Pemanfaatan Lahan Terpadu Dorong Pelestarian Perbukitan Pesawaran

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Pemanfaatan lahan perbukitan di wilayah Kabupaten Pesawaran, Lampung tetap mengutamakan pelestarian. Masyarakat setempat memanfaatkan kebun untuk penanaman berbagai jenis pohon produktif. Sementara kelapa, duku, durian ditanam di dekat sungai.

Slamet, salah satu warga Desa Hurun, Kecamatan Teluk Pandan menyebutkan, pemanfaatan terpadu antara perkebunan, pertanian dan kehutanan telah dilakukan warga sejak puluhan tahun silam.

Slamet menyebutkan, sebagian wilayah permukiman, perkebunan milik warga berdampingan dengan kawasan hutan raya (Tahura) Wan Abdul Rahman milik Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. Penanaman pohon kayu di perbukitan dilakukan dengan pohon produktif.

“Tinggal berdekatan memungkinkan warga memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, namun sebagian lahan di kawasan Tahura Wan Abdul Rahman merupakan kawasan konservasi yang dilindungi karena memiliki sumber aliran sungai untuk air bersih dan sumber irigasi lahan pertanian,” terang Slamet saat ditemui Cendana News, Rabu (16/6/2021).

Slamet menyebutkan, dari sumber air bersih tersebut warga di sekitar Tahura bisa memenuhi kebutuhan hidup. Pada kawasan Tahura yang dikelola oleh kelompok tani hutan diperoleh hasil jenis kemiri.

Hasil panen buah duku, durian dan petai sebutnya yang berbuah sekali dalam setahun tetap memberi sumber penghasilan. Tanpa melakukan penebangan pohon ia bisa mendapat hasil jutaan rupiah.

“Warga di sekitar kawasan Tahura Wan Abdul Rahman telah diberi sosialisasi untuk menjaga kawasan sekitar hutan,” ulasnya.

Warga lain, Jamaludin menyebutkan, sebagian warga tergabung dalam kelompok tani hutan. Sebagian anggota memiliki kebun yang dimiliki secara personal. Sebagian memanfaatkan untuk dikelola secara komunal. Sistem usaha tani mengombinasikan tanaman produktif namun berfungsi sebagai penyerap air.

“Anggota kelompok sudah mendapat pemahaman pengelolaan kawasan hutan secara ekologi, sosial dan ekonomi,” ulasnya.

Secara ekonomi kawasan yang berada di Desa Hurun digunakan sebagai area bumi perkemahan yang memiliki keindahan alam sebagai objek wisata sekaligus jadi sumber penghasilan.

Hasil panen buah duku milik Slamet di perkebunan Desa Hurun, Kecamatan Pesawaran, Lampung sebagai tanaman kayu keras, Rabu (16/6/2021). Foto: Henk Widi

Saat pandemi dengan kegiatan perkemahan ditiadakan, Jamaludin menyebut masih bisa mendapat manfaat ekonomi. Tanaman pala yang dibudidayakan sejak 2007 mulai bisa dipanen berkelanjutan setiap tiga bulan. Harga buah pala kering minimal Rp48.000 menghasilkan ratusan ribu hingga jutaan rupiah sekali panen.

Antimah, salah satu warga menyebut warga sekitar hutan tetap bisa mendapat nilai ekonomis tanpa merusak. Sebagian tanaman pala yang ditanam pada kawasan hutan bisa diperoleh dengan cikru, cara pemanenan buah pala yang telah jatuh dan pecah.

Sebagian wanita di dekat hutan sebutnya juga bisa melakukan pemungutan hasil getah damar dan kemiri. Getah damar yang bisa dijual seharga Rp16.000 per kilogram, kemiri Rp7.000.

Lihat juga...