Budi Daya Ikan Sistem Bioflok Lebih Ramah Lingkungan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Budidaya ikan dengan menggunakan sistem bioflok dinilai lebih hemat dan ramah lingkungan dibandingkan dengan sistem yang lain. Karenanya, warga di Kampung Nila Slilir memilih menggunakan sistem ini untuk membudidayakan ikan nila merah.

Tim teknis Kampung Nila Slilir, Tuy Juniarto, menjelaskan, di dalam budidaya ikan, sebenarnya bukan hanya belajar tentang bagaimana merawat ikan, tetapi harus belajar pengolahan airnya juga.

Tim teknis Kampung Nila Slilir, Tuy Juniarto, menunjukkan kolam dengan sistem bioflok di kampung nila Slilir, Selasa (22/6/2021). Foto: Agus Nurchaliq

Bioflok sendiri disampaikan Tuy, berasal dari kata bios yang artinya “kehidupan” dan flok berarti “gumpalan”. Sehingga bioflok bisa diartikan sebagai kumpulan dari berbagai organisme yang tergabung dalam gumpalan.

Bioflok akan terbentuk jika terdapat sumber karbon, bahan organik dari sisa pakan dan kotoran ikan, serta adanya bakteri pengurai dan ketersediaan oksigen.

“Makanya dinamakan sistem bioflok dengan harapan flok atau gumpalan yang terbentuk ini bisa termakan oleh ikan sehingga bisa menghemat pengeluaran untuk pakan,” jelasnya kepada Cendana News. Senin (28/6/2021).

Tidak hanya bisa menghemat dari sisi pakannya saja. Penerapan budidaya sistem bioflok juga dapat menghemat penggunaan air, sebab air yang dihasilkan dari sistem ini tidak berbau sehingga tidak perlu melakukan penggantian air selama budidaya.

Penggantian air dilakukan hanya jika terjadi masalah pada kondisi air. Biasanya ditandai pada warna air dan perilaku ikan yang tidak seperti biasanya.

“Selain lebih ramah lingkungan karena airnya yang tidak berbau, air bekas budidaya sistem bioflok juga dapat digunakan sebagai pupuk tanaman,” ungkapnya.

Bukan hanya itu, keunggulan dari sistem bioflok ini yaitu padat tebarnya tinggi dan mampu menekan tingkat kematian pada ikan.

Jadi bisa dikatakan, meskipun padat tebarnya tinggi, nilai Survival Rate (SR) atau angka kehidupannya juga lebih tinggi dibandingkan dengan sistem lainnya.

“Memang kita punya target kematian ikan tidak boleh lebih dari 10 persen. Jadi misalnya kolam diameter 3, kita tebar 700 ekor ikan, maka maksimal kematian hanya boleh 70 ekor. Tapi Alhamdulillah sampai saat ini kita masih bisa untuk menekan angka kematian ikan tersebut,” terangnya.

Menurutnya, nilai SR itu datanya bukan hanya di saat setelah tebar saja, tebar berapa sampai panen berapa. Sebab kematian ikan biasanya bukan hanya di awal saja. kadang bisa terjadi di tengah bahkan di akhir.

“Tapi selama sistem bioflok ini cara pengaplikasiannya benar, Insyaallah sampai akhir pasti aman,” tuturnya.

Lebih lanjut Tuy mengatakan, berdasarkan pengalaman di lapangan, saat ini di internal Kampung Nila Slilir sendiri sudah memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) versi mereka sendiri terkait budidaya ikan nila merah menggunakan sistem bioflok.

Langkah pertama setelah kolam diisi dengan air yang telah disediakan adalah memasukkan garam grosok dengan takaran 1 kg per kubik air dan 75 gram kapur dolomit. Selanjutnya air diaerasi selama 1-2 hari sehingga alat aerasi ini harus menyala terus sekitar 1-2 hari. Kemudian baru dimasukkan probiotik sama gula pasir.

“Probiotik harus didampingi dengan gula, karena gula ini sebagai staternya. Jadi mikro organisme probiotik akan bisa hidup di air ketika ada sumber energi dari gula tersebut,” bebernya.

Berikutnya air dibiarkan lagi selama 5-7 hari. Setelah semuanya masuk dan terlarut, kemudian tunggu air sampai matang, baru bibit ikan bisa dimasukkan ke kolam.

“Tidak semua bibit ikan nila bisa dimasukkan. Hanya bibit yang sehat saja yang boleh dimasukkan. Karena kalau bibit yang masuk tidak sehat, maka bibit ikan tersebut akan semakin cepat drop,” tandasnya.

Sementara, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Slilir, Agung Sugiantoro mengaku bahwa dengan menerapkan sistem bioflok, jumlah ikan yang ditebar bisa lebih banyak sekitar 100 ekor per kubik. Berbeda dengan kolam konvensional, satu kubiknya hanya bisa ditebar 18 – 20 ekor.

“Untuk kolam dengan diameter 2 meter, maksimal kita bisa tebar ikan 350 ekor. Kalau diameter 4 meter bisa tebar 1.200-2.000 ekor,” sebutnya.

Terkait masa panen ikan Nila tergantung ukuran ikan di saat awal tebar.

“Kalau standar ikan yang kami tebar biasanya di atas 12 cm atau sekitar 100 gram jika ditimbang. Dengan ukuran itu, dalam waktu 4-5 bulan ikan sudah bisa dipanen,” pungkasnya.

Lihat juga...