Penanganan Banjir di Pekalongan Disiapkan Anggaran Rp3 Miliar
PEKALONGAN – Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng), menyiapkan anggaran sebesar Rp3 miliar, untuk penanganan banjir di wilayah Celumprit, Kecamatan Pekalongan Timur. Dana tersebut berasal dari bantuan Pemprov Jateng.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Pekalongan, Khaerudin mengatakan, progres penanganan banjir di Celumprit sudah masuk dalam penyusunan Detail Engineering Design (DED) atau acuan gambar kerja.
Pada titik lokasi banjir Celumprit, Kelurahan Degayu, kini baru ada satu buah pompa permanen dan sebuah pompa mobile. Alat tersebut diletakkan di ujung muara sungai. “Hanya saja, yang masih menjadi problem adalah air limpasan dari sisi bagian Timur, yaitu perbatasan Kali Gabus dengan Kabupaten Batang. Air mengalir ke barat dan bahkan melimpas ke Jalan Labuhan,” jelasnya.
Khaerudin mengatakan, pemkot terus melakukan upaya penanganan tanggap darurat pascabanjir, yang menggenangi sejumlah wilayah belum lama ini. Banjir terjadi karena curah hujan yang relatif tinggi, dan air laut yang mengalir melalui drainase primer. Yaitu sungai-sungai melimpas hingga menggenangi permukiman warga.
Sebagian permukiman yang terdampak banjir merupakan wilayah berbentuk cekungan, sehingga untuk menyingkirkan air dibutuhkan pompa yang berfungsi secara maksimal. “Sebanyak 21 pompa yang dimiliki pemkot, belum sepenuhnya dapat mengatasi genangan banjir, karena pompa tersebut hanya untuk mengantisipasi air rob dan curah hujan dalam kondisi normal. Limpasan banjir yang terjadi belum lama ini memang cukup tinggi sehingga untuk menyedot air perlu menunggu air laut dan sungai surut,” jelasnya.
Menurutnya, saat terjadi banjir khususnya yang menggenangi di wilayah Kecamatan Pekalongan Utara, pihaknya telah melakukan penanganan di lokasi terdampak, seperti di Kelurahan Krapyak dengan mengerahkan pompa mobile yang diarahkan ke Randujajar. “Adapun untuk penanganan berupa pembangunan tanggul permanen, kami masih menunggu kegiatan program Kota Tanpa Kumuh, sekaligus menormalisasi saluran yang ada di Sumbawan menuju Mahakam,” pungkasnya. (Ant)