Pandemi, Perempuan di Lamsel Tetap Semangat Kembangkan Wirausaha
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Hari Perempuan Internasional atau Women’s Day diperingati setiap 8 Maret. Sektor kewirausahaan dominan dikembangkan oleh perempuan. Meski pandemi Covid-19 melanda dunia dan Indonesia, sebagian perempuan masih tetap eksis. Sejumlah perempuan yang bergantung dari usaha kecil, menjadi buruh ikut terpengaruh berkurangnya pendapatan.
Sumiati, salah satu perempuan pelaku usaha mikro atau skala industri rumahan menyebut menekuni usaha produksi gula merah.

Warga Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) itu bilang tetap semangat mencari penghasilan. Kegiatan membantu Ishak sang suami mengolah gula kelapa jadi rutinitas harian. Peran perempuan pada sektor usaha kecil sebutnya banyak dilakukan di wilayah tersebut dalam produksi gula.
Berbagi tugas dengan suami Sumiati bilang menyiapkan alat pengolahan, pencetakan, pengemasan dan distribusi.
Setelah sang suami menderes air nira kelapa, ia akan memasak pada wajan berbahan bakar kayu. Setelah air nira menggumpal dibantu sang anak ia mencetak memakai bambu. Sehari dari 60 liter air nira kelapa, ia bisa menghasilkan sebanyak 35 kilogram gula merah.
“Sebagai pelaku usaha berbasis perkebunan kelapa, memproduksi gula merah jadi pekerjaan biasa bagi sejumlah perempuan. Sebab saat pandemi kegiatan usaha lain sulit dilakukan imbas pembatasan, memproduksi gula bisa dilakukan pada pekarangan rumah. Tanpa harus banyak berinteraksi dengan orang lain,” terang Sumiati saat ditemui Cendana News, Selasa (9/3/2021).
Sumiati bilang dengan tetap memproduksi gula merah bisa mendukung ekonomi keluarga. Krisis ekonomi yang dialami pada sektor usaha sebutnya ikut menjadi tantangan baginya.
Saat sejumlah pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) mendapat stimulus bantuan, ia hanya mengandalkan modal sendiri. Pinjaman dari tengkulak jadi modal untuk produksi gula merah.
Menjual gula merah seharga Rp10.000 per kilogram ia masih bisa mendapat Rp350.000 sekali produksi. Hasil penjualan gula merah sebut Sumiati digunakan untuk biaya harian.
Aktivitas kegiatan belajar secara daring bagi sang anak ikut mendorong peningkatan pengeluaran. Ia harus membeli fasilitas smartphone dan kuota internet untuk belajar.
“Penghasilan stabil namun saat pandemi kaum perempuan ikut mengalami kenaikan pengeluaran uang,” cetusnya.
Meski demikian Sumiati bilang tetap semangat karena masih memiliki pekerjaan. Sebagai sumber penghasilan keluarga, memproduksi gula merah dipertahankan.
Mendekati bulan Ramadan ia menyebut, permintaan gula merah bakal naik. Bahan baku air nira kelapa yang stabil membuat ia tetap bisa menghasilkan gula kelapa.
Aktivitas perempuan yang eksis kala pandemi dijalani oleh Harisnawati di Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang.
Usaha kecil pembuatan kue tradisional jenis barongko, lemet, bolu kukus, buras dan kue basah tetap dijalankan olehnya kala pandemi. Meski jumlah permintaan tidak sebanyak sebelum pandemi ia masih tetap menghasilkan uang.
Produksi kue tradisional sebut Harisnawati dijual mulai Rp1.000 hingga Rp3.000 per buah. Permintaan yang banyak membuat ia bisa memberdayakan sejumlah perempuan di wilayahnya.
Sebagian perempuan bisa membantu pembuatan kue sekaligus mendapat upah. Masih terbukanya peluang usaha kecil sebutnya jadi potensi perempuan tetap bertahan.
“Kami para perempuan di wilayah ini tidak hanya mengandalkan bantuan sosial sehingga tetap kreatif bekerja dengan omzet ratusan ribu per hari,” sebutnya.
Selain sektor wirausaha, peran perempuan ikut mendukung sektor kehutanan.
Eka Fitriani, petugas administrasi di Pusat Persemaian Permanen Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang mengaku perempuan menjadi pekerja. Pekerja perempuan sebutnya bisa mencapai 30 orang untuk tenaga penyiapan media semai, pemindahan bibit hingga perawatan.
Peran perempuan dalam penyiapan bibit di unit penyediaan bibit Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebutnya sangat vital.
Jutaan bibit bisa diproduksi dengan sistem upah harian orang kerja (HOK). Meski mendapat upah puluhan ribu, dalam sepekan pekerja perempuan bisa mendapat ratusan ribu.
Saat pandemi penyerapan tenaga kerja ikut membantu sumber penghasilan bagi perempuan pedesaan.