Selama Pandemi, Omset Usaha Sambal Pecel di Kediri Naik

Pekerja mengemasi sambel pecel merek Mbak Ti, milik Budi Handayani, warga Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur. Omzet sambel pecel naik drastis saat pandemi COVID-19 – Foto Ant

KEDIRI – Omset usaha sambal pecel di Kediri mengalami kenaikan, selama pandemi COVID-19. Seperti yang di alami usaha sambel pecel merek “Mbak Ti”, milik Budi Handayani, warga Kelurahan Betet, Kota Kediri, Jawa Timur.

Omset sambel pecel Mbak Ti naik drastis saat pandemi COVID-19. “Alhamdulillah mulai Maret ada omzet 75 persen kenaikan dari rata-rata bulanan. Saya kaget, alhamdulillah naik,” kata Budi Handayani di Kediri, Senin (21/9/2020).

Usaha sambal pecel tersebut sudah ditekuni sejak 2011. Awalnya, dulu ibundanya di sekira 1980-an, berjualan sambal pecel. Dalam prosesnya, sambel pecel yang dibuat laku keras. Namun, sempat vakum hingga akhirnya dirinya kembali menekuni usaha berjualan sambal pecel dengan lebih modern.

Salah satu yang mendorong untuk menghidupkan kembali usaha tersebut adalah, keberadaan bahan baku pembuatan sambal pecel yang melimpah. Cabai relatif mudah didapat di pasar. Selain itu, gula jawa sebagai salah satu bahan juga melimpah. “Ide awal membuat sambal pecel ini karena bahan tidak telat. Karyawan saya rata-rata pensiunan, jadi kami berdayakan mereka,” ujar Budi, yang merupakan warga Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri .

Permintaan sambal pecel saat ini terus naik. Dalam sehari, setidaknya bisa membuat sambel hingga 1 kuintal banyaknya. Ada 10 pekerja yang dilibatkan, yang terdiri dari delapan orang tenaga kerja perempuan dan sisanya laki-laki. Budi mengklaim, tidak terlalu mengalami kesulitan meski permintaan semakin tinggi. Justru hal itu membuat lebih bersemangat para pekerja untuk memproduksi, karena pendapatan juga bisa bertambah.

Untuk membuat sambal, bahan baku dipilih yang segar-segar terutama cabai. Ada cabai rawit dan cabai keriting. Semuanya dibersihkan. Bumbu lainnya yakni kacang tanah, gula merah, bawang putih, garam, daun jeruk purut, serta asam jawa. 

Bumbu sambal pecel yang diproduksi tidak menggunakan kencur, dan dominan daun jeruk purut, sehingga rasanya lebih segar. Untuk kacang tanah, dimasak dengan cara dioven sebelum ditumbuk. Hal itu membuat sambel bisa bertahan lama, bahkan hingga satu tahun. Selain itu, warna dari sambal juga lebih bagus saat kacang dioven. “Untuk bahan baku kacang kami oven, sehingga tekstur lebih cerah, cantik daripada metode lainnya. Saya pernah coba (motode lain) tapi satu pekan sudah gelap, hitam begitu jadinya,” tandasnya.

Sambal pecel yang diproduksi dikemas dengan berbagai model, sesuai dengan kebutuhan pasar. Yang paling besar dikemas ukuran 200 gram, biasa dipasarkan di toko oleh-oleh. Namun, untuk harga jualnya adalah Rp40 ribu per kilogram.

Budi mengatakan, pasar dari produknya juga dari berbagai daerah, termasuk dari Jawa Timur, hingga sejumlah kota di luar Pulau Jawa. Bahkan, produk jualannya juga dikemas untuk pasar ekspor. Untuk penjualan ke luar negeri, selama ini ke Hong Kong dan Dubai. Untuk pasar Hong Kong, awalnya ada TKI yang meminta kiriman sambal dan ternyata rasanya cocok. Sehingga terus minta kiriman untuk dijual lagi. Sedangkan, untuk Dubai, awalnya ada keluarga TKI yang bekerja di bidang perminyakan meminta dikirimi sambal pecel. Dan, dari TKI di Dubai tersebut cocok, sehingga terus minta kiriman sambel pecel.

“Untuk pengiriman Keresidenan Kediri, Jabodetabek. Untuk luar Pulau Jawa ke Kalimantan. Dulu rata-rata 50 kilogram, setelah di bulan Maret 2020 ini 1 kuintal bahkan lebih. Itu wilayah keresidenan Kediri, belum terhitung dari luar Pulau Jawa. Di Kalimantan bahkan 300 persen kenaikannya,” ujarnya.

Ia mengaku senang usahanya ini bisa berkembang. Selain bisa memberdayakan para tetangga, dengan usaha ini membuat ekonomi keluarganya juga membaik. Ia berharap, usaha yang dikelolanya ini juga terus maju. Pemkot Kediri juga terus mendukung pemilik UMKM di Kota Kediri untuk terus berkembang, terlebih lagi di masa pandemi COVID-19. Dengan terus produktif, roda perekonomian juga akan terus berjalan.

Selama masa pandemi COVID-19 dan era normal baru, Pemerintah Kota Kediri berupaya keras menjaga kelangsungan usaha UMKM, dengan mendukung permodalan. Selain itu, Pemkot Kediri juga melakukan pendampingan, digitalisasi UMKM, membentuk persepsi publik, ikut promosi produk, serta membuat kemitraan strategis dengan private sector. Pemkot juga melakukan pendampingan UMKM berupa workshop foto atau video, social media marketing, desain packaging, standar pangan, dan sebagainya. (Ant)

Lihat juga...