Petani Hortikultura di Sikka Butuh Pinjaman Tanpa Agunan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Para petani hortikultura di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) berharap ada bantuan peminjaman dana tanpa agunan untuk memperluas usaha yang sedang digeluti.

“Banyak petani muda yang ingin mengembangkan usaha mereka di hortikultura tapi terbentur modal. Mereka inginkan ada pinjaman dana tanpa ada agunan,” kata Yance Maring, petani hortikultura saat ditemui di kebunnya di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (11/5/2021).

Yance menyebutkan, petani sepakat pengembalian modal pinjaman dilakukan setelah 3 sampai 4 bulan karena saat itu petani baru bisa panen produk hortikulturanya.

Ia yakin, petani hortikultura bisa mengembalikan pinjaman dana tersebut mengingat setiap satu hektare lahan saja dalam 3 sampai 4 bulan, petani sudah bisa mengantongi keuntungan hingga puluhan juta rupiah.

“Keuntungan yang diperoleh sangat besar karena harga jual produk hortikultura di Kabupaten Sikka sangat tinggi dan petani pasti mengalami keutungan. Kecuali ada bencana alam dan serangan hama secara masif,” ungkapnya.

Yance mencontohkan, tanaman tomat saja, biaya produksi satu pohon Rp3 ribu sementara harga jual terendah satu kilogram Rp5 ribu dan bisa dipanen beberapa kali.

Ia tambahkan, saat panen lembaga keuangan bisa langsung datang ke kebun atau menagih pengembalian modal pinjaman disertai dengan bunganya kalau memang pinjaman dilunasi semua.

“Petani mampu mengembalikan modal pinjaman disertai bunga yang kecil saat panen produk hortikulturanya. Di Sikka sangat jarang lembaga keuangan memberikan pinjaman kepada petani,” sesalnya.

Yance menyebutkan, permasalahan dana pinjaman yang dihadapi petani ini juga disampaikan kepada staf Kemenko Perekonomian saat diskusi bersama petani muda di kebun irigasi tetes di Kelurahan Wailiti, Selasa (27/4/2021) lalu.

Sementara itu, Y.N. Sirilus Desa Gobang, Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bersama, Bangkit Mandiri Kecamatan Nita, menyebutkan, pihaknya memberikan modal kepada petani hortikultura di Kecamatan Nita dan beberapa kecamatan lainnya.

Rili sapaannya mengatakan, lembaganya membantu modal bagi petani hortikultura untuk sarana dan prasarana produksi, serta membeli semua produk dari petani untuk dipasarkan.

“Sistem pembayarannya dicicil saat panen. Kami mengenakan bunga 1 sampai 1,2 persen dan kami melihat prospek pasarnya sangat bagus ke depan karena keuntungan yang diperoleh sangat besar,” ucapnya.

Lihat juga...