Minim Susulan, Gempa Majene Berpotensi Menyimpan Medan Tegangan

Gempa menyebabkan tanah longsor di bagian jalur trans Sulawesi di Desa Onang, Kecamatan Tubo, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, pada Kamis (14/1/2021). ANTARA

JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, telah terjadi 32 kali gempa susulan di wilayah Majene-Mamuju, pascagempa kuat Jumat (15/1/2021) dinihari. Aktivitas tersebut dinilai sangat rendah, sehingga patut diwaspadai masih adanya medan tegangan yang tersimpan.

Medan tegangan yang tersimpan tersebut berpotemsi dapat memicu gempa susulan dengan intensitas kuat. “Jika mencermati aktivitas gempa Majene saat ini, tampak produktivitas gempa susulannya sangat rendah. Padahal stasiun seismik BMKG sudah cukup baik sebarannya di daerah tersebut. Sehingga, gempa-gempa kecil akan dapat terekam dengan baik. Namun hasil monitoring BMKG menunjukkan, gempa Majene ini memang miskin gempa susulan (lack of aftershocks),” kata Koordinator bidang Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, Sabtu (16/1/2021).

Daryono menilai, fenomena tersebut agak aneh dan kurang lazim. Gempa kuat di kerak dangkal (shallow crustal earthquake) dengan magnitudo 6,2 semestinya diikuti banyak aktivitas gempa susulan. Gempa susulan terjadi pada Sabtu (16/1/2021) pukul 06.32.55 WIB dengan magnitudo 4,8. Episenter terletak di darat pada jarak 29 kilometer arah Tenggara Kota Mamuju. Pusat gempa ini relatif sedikit bergeser ke utara, dari klaster seismisitas yang sudah terpetakan.

Gempa ini adalah gempa ke-32, yang terjadi sejak Gempa Pembuka dengan magnitudo 5,9 pada Kamis (14/1/2021) pukul 13.35 WIB. Tetapi gempa ini menjadi gempa ke-23, pascagempa utama dengan magnitudo 6,2 pada Jumat (15/1/2021) dinihari pukul 01.28 WIB. “Jika kita bandingkan dengan kejadian gempa lain sebelumnya dengan kekuatan yang hampir sama, biasanya pada hari kedua sudah terjadi gempa susulan sangat banyak, bahkan sudah dapat mencapai jumlah sekitar 100 gempa susulan,” ujar Daryono.

Diprakirakannya ada dua kemungkinan, fenomena rendahnya produksi aftershocks di Majene disebabkan karena telah terjadi proses disipasi. Medan tegangan di zona gempa sudah habis, sehingga kondisi tektonik kemudian menjadi stabil dan kembali normal.

Atau justru malah sebaliknya, dengan minimnya aktivitas gempa susulan, ini menandakan masih tersimpannya medan tegangan yang belum rilis. Sehingga masih memungkinkan terjadinya gempa dengan magnitudo signifikan. “Fenomena ini membuat kita menaruh curiga, sehingga lebih baik kita patut waspada,” tandasnya.

Ia mengakui, kondisi saat ini merupakan perilaku gempa yang sulit diprediksi, dan menyimpan banyak ketidakpastian. (Ant)

Lihat juga...