Kutukan Rahim Matrilineal

OLEH GERI SEPTIAN

ESAI BUDAYA

OLEH GERI SEPTIAN

Dahulu, hal pertama yang saya cari setiap kali pulang dari pondok pada setiap hari Kamis bukanlah kursi untuk melepas lelah, melainkan sosok ibu.

Jika kebetulan ayah yang menyambut di pintu, pertanyaan pertama yang meluncur dari bibir saya bukanlah tentang kabarnya, melainkan, “Di mana Ama, Pa?”

Bahkan saat dering telepon diangkat oleh suara Apa, pertanyaan refleks saya tetap sama, “Ma ama, Pa?”

Ada kekosongan yang terasa janggal jika wajahnya belum tertangkap oleh pandangan saya.

Pertanyaan sederhana itu, kini saya sadari, bukanlah sekadar kebiasaan seorang anak manja.

Ia adalah manifestasi terdalam dari sebuah dunia yang membesarkan saya.

Saya lahir dan ditempa dalam lingkungan matrilineal yang pekat.

Masa kecil saya berada dalam asuhan almarhumah nenek, diawasi oleh para tante, dan dikontrol sepenuhnya oleh Ama.

Ruang dengar saya dipenuhi obrolan sore para uwo-uwo—tentang ekonomi yang mampet, jerat rentenir, hingga cita-cita sederhana untuk bisa kembali salat berjamaah di surau.

Tiga guru ngaji saya, semuanya perempuan. Dari delapan belas guru di sekolah dasar, hanya dua yang laki-laki.

Kurang matrilineal apa lagi hidup saya? Sistem ini bukan lagi sekadar adat, ia adalah udara yang saya hirup.

Berpulangnya nenek ke pangkuan Tuhan menjadi titik balik emosional saya.

Peran sentral itu tidak pernah benar-benar kosong; ia diwariskan, dialihkan, dan disempurnakan oleh ibu.

Ibu menjadi pengganti dalam semua hal: tumpuan kasih sayang, tempat berkeluh kesah, hingga pemegang mandat tradisi di ruang publik.

Beliaulah yang memandu langkah dalam prosesi adat seperti baralek, manjanguak, atau manyilau urang takuruang.

Ia menjadi Bundo Kanduang dalam semesta kecil saya.

Kekuasaan matrilineal ini, di era digital, menemukan wujud barunya. Setidaknya dua kali seminggu, saya akan melakukan panggilan video.

Di hadapan layar gawai, saya akan mempresentasikan semua rencana hidup seolah sedang sidang di hadapan dewan penguji skripsi.

Setiap langkah, setiap rencana, sebisa mungkin mendapat persetujuannya.

Bukan karena takut, melainkan karena restu dan doanya adalah kompas yang memberi saya keyakinan untuk melangkah.

Tanpa persetujuannya, rasanya setiap rencana terasa rapuh.

Saya pernah mengabaikan getaran itu sekali, dan pelajarannya membekas seumur hidup.

Suatu waktu, saya hendak berpakansi bersama kawan-kawan pondok.

Ibu menunjukkan berat hati untuk melepas saya pergi, namun ayah—dengan logika seorang bapak—memberi izin.

Saya memilih untuk tetap berangkat. Tragedi kecil pun terjadi, dan saya hampir kehilangan kelingking kaki.

Saya tidak pernah menyalahkan ayah. Saya menyalahkan diri sendiri yang gagal menangkap sinyal kekhawatiran dari perempuan yang melahirkan saya.

Saat itu saya belajar: logika seorang ayah memang menenangkan, tetapi getaran batin seorang ibu adalah perlindungan.

Perlindungan tak kasat mata itulah yang kemudian menuntun saya pada sebuah perenungan yang lebih dalam.

Saya mulai memetakan kaitan antara kekuatan batin ibu saya dengan struktur besar yang menaungi kami.

Dari sanalah saya memahami bahwa pengaruh sistem matrilinial Minangkabau jauh melampaui urusan warisan atau nama suku.

Ia menyusup hingga ke ruang paling privat seorang laki-laki: ruang batin dan pengambilan keputusan.

Perempuan, khususnya ibu, tidak hanya menjadi Limpapeh Rumah Nan Gadang yang menjaga marwah keluarga di ranah publik.

Ia adalah episentrum emosional dan kompas spiritual di ranah privat putranya.

Restunya adalah validasi, kekhawatirannya adalah pertanda, dan kehadirannya adalah definisi dari ‘rumah’ itu sendiri.

Sastrawan Kahlil Gibran pernah menulis, “Tiga perempuan tercantik di dunia; Ibuku, bayangannya, dan pantulan cerminnya.”

Sajak itu merangkum segalanya. Apa pun yang terkait dengan Ama, selalu saya rawat dalam ingatan dan sanubari.

Karena dalam dunianya, saya menemukan diri saya.

Dan saya tahu, meski kelak fisiknya perlahan memudar seiring waktu, esensinya akan terus hidup, menjelma menjadi rindu yang abadi. ***

Geri Septian, alumni Universitas Islam Negeri Yogyakarta

Lihat juga...