Pandemi, Pelaku Usaha di Lamsel Ubah Strategi Penjualan
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Pandemi Covid-19 ikut berdampak pada pelaku usaha berbasis kios dan sistem penjualan keliling.
Koidir, pelaku usaha penjualan sate keliling menyebut kerap mangkal di dermaga IV Ketapang, Desa Batu Menyan, Kecamatan Teluk Pandan, Pesawaran. Ia menyebut kini ia harus mengubah strategi berjualan agar tetap bisa mendapat omzet.
Selain di dermaga IV Ketapang, sebelum pandemi Covid-19 sejak pagi hingga siang ia berjualan secara keliling.
Sejumlah lokasi sekolah tingkat SD, SMP memberinya omzet ratusan ribu selama setengah hari. Menjual sate ayam seharga Rp2.000 per tusuk dengan lontong menjadi kuliner yang disukai anak-anak. Setelah siang hari jelang sore ia pindah ke dermaga penyeberangan Ketapang.
Konsumen sebutnya dominan penyedia jasa ojek, pedagang suvenir, buruh angkut, juru mudi kapal. Namun imbas aktivitas dermaga berkurang, Koidir bilang harus putar otak mencari lokasi strategis untuk berdagang.
Membawa sekitar 500 tusuk per hari, Koidir bilang jika dagangan habis ia bisa mendapat omzet sekitar Rp1,5 juta. Hasil stabil masih tetap bisa diperolehnya meski ia harus mengubah rute penjualan.
“Saya harus ubah strategi berjualan dari semula hanya mengandalkan maksimal tiga lokasi sekarang harus banyak keliling ke pedesaan, lokasi wisata, tempat pendaratan ikan dan lokasi potensial yang bisa mendapatkan konsumen,” terang Koidir saat ditemui Cendana News di dermaga Ketapang, Selasa (9/3/2021).
Koidir bilang usaha berjualan sate keliling memakai motor sebutnya memperhitungkan bahan bakar. Semakin jauh lokasi ia berjualan maka bahan bakar yang dikeluarkan bertambah.
Hasil kotor Rp1,5 juta dari menjual sate sebutnya digunakan untuk menutupi modal dan biaya operasional. Ia mengaku hasil bersih yang diperolehnya hanya berkisar Rp950.000, sisanya untuk bahan baku, bumbu, arang dan bahan bakar.
Sumiran, pedagang bakso pentol kuah juga mengaku lebih banyak berkeliling untuk mendapat pelanggan. Normalnya dengan mangkal atau meyiapkan barang dagangan di sekitar dermaga Ketapang ia bisa mendapat pelanggan.
Namun sepinya pengunjung ke pulau Mahitam, pulau Pahawang dan pulau di Kecamatan Cukuh Balak berimbas omzet menurun.
“Sekarang harus banyak keliling karena jika tidak pembeli berkurang dan saya bisa merugi,” terangnya.
Berkurangnya aktivitas keramaian seperti hiburan kuda kepang, organ tunggal saat hajatan ikut berdampak baginya.
Sebelum pandemi dua aktivitas hiburan menjadi magnet berkumpul warga. Selanjutnya kegiatan sekolah dengan pentol bakso Rp1.000 per buah dan Rp5.000 per porsi cukup memberi keuntungan baginya.
Kini ia memilih menuju ke pantai Klara yang banyak dikunjungi warga. Ia bisa menjual puluhan porsi bakso di lokasi tersebut.
Selain bagi pedagang dengan sistem keliling, dampak pandemi berimbas bagi pemilik toko. Sejumlah pemilik toko penjualan suvenir, pakaian alami penurunan permintaan.
Sejak pengunjung yang datang ke Ketapang berkurang, Amuura, pemilik toko suvenir dan homestay alami penurunan omzet. Ia tetap membuka toko memenuhi kebutuhan warga asal pulau Pahawang.
“Pakaian yang dijual masih banyak diminati oleh warga pulau Pahawang sebagian saya kredit atau bayar dengan mengangsur,” bebernya.
Dampak bagi pelaku usaha menetap dialami Junarto. Pedagang kelapa muda hijau, merah itu mengaku sebagian buahnya kering imbas sepi pembeli. Namun ia memilih membelah kelapa muda untuk dijual dalam bentuk minuman segar.

Solusi agar buah kelapa muda masih bisa dijual ia mengajak sang istri membuat es kelapa. Es kelapa muda dibekukan sehingga bisa dijual untuk minuman segar.
Menjual kelapa muda di Jalan Way Ratai ia bilang mengandalkan wisatawan. Namun saat hari biasa ia mengandalkan warga yang melakukan perjalanan.
Buah kelapa muda sebutnya jadi sumber penghasilan baginya. Per butir kelapa dijual mulai harga Rp8.000 hingga Rp10.000. Menurunnya jumlah pembeli membuat ia mengurangi jumlah buah kelapa muda semula 300 butir menjadi 200 butir per hari.