Kementan Minta Generasi Milenial Turut Serta Kembangkan Sektor Pertanian

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) menaruh harapan besar terhadap generasi milenial untuk mengembangkan sektor pertanian. Pasalnya, berdasarkan hasil riset Badan Pusat Statistik (BPS) 2020 tercatat, sebanyak 25,87 persen dari total 270,20 juta penduduk Indonesia adalah generasi milenial.

“Kita di sektor pertanian tentunya ingin sekali mendapat manfaat dari bonus demografi Indonesia ini. Kami menaruh harapan besar, agar generasi milenial turut serta meningkatkan ketersediaan pangan,” ujar Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Kementan, Andriko Noto Susanto dalam webinar bertajuk Mampukan Pertanian Menjaga Ketahanan Pangan di Masa Pandemi, Senin (8/3/2021).

Andriko mengungkapkan, Kementan telah menyiapkan sedikitnya empat program khusus untuk menggaet generasi milenial agar memiliki keinginan terjun ke sektor pertanian.

“Pertama kami berikan fasilitas atas hak pemanfaatan lahan pertanian. Kedua kami juga fasilitasi alat dan mesin pertanian untuk mengembangkan pertanian modern,” ungkap Andriko.

Selanjutnya, Kementan juga menyediakan program pertanian terintegrasi dengan pendukung lainnya seperti pelatihan kepemimpinan dan kewirausahaan, kredit, teknologi, input pertanian, asuransi dan pemasaran. Lalu yang terakhir, menyiapkan program pertanian berkelanjutan.

“Kedepan kita akan terus mengembangkan cara bertani yang modern, yang sesuai dengan spirit generasi milenial, seperti pengembangan smart farming, pengembangan dan pemanfaatan screen house, serta pengembangan korporasi petani,” papar Andriko.

Sebelumnya, dalam pernyataan pembuka, Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Suwandi menyampaikan, bahwa Kementan telah menyiapkan 5 Cara Bertindak untuk meningkatkan ketersediaan pangan, khususnya di masa pandemic Covid-19.

“Cara Bertindak pertama kami namanakan Peningkatan Kapasitas Produksi. Ini diaktualisasikan dalam bentuk program pengembangan lahan, perluasan areal tanam baru, dan peningkatan produksi gula, daging sapi, dan bawang putih untuk mengurangi impor,” jelas Suwandi.

Kemudian Cara Bertindak kedua adalah Diversifikasi Pangan Lokal yang dititikberatkan pada kearifan lokal yang fokus pada satu komoditas utama.

“Cara Bertindak ketiga yaitu penguatan cadangan dan sistem logistik pangan. Cara Bertindak keempat adalah mengembangkan pertanian modern. Cara Bertindak kelima adalah gerakan tiga kali ekspor,” papar Suwandi.

“Kita berharap lima cara bertindak ini betul-betul dapat meningkatkan ketersediaan pangan kita dalam rangka menciptakan ketahanan pangan nasional yang kuat, khususnya di masa pandemi seperti saat ini,” sambung Suwandi, menutup.

Lihat juga...