Pedagang Mainan Tradisional Mencoba Bertahan di Tengah Gempuran Modernisasi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Puluhan mainan dari gerabah atau tanah liat, tertata rapi di warung milik Kisdarti, di kawasan Jalan Arteri Soekarno Hatta Kota Semarang, atau persis di pintu masuk pasar Johar Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang.

Tidak hanya itu, beberapa mainan dari bahan kaleng juga tergantung di atasnya. Plastik bening juga membungkusnya, menghindarkan dari debu yang berterbangan. Mainan tersebut seperti timbangan, kompor-komporan, hingga aneka alat masak, yang semuanya merupakan mainan anak-anak.

“Masih ada yang beli, meski tidak setiap hari, tapi tetap cukup banyak. Seperti cangkir, piring, guci kecil. Ini untuk mainan anak-anak, yang diberi cat warna-warni harganya Rp2 ribu per buah, sementara yang polosan lebih mahal, karena buatannya lebih halus Rp3 ribu per buah,” papar Kisdarti, pedagang mainan saat ditemui di sela berjualan, Selasa (26/1/2021).

Tidak hanya itu, aneka celengan atau tempat untuk menabung dari tanah liat, juga berjejer rapi di warung kaki lima tersebut. Beragam bentuk seperti kodok, ayam, hingga kelinci pun dipilih, untuk menarik minat pembeli.

“Harganya bermacam-macam, mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu. Tergantung besar kecilnya, serta bentuk celengan. Sedangkan untuk mainan dari kaleng, seperti timbangan dan lainnya itu Rp 25 ribu per buah. Kalau gerabah ini saya ambil dari Mayong Kabupaten Jepara, ada yang antar kesini. Sementara untuk mainan kaleng, diambil dari Surabaya Jawa Timur,” tambahnya.

Warga Barutikung Kota Semarang tersebut, mengaku sudah berjualan mainan anak, khusus mainan dari tanah liat dan kaleng, sejak 12 tahun lalu. Selama itu pula dirinya mencoba bertahan dari gempuran beragam mainan modern, hingga teknologi.

“Selama ini memang sulit, apalagi sekarang banyak anak yang memilih bermain menggunakan handphone, dibandingkan 10-15 tahun lalu. Kalau dulu anak-anak kumpul main masak-masakan, ada yang menggoreng, masak nasi dan lainnya. Agar permainannya seru, mereka pakai mainan masak-masakan ini. Nanti makan minum pakai gelas dan piring gerabah,” terangnya.

Kisdarti, pedagang mainan tradisional saat ditemui di sela berjualan di warung miliknya, Jalan Arteri Soekarno Hatta Kota Semarang, Selasa (26/1/2021). Foto Arixc Ardana

Namun kini, meski masih ada, namun sangat jarang. Meski demikian, dirinya mengaku tetap akan bertahan dengan usaha yang dirintisnya tersebut. “Masih tetap akan bertahan semampu saya. Mudah-mudahan bisa terus bertahan, sampai nanti saya wariskan ke anak cucu,” tambahnya.

Kisdarti tidak sendiri, dalam satu deret di kawasan yang sama, setidaknya ada empat pedagang lain, yang juga menawarkan aneka mainan tradisional baik dari gerabah ataupun kaleng.

Sementara, salah seorang pembeli, Indriyati mengaku membeli mainan masak-masakan untuk anak perempuannya. “Sudah minta dari kemarin-kemarin, tapi saya baru sempat membelikannya sekarang. Buat mainan anak saya bersama teman-temannya di rumah,” papar warga Tlogosari Semarang tersebut.

Dirinya mengaku lebih senang, sang anak bermain dengan alat mainan tersebut, dibandingkan hanya berkutat dengan telepon genggam. “Kalau pakai alat mainan ini, mereka bisa kumpul bareng, tidak hanya di kamar mainan handphone. Bisa kumpul bersama,” lanjutnya.

Di satu sisi, dirinya juga mengaku seperti bernostalgia kembali, dengan membelikan mainan tersebut. Persis seperti yang dialaminya sewaktu kecil dulu, dibelikan alat permainan yang sama oleh orang tuanya.

“Kalau saya dulu ya mainannya ini. Terutama piring atau celengan gerabah warna-warni, dulu hanya ada pas acara pasar dugderan (tradisi menjelang puasa di Semarang-red),” pungkasnya.

Lihat juga...