Kartu Pos sebagai Media Diplomasi Kebudayaan Bangsa

BOGOR 13 Maret 2025 – Kementerian Kebudayaan bersama Pengurus Pusat Perkumpulan Filatelis menggelar acara Peluncuran Buku dan Pameran Buitenzorg Pada Sekeping Kartu Pos.

Acara yang digelar di Museum Balai Kirti, Kompleks Istana Bogor ini menyajikan rangkaian kegiatan Peluncuran Buku “Kartu Pos Dari Buitenzorg”, Pameran Kartu Pos, Diskusi Buku, dan Workshop Filateli.

Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini sebagai bagian dari upaya melestarikan sejarah, meningkatkan literasi di bidang kebudayaan, serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya material.

Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan menekankan pentingnya pelestarian benda-benda pos sebagai bagian dari sejarah dan identitas bangsa.

”Ini merupakan upaya yang sejalan dengan misi Kementerian Kebudayaan untuk melestarikan warisan budaya dan mengenalkannya pada generasi mendatang. Kartu pos dan benda-benda filateli ini bagian dari material culture yang pada masanya nanti orang akan semakin menghargai sesuatu yang terlihat bentuk fisiknya,” tegas Menbud.

Perkumpulan Filatelis Indonesia merupakan salah satu perkumpulan tertua di Indonesia, didirikan pada tahun 1922, sehingga saat ini telah memasuki usia ke-103 tahun.

Perkumpulan filatelis ini adalah ruang diskusi, dialog, bertukar pikiran tentang benda-benda filateli: perangko, kartu pos, dokumen yang memuat sejarah.

Lebih lanjut, Menteri Fadli Zon menambahkan bahwa perangko dan kartu pos dapat dijadikan sebagai jembatan diplomasi yang dapat menghubungkan berbagai bangsa, “Perangko dan kartu pos bukan saja sebagai alat komunikasi, namun menjadi medium penting di dalam diplomasi budaya, memotret segala peristiwa sejarah, kekayaan alam, seni, dan tradisi Indonesia ke seluruh dunia. Kartu pos ini dikirim ke berbagai negara dan daerah,” ujarnya.

Buku “Kartu Pos Bergambar dari Buitenzorg” ditulis oleh Fadli Zon bersama Mahpudi, berkisah tentang Kota Bogor pada masa Kolonial Belanda yang digambarkan melalui kartu pos sebagai medianya. Total kartu pos berjumlah 179 koleksi termuat dalam buku setebal 166 halaman. Kartu pos ini menampilkan berbagai ikon kota seperti Istana dan Kebun Raya, serta menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa kolonial. Buku ini juga telah meraih penghargaan medali emas dalam Pameran Filateli Nasional (Panfila) 2025.

“Melalui buku ini, kita ingin menjelajahi jejak-jejak sejarah Bogor pada masa Hindia Belanda, khususnya pada periode tahun 1890 – 1930. Peluncuran buku ini juga menjadi langkah penting untuk pendokumentasian sejarah melalui kartu pos. Buku ini tidak hanya mengabadikan gambar bersejarah, tetapi mengajak kita merenungkan bagaimana kota
dan masyarakat berkembang dari waktu ke waktu,” jelasnya.

Sebagai penutup, Menbud berharap kegiatan ini dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mengenal dan menjaga warisan budaya, serta memahami nilai sejarah yang terkandung dalam koleksi kartu pos dan benda pos lainnya.

“Diplomasi budaya melalui perangko dan kartu pos dapat membangun narasi positif tentang Indonesia. Setiap gambar dan desain yang tercetak di dalamnya menceritakan kisah keberagaman dan kekayaan budaya kita. Oleh karena itu, Kementerian Kebudayaan terus mendorong kolaborasi antar pemerintah, filatelis, seniman, serta komunitas pecinta sejarah untuk menjaga dan mempromosikan warisan ini serta memperkenalkannya kepada
generasi mendatang,” jelasnya.

Acara yang turut dihadiri oleh sejumlah tamu undangan, di antaranya Kepala Istana Kepresidenan, Direktur Bisnis dan Jasa Keuangan PT Pos Indonesia, Asisten Walikota Bogor, Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI), Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI), Asosiasi Museum Indonesia, UPTD Pengelolaan Kebudayaan, serta jajaran Kementerian Kebudayaan ini juga menghadirkan Diskusi Buku. Tujuannya untuk menggali lebih dalam nilai sejarah, edukasi, dan estetika dari koleksi kartu pos dalam buku tersebut, serta bagaimana benda pos dapat menjadi sumber kajian sejarah yang kaya akan informasi.

Untuk melengkapi rangkaian kegiatan, akan diselenggarakan juga Workshop Filateli pada tanggal 13 sampai 15 Maret 2025.

Workshop ini terbuka bagi para kolektor muda, peneliti, serta masyarakat umum yang ingin memahami lebih dalam dunia filateli, baik dari sisi sejarah, teknik koleksi, hingga
nilai investasi benda pos.

Sementara itu, Pameran Kartu Pos Bergambar Buitenzorg di Museum Balai Kirti akan berlangsung mulai tanggal 13 hingga 19 Maret 2025. Pameran ini menampilkan berbagai koleksi kartu pos, perangko, dan benda pos lainnya yang merekam perkembangan komunikasi serta dokumentasi visual kehidupan masyarakat di masa lalu. ***

Lihat juga...