Seni Karawitan di Desa Kedungsari Kulon Progo Terus Dilestarikan
Editor: Makmun Hidayat
YOGYAKARTA — Desa Kedungsari, Pengasih, Kulon Progo, menjadi salah satu desa yang masih konsisten melestarikan kesenian tradisional karawitan hingga saat ini. Dimotori Sanggar Karawitan Lestari Budaya di Dusun Cemethuk, warga desa aktif mengikuti pertunjukan maupun ajang pentas budaya baik tingkat kecamatan hingga kabupaten.
Tak hanya didominasi kaum tua, para kaum muda yang tergabung dalam kelompok karang taruna mulai dari anak-anak hingga remaja juga selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan kesenian gamelan ini. Hal ini menjadi bagian dari proses regenerasi agar kesenian karawitan tetap lestari dan tidak hilang ditelan zaman.
Salah seorang pengurus Sanggar Karawitan Lestari Budaya, Dusun Cemethuk, Marto Winangun (70) menyebut biasanya warga rutin menggelar latihan setiap 3-4 hari sekali. Umumnya latihan ini diikuti sekitar 30an warga dari kalangan tua. Sementara latihan bagi kaum muda dilaksanakan setiap bulan khususnya setiap menjelang pelaksanaan event atau acara budaya.
“Kalau untuk anak-anak muda memang baru latihan jika ada event. Kalau tidak ada event ya agak susah. Makanya setiap kali ada event, yang kita ajukan untuk tampilan selalu generasi muda. Agar mereka semangat,” katanya kepada Cendana News belum lama ini.

Marto mengakui minat generasi muda saat ini untuk menekuni kesenian tradisional seperti karawitan semakin luntur. Meski begitu ia mengaku bersyukur, tak sedikit anak-anak muda di desanya yang masih mau belajar kesenian tradisional warisan para leluhur ini. Meskipun harus didorong dan didukung secara terus-menerus.
“Di sini anak-anak sudah kita biasakan untuk kenal dengan karawitan. Paling tidak sekadar melihat atau mendengarkan. Karena kalau sudah kenal kan enak. Untuk mengajarinya juga enak. Bahkan anak yang berbakat itu beberapa kali latihan biasanya juga langsung bisa,” ungkapnya.
Sebagai satu-satunya kelompok karawitan di tingkat desa, warga yang tergabung dalam kelompok karawitan Lestari Budaya, rutin mengikuti kegiatan pentas budaya. Setiap tahun, setidaknya mereka akan diminta untuk petas di sejumlah acara. Seperti peringatan tahun baru Suro, hari raya Idul Fitri, acara merti desa, dan lain lain.
“Setiap ikut acara pentas kesenian, biasanya kita mendapatkan dana. Mulai dari Rp1 juta sampai ada yang Rp12 juta. Dana itu biasanya akan masuk seluruhnya ke kas kelompok. Digunakan untuk mencukupi semua kebutuhan, mulai dari membeli seragam, memperbaiki alat gamelan, akomodasi, dan sebagainya. Jadi tidak dibagi-bagi begitu saja. Tapi untuk kelangsungan kelompok karawitan,” ungkapnya.
Sayangnya selama pandemi Covid-19 ini, seluruh kegiatan karawitan kelompok Lestari Budaya baik itu latihan rutin maupun event pentas kesenian harus ditiadakan. Hal ini tak lepas dari adanya ketentuan pemerintah yang melarang aktivitas dengan melibatkan banyak orang serta memicu kerumunan.
“Apalagi saat ini kan bulan puasa. Jadi untuk sementara latihan diliburkan. Kemungkinan nanti selepas hari raya Idul Fitri, kita baru mulai aktif kembali,” pungkasnya.