Jatuh Bangun Pengrajin Rotan di Malang
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
MALANG — Naik turun roda kehidupan telah dirasakan Misriwati Agustina dalam menjalankan usaha kerajinan rotan. Kesuksesan memasarkan produknya di luar negeri, hingga terpaksa harus gulung tikar, sudah pernah dirasakan pemilik usaha Dona Doni Rattan Galery tersebut.
Dari jatuh bangun pengalamannya tersebut, perempuan yang akrab disapa dengan Ibu Dona ini akhirnya mampu bangkit untuk kembali meneruskan usaha turun temurun dari orangtuanya tersebut.
Diceritakan Dona, ia sudah mulai menekuni usaha kerajinan rotan sejak 1998. Bahkan di 2003, Dona telah mampu mengekspor produk kerajinan rotannya hingga ke Amerika, Abu Dhabi, dan Australia. Namun sayang setelah tahun 2006 pada saat terjadi krisis global, usaha rotan yang sudah ia rintis juga mengalami krisis hingga terpaksa harus gulung tikar.
Berselang dua tahun, tepatnya di tahun 2008, Dona kembali bangkit memulai usahanya dari nol dan kembali mendapatkan kepercayaan untuk mengekspor produknya ke Singapura dan Jepang.
“Alhamdulillah di 2008 saya kerap mendapatkan pesanan dari Singapura dan Jepang. Namun pesanan-pesanan tersebut hanya berlangsung hingga 2010,” kisahnya kepada Cendana News, saat ditemui di rumahnya di jalan Bulutangkis, Tasikmadu, kota Malang, Selasa (9/3/2021).
Karena tidak lagi mendapatkan pesanan dari luar negeri, kemudian di tahun 2010 dengan berbagai pertimbangan, Dona memutuskan beralih menggunakan rotan sintetis untuk berbagai produk kerajinannya. Sedangkan untuk produk rotan tetap diproduksi hanya berdasarkan pesanan saja.
“Kerajinan rotan sebenarnya memang lebih banyak diminati di luar negeri daripada di dalam negeri. Jadi karena tidak lagi mengekspor produk ke luar negeri, maka di tahun 2010 saya putuskan beralih ke kerajinan rotan sintetis untuk menjangkau pasar dalam negeri,” ungkapnya.
Menurutnya, produk kerajinan rotan asli kurang diminati masyarakat Indonesia karena memang produk rotan perawatannya lebih susah dan jangka pakainya tidak lama. Berbeda dengan kerajinan rotan sintetis dimana bahan bakunya lebih awet, mudah dibersihkan, warna lebih bervariasi dan harganya terjangkau.
“Perawatan rotan sintetis kalau terkena debu cukup di bersihkan dengan kuas yang kering. Tapi kalau memang kondisinya terlalu kotor, bisa mencucinya pakai air dan sabun, kemudian dikeringkan. Untuk daya tahannya bisa sampai lima tahun,. Itulah sebabnya kenapa rotan sintetis menjadi pilihan saya untuk melanjutkan usaha ini, salah satunya agar kerajinan rotan bisa dicintai oleh bangsa kita sendiri,” tandasnya.

Lebih lanjut, sejak tahun 1998 hingga saat sekarang, Ibu dari tiga orang anak ini mengaku sudah menciptakan 150 item disain kerajinan rotan. Di antaranya lima model tempat payung, lima model tempat koran, sepuluh model tempat buah, dua puluh model rak bunga, serta lima model tempat sampah dan lain sebagainya. Dengan dibantu 15 orang karyawannya, Dona setiap harinya mampu memproduksi berbagai bentuk kerajinan rotan sintetis sesuai dengan permintaan konsumen.
“Harganya bervariasi mulai dari 15 ribu berbentuk pot gantung, sampai dengan 3,5 juta rupiah berupa kursi atau ayunan. Harga tergantung disain dan ukuran,” sebutnya.
Menurutnya, selain selalu menjaga kualitas produk, Dona memastikan bahwa siapa saja yang membeli kerajinan rotan langsung di tempatnya, akan mendapatkan harga grosir tanpa minimal order.
“Disini tidak ada minimal order. Meskipun hanya beli satu produk di tempat saya, tetap saya kasih harga grosir. Jadi konsumen bisa menjualnya lagi dengan harga mereka sendiri,” ujarnya.
Hal tersebut dilakukannya untuk memberikan kesempatan bagi orang lain mendapatkan rejeki dari produk yang ia buat.
“Semua sudah ada tugasnya masing-masing. Saya yang menyediakan produk dengan harga grosir, nanti costumer yang beli ke saya untuk kemudian dijual kembali. Jadi kita berbagi rejeki agar semua bisa dapat penghasilan,” pungkasnya.
Sementara itu salah satu costumer, Adi Wibowo, mengaku sudah beberapa kali membeli kerajinan rotan sintetis di Dona Doni Rattan Galery untuk dijual lagi. Menurutnya, kerajinan rotan yang ditawarkan kualitasnya bagus dan harganya terjangkau.
“Anyaman rotannya rapi, bentuknya bervariasi dan harganya murah, jadi menguntungkan kalau dijual lagi,” ucapnya.