saya (almarhumah Ma Manih) seniman Betawi. Dia belajar dan tanya-tanya gerakan dasar Betawi sama Ma Manih, kaya gerak kewer dan rapat nindak. Dari gerakan-gerakan dasar itu dibikinlah sebuah tari Lambang Sari oleh Bu Wiwik,” urai Linda.

Lebih lanjut dikatakan dia, tarian tradisional Betawi memiliki gerakan khas yang biasanya berkaitan dengan filosofi tarian tersebut. Misalnya, tari Lambang Sari mengandung makna kehidupan harus ditopang oleh saling percaya mempercayai, kasih mengasihi, dan menghormati, sehingga tercipta keseimbangan yang menenteramkan.

Menurutnya, memang tidak mudah untuk mempelajari tarian Betawi, karena saat menari itu harus benar-benar sesuai dengan aturan atau pakem tari Betawi.

“Gerakan dasar atau pakem tari Betawi tidak boleh dimainkan asal-asalan. Karena kalau sampai salah pakem itu bisa bermasalah. Kita juga harus bisa inovasi gerakan tari kreasi Betawi dengan menciptakan filosofi hingga gerakan tarian itu,” ujar perempuan kelahiran Jakarta 42 tahun ini.

Selain gerak dasar, tambah dia, yang harus diperhatikan adalah pakaian khas untuk setiap penarinya. Busana yang dipilih biasanya warna-warni terang yang mencolok. Juga dilengkapi asesori sebagai penghias yang menjadikan penari lebih mempesona.

“Penari juga harus belajar tata rias sendiri. Jadi, bukan sekadar menari gerak goyang, rias segala macam harus bisa. Karena sewaktu akan tampil itu harus bisa dandan dalam waktu lima menit. Jadi, semua kita ajarkan di sanggar ini,” jelasnya.

Dalam belajar tari Betawi, Linda berharap orang tua juga harus berperan memberi dukungan kepada anak-anaknya.

“Belajar tari Betawi ini tidak bisa dengan memaksakan anak. Mereka harus ada niat dalam hatinya hingga semangat belajar. Terpenting juga adalah peran orang tua mendukung anaknya, kan pasti orang tua harus antar anaknya latihan nari, jadi harus semangat juga,” tukasnya.

Karena, menurutnya, melestarikan budaya Betawi ini adalah tanggungjawab bersama. Bukan hanya anak yang belajar nari, tapi juga peran orang tuanya.

Sanggar Seni Tari Topeng Ma ‘Manih’ H.Nirin Kumpul ini merupakan sanggar Betawi tertua di Jakarta Timur, yang berdiri sejak 40 tahun lalu. Dalam belajar menari, rutin digelar setiap minggu pagi pukul 09.00-12.00 WIB. Kini, siswanya sudah berjumlah 200an anak dari berbagai usia.

Lihat juga...