Kunci Penanganan Pandemi adalah Masyarakat untuk Mencegah Penularan
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Tidak pernah dinyatakan dalam sejarah bahwa vaksin adalah solusi terhadap kejadian pandemi. Pandemi hanya bisa diselesaikan dengan peran aktif masyarakat dalam mencegah penularan. Dan vaksin hanyalah tambahan dalam upaya mencegah penularan dan penurunan pengendalian pandemi.
Epidemiolog Pandu Riono menyatakan vaksin bukanlah jawaban atas pandemi.
“Jawaban atas pandemi itu, bukan vaksin Sinovac, bukan vaksin Modena tapi leadership dalam mengambil langkah yang tepat untuk penanganan pandemi melalui edukasi dan komunikasi dengan masyarakat,” kata Pandu Riono dalam acara kesehatan online, Jumat (29/1/2021).
Ia menyatakan, sebenarnya, garda terdepan dalam penanganan pandemi atau kondisi outbreak, bukan hanya COVID-19, tetapi adalah masyarakat.
“Bukan tenaga kesehatan. Tapi masyarakat. Jika masyarakat sudah tidak mampu, barulah tenaga kesehatan ini tampil,” ucapnya tegas.
Masyarakat, lanjutnya, bisa menjadi garda terdepan melalui edukasi dan komunikasi intensif.
“Sehingga mereka memahami pentingnya 3M seraya pemerintah terus melaksanakan 3T. Jangan nanti setelah vaksinasi, 3M dan 3T-nya malah tidak dilakukan. Vaksin itu cuma tambahan dalam upaya penurunan pengendalian pandemi,” ucapnya lagi.
Pandu menyebutkan herd immunity itu target jangka panjang. Bukan target yang didapatkan dalam tahun ini.
“Kita rasional saja. Yang kita targetkan adalah penurunan pengendalian pandemi. Dengan cara apa? Dengan menentukan siapa dan wilayah mana yang harus diprioritaskan,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa tidak boleh lagi menggunakan konsep keseimbangan. Tapi harus fokus pada akar masalah, yaitu pandemi.
“Indonesia ini belum punya national plan. Dan tanpa itu, kita tidak tahu apa yang kita lakukan dan bagaimana kita akan memonitoring. Jangan lakukan kesalahan yang sama seperti tahun lalu, jangan ada denial lagi, jangan ada keterlambatan lagi. Sudah saatnya, Kementerian Kesehatan yang menangani. Bukan oleh Satgas ataupun gugus tugas. Tanpa ada penyelesaian masalah, maka tidak ada perbaikan ekonomi,” paparnya.
Ia mengingatkan tentang efek yang diberikan pada dunia pariwisata di tahun kemarin.
“Akhirnya apa? Angka terus meningkat. Tidak ada perubahan. Angka tembus satu juta kasus? Saya tidak kaget lagi. Karena itu hanya angka yang terkonfirmasi. Angka yang terinfeksi sebenarnya lebih banyak,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Guru Besar FK Universitas Indonesia, Prof. Tjandra Yoga Aditama.

“Vaksin ada itu bukan solusi. Karena setelah adanya vaksin, masih ada yang perlu diperhatikan. Baik itu cara pemberian, berapa lama proteksi bertahan, distribusinya, kelompok yang masih menolak vaksin, post marketing surveillance dan yang sekarang lagi ramai adalah mutasi virus,” ucapnya.
Walaupun mutasi adalah suatu hal yang alamiah dilakukan oleh virus, tapi hal ini harus diikuti dengan penyesuaian vaksin. Jadi bukan berarti vaksin yang ada sekarang itu 100 persen efektif.
“Contohnya, mutasi D641i yang dinyatakan oleh Malaysia lebih menular pada pertengahan 2020 lalu. Itu sebenarnya sudah ada sejak Februari 2020. Lalu ada mutasi yang disampaikan oleh Inggris dan Afrika Selatan pada Desember 2020 dan Januari ini dilaporkan oleh Jepang dan Colombia,” urainya.
Vaksin yang ada sekarang tentunya perlu mendapatkan tindakan penyesuaian sehingga bisa menghadapi mutasi virus tersebut.
“Jika memang berkurang kemampuannya dalam menghadapi virus artinya butuh perubahan agar bisa melawan varian yang baru. Sehingga masyarakat, walaupun sudah divaksin tetap harus menjaga 3M. Karena vaksin ini hanya sebagian dari upaya pencegahan. Bukan solusi pandemi,” pungkasnya.