Peran Keluarga Optimalkan Minat Baca di Masa Pandemi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sistem pembelajaran dalam jaringan selama masa pandemi ikut menggerus minat baca terhadap buku.

Ardi Yanto, pegiat literasi Motor Perahu Pustaka menyebut, keluarga miliki peran penting optimalkan minat baca buku. Saat pandemi Covid-19 sistem belajar online memakai smartphone berimbas pola belajar siswa bergeser ke hiburan media sosial, game online.

Pengawasan orangtua agar anak tetap membaca buku fisik sebut Ardi Yanto perlu dilakukan. Warga Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan itu bilang kebiasaan membaca di rumah berkurang.

Upaya optimalisasi membaca sistem digital sebutnya kurang efektif karena kecenderungan bermain game. Sebagai orangtua ia membatasi penggunaan gawai agar anak tetap membaca buku.

Interaksi antara orangtua dan guru sekolah sebut Ardi Yanto penting dilakukan. Sebab ia bisa memantau sejumlah tugas dan waktu penggunaan gawai. Sebab dalam sehari waktu belajar online hanya terbatas. Sisanya perlu peran orangtua menjadi guru bagi anak untuk meningkatkan pengetahuan. Buku fisik mata pelajaran, pengetahuan umum mutlak tetap dibaca.

“Peran aktif orangtua dalam melakukan pendampingan ke anak untuk mengoptimalkan minat baca juga dengan ide kreatif  memberi rewards saat menyelesaikan buku bacaan, menceritakan kembali buku yang dibaca dengan membuat resume atau rangkuman,” terang Ardi Yanto saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (11/3/2021).

Rewards yang diberikan sebut Ardy Yanto bisa dengan hal sederhana semisal mengajak anak rekreasi. Ia juga kerap membelikan buku bergambar baru agar anak memiliki minat membaca buku. Sebagai pegiat literasi yang juga memiliki dua anak di jenjang SMA dan SD ia mengaku, buku fisik penting disediakan. Meski sejumlah tugas sekolah berbasis digital, anak tetap diajak membaca buku fisik.

Pergeseran minat baca buku fisik saat pandemi sebut Ardi Yanto seiring dengan menulis. Sebagian anak dalam sehari sebutnya mulai jarang mengasah keterampilan menulis. Terlebih pada anak kelas rendah TK hingga kelas 1 SD orangtua tetap berperan penting mengasah kemampuan menulis. Metode baca, tulis dan hitung (calistung) tetap diterapkan.

“Memberi buku bacaan dongeng, menuliskan ringkasan buku yang dibaca menjadi metode agar anak tetap mengembangkan keterampilan menulis,” bebernya.

Anak-anak yang datang ke perpustakaan miliknya sebut Ardi Yanto wajib membawa pulang buku. Buku bacaan yang dipilih dominan jenis buku bergambar.

Tujuannya agar orangtua ikut memantau aktivitas membaca anak. Saat kembali ke perpustakaan ia akan mengajak anak menceritakan buku yang dibaca. Langkah itu dilakukan meminimalisir ketergantungan pada gawai.

Keberadaan fasilitas perpustakaan dengan buku bacaan mencukupi ikut mendorong minat baca. Ruhgiyanto, Kepala Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang bilang ada ribuan koleksi buku di perpustakaan desa.

Konsep perpustakaan seru (Perpuseru) disiapkan agar warga, anak-anak berminat membaca buku. Saat pandemi Covid-19 aktivitas anak sekolah belajar online di rumah ikut menurunkan kunjungan.

“Sebelum pandemi perpustakaan desa yang ada di dekat sekolah kerap dikunjungi namun kini dominan warga biasa,” cetusnya.

Meski demikian adanya kegiatan Posyandu, penyuluhan melibatkan orangtua jadi kesempatan mengunjungi perpustakaan.

Bagi sejumlah orangtua, fasilitas buku tentang pertanian cukup diminati. Ia mengaku kebutuhan buku yang masuk dalam anggaran pendidikan dialokasikan 20 persen dari dana desa. Cara tersebut dilakukan untuk menambah koleksi buku yang ada.

Sebagian orangtua, anak-anak sebut Ruhgiyanto bisa datang ke perpustakaan desa setiap jam kerja. Tetap menerapkan protokol kesehatan anak-anak bisa membaca buku yang disediakan. Kebosanan anak-anak setelah belajar daring sebutnya membuat buku dongeng, cerita bergambar lebih banyak disediakan.

“Bagi anak-anak yang belum bisa membaca buku bergambar menjadi pilihan menarik agar anak tertarik pada buku,” cetusnya.

Slamet, salah satu warga tidak menyangkal minat baca buku bergeser ke digital. Sebagai warga yang memiliki anak usia SMA dan SMP ia menyebut porsi pemakaian gawai untuk belajar dan hiburan kurang berimbang.

Slamet, salah satu warga Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan membaca buku tentang budaya, Kamis (11/3/2021) – Foto: Henk Widi

Anak-anak sebutnya dominan mengakses internet di smartphone untuk bermedia sosial. Sejumlah tugas guru, zoom meeting dilakukan dalam batas setengah hari.

Kontrol pada anak dilakukan olehnya dengan ikut grup wali murid di sekolah. Peran aktif dilakukan olehnya dengan membatasi waktu pemakaian gawai.

Dukungan dengan membelikan buku sebutnya memberi kesempatan anak membaca buku fisik. Selain menghindari ketergantungan pada gawai, sejumlah buku pelajaran fisik dibelikan olehnya.

“Saya pilih membeli buku pintar tentang pengetahuan umum, bagi anak usia SMA saya belikan buku tes masuk perguruan tinggi untuk belajar,” cetusnya.

Nur Eka Fitritani, pemilik Rumah Baca Lampung di Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung mengakui rendahnya minat baca buku.

Ia memilih membuat jadwal pada rumah baca miliknya. Sejak Senin hingga Kamis dibuat jadwal program Calistung, Jumat program olahraga dan hari Sabtu kegiatan seni tari dan budaya.

Kreativitas pola pembelajaran dan minat baca buku akan meminimalisir anak tergantung pada gawai.

Lihat juga...