Transaksi Nontunai Meningkat Kala Pandemi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Transaksi nontunai menggunakan metode pembayaran uang elektronik, meningkat kala pandemi Covid-19. Selain karena pembatasan aktivitas di sejumlah tempat, transaksi nontunai dengan uang elektronik juga mencegah kontak langsung, sehingga meminimalisir kemungkinan penularan Covid-19.

Valeria, salah satu warga Teluk Betung,Bandar Lampung menyebut aspek kesehatan jadi alasan transaksi nontunai dipilih. Sistem tunai atau cash sebutnya mulai dihindari untuk mencegah penyebaran Covid-19. Uang elektronik dalam dompet digital jadi pilihannya.

Valeria (kanan) berbelanja di salah satu toko waralaba memakai uang elektronik mengurangi pemakaian uang tunai di Teluk Betung, Bandar Lampung, Jumat (29/1/2021). -Foto: Henk Widi

Valeria bilang, sejak setahun terakhir, khususnya selama Covid-19, kontak langsung pembeli dan penjual bisa melalui platform jual beli. Sejumlah barang yang diinginkan bisa dipesan memakai pembelian dan pengiriman online. Kemudahan pemberian gratis ongkos kirim, potongan harga atau diskon, sekaligus bonus poin mendorong belanja online. Uang digital dengan sistem dompet elektronik (e-wallet) memudahkan sistem pembayaran.

Transaksi nontunai memakai e-wallet terkoneksi dengan akun rekening bank,  makin memudahkannya berbelanja. Ia juga menyebut tidak harus memegang uang tunai berbentuk kertas. Meski belum terbukti uang kertas menjadi media penyebaran Covid-19, ia memilih memakai uang digital. Platform jual beli memudahkannya berbelanja dari rumah.

“Penggunaan uang elektronik sekaligus mendukung pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat yang makin digencarkan pemerintah kota Bandar Lampung, tanpa harus keluar rumah saya tetap bisa berbelanja, barang bisa diantar sampai ke rumah dengan aplikasi kurir,” terang Valeria, saat ditemui Cendana News, Jumat (29/1/2021).

Penggunaan QRIS, lanjut Valeria, tetap dilakukan saat ia berbelanja di pasar swalayan. Usai membeli barang, ia melakukan sistem pembayaran memakai uang elektronik. Pilihan dompet digital yang digunakannya, memudahkannya mengisi saldo dan transaksi pembayaran lain. Metode QRIS memudahkan ia bisa melakukan pembelian pulsa, membayar tagihan listrik dan berbagai transaksi.

Lukman, pedagang kuliner di Jalan Teuku Umar, Tanjung Karang juga mengaku memakai uang elektronik. Promosi potongan harga hingga 30 persen, diberikan bagi konsumen yang memakai dompet digital tertentu. Dompet digital yang merupakan milik salah satu platform jual beli di Indonesia berlogo S itu memberi kemudahan bagi pelaku usaha dan konsumen.

“Kami tetap sediakan hand sanitizer sebelum konsumen belanja, dengan hanya memindai barcode transaksi, diproses,” bebernya.

Peningkatan penggunaan QRIS atau uang elektronik, sebutnya, mencapai 90 persen. Dari 100 transaksi, ia menyebut 90 pelanggan dominan memakai uang elektronik, sisanya uang tunai. Kerja sama dengan aplikasi pengiriman barang dan makanan makin memudahkan konsumen. Tanpa harus datang ke warung, pelanggan tetap bisa memesan makanan tanpa harus pergi dari rumah. Uang elektronik juga memudahkan saldo pembelian tersimpan di akun dompet digital dan meminimalisir penyediaan uang tunai untuk kembalian.

Pelaku usaha, sebut Lukman, mulai mengikuti edaran wali kota Bandar Lampung. Sesuai surat edaran Nomor:440/133/IV.06/2021 Tentang Pembatasan Jam Operasional Kegiatan Usaha, warung makan masuk kategori restoran hanya buka hingga pukul 22.00 WIB. Sebaliknya, jam operasional pusat perbelanjaan, toko modern hanya hingga pukul 19.00 WIB. Aturan tersebut dilakukan untuk menjaga kesehatan dari potensi kerumunan.

Pada pusat perbelanjaan Chandra Super Store, petugas memindai suhu tubuh dan mewajibkan pengunjung memakai masker. Sebagian kasir telah menyediakan hand sanitizer dan memakai pelindung wajah (face shield).

Transaksi berbasis QRIS diterapkan dengan memakai kartu kredit, dompet digital hingga kartu debet. Pengaturan jarak diwajibkan dengan membatasi pengunjung tidak berkerumun.

Lain halnya dengan akrivitas di pasar tradisional Gudang Lelang, Teluk Betung. Sebagian pedagang memilih mempertahankan transaksi dengan uang tunai.

Marfuah, salah satu pedagang ikan laut, menyebut belum memiliki sistem pembayaran metode QRIS. Namun, ia tetap memperhatikan faktor kesehatan dengan mematuhi protokol kesehatan. Penggunaan uang tunai tetap dipertahankan, sebab ia tidak memiliki dompet digital.

Lihat juga...