Budidaya Kutu Air, Mudah Murah dan Menguntungkan
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
YOGYAKARTA — Maraknya hobi ikan cupang sejak beberapa bulan terakhir, ternyata mampu mendorong tumbuhnya pembudidayaan kutu air di wilayah Yogyakarta. Selain memiliki potensi keuntungan yang cukup besar, juga diketahui sangat mudah dan minim biaya operasional.
Seperti diungkapkan salah seorang pembudidaya kutu air, Heri Ristandi (25) asal dusun Carikan, Bumirejo, Lendah, Kulonprogo. Pemuda dua puluh lima tahun ini mengaku hanya membutuhkan modal berupa kolam serta bibit seharga Rp10ribu untuk memulai usaha budidaya kutu air miliknya.
Siapa sangka, hanya dalam waktu singkat sekitar 2 bulan saja, ia mengaku sudah bisa mengantongi pendapatan bersih mencapai Rp500ribu lebih setiap harinya.
“Saya hanya memanfaatkan sebanyak delapan buah kolam semen maupun terpal bekas kolam lele. Selain itu juga bibit kutu air yang saya beli dari teman. Waktu itu hanya sebanyak dua sendok makan seharga Rp10 ribu. Sekarang saya sudah menghasilkan sekitar 5 liter kutu air per hari,” ungkapnya, Senin (08/03/2021).
Selama melakukan proses budidaya kutu air, Heri mengaku hampir tak mengeluarkan biaya operasional sama sekali. Hal itu disebabkan karena pakan kutu air hanya berupa limbah sampah organik yang sangat mudah didapatkan di sekitar lingkungan rumahnya.
“Pakan kutu air sangat mudah dan murah. Hanya berupa limbah sampah organik. Seperti kotoran unggas, ataupun limbah sayur-sayuran. Sehingga tidak perlu membeli,” ungkapnya.
Dijelaskan Heri, masa panen budidaya kutu air juga tergolong sangat singkat. Hanya dalam waktu lima hari sejak awal tebar benih, pembudidaya kutu air sudah bisa langsung panen dan menjualnya. Bahkan masa panen tersebut berlangsung secara terus menerus setiap hari tanpa henti.
“Masa panen berlangsung setiap hari. Karena setiap hari kutu air justru harus terus dipanen agar tidak terjadi over populasi, yang dapat mengakibatkan kematian,” jelasnya.
Salah satu kunci budidaya kutu air menurut Heri adalah menjaga kualitas air pada kolam. Dimana kandungan amoniak maupun oksigen pada air kolam harus selalu terjaga. Hal ini menurutnya sangat berpengaruh pada intensitas maupun kuantitas pemberian pakan setiap hari.
“Pemberian pakan tidak boleh terlalu berlebihan karena akan membuat kadar amoniak pada air kolam meningkat yang dapat menimbulkan kematian pada kutu air. Tapi juga tidak boleh terlalu sedikit karena kurang baik untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan,” katanya.
Untuk perawatan, Heri mengaku hanya melakukan pergantian air setiap 3 hari sekali. Sekitar 50 persen air pada kolam dibuang kemudian diganti dengan air baru, untuk mengurangi atau menurunkan kadar amoniak pada kolam.
Salah satu hal yang juga tak kalah penting pada budidaya kutu air adalah menjaga kolam budidaya agar selalu tersirkulasi. Hal ini bisa dilakukan dengan memasang pompa air yang dialirkan dari satu kolam ke kolam lainnya.
“Yang jelas kolam harus selalu steril dari hama yang dapat memakan kutu air. Baik itu ikan, cebong dan hewan lainnya. Sehingga harus selalu dikontrol,” pungkasnya.