Memahami Hipertensi dan Upaya Pencegahannya

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Walaupun kasus hipertensi sering ditemui di masyarakat saat ini tapi banyak yang tidak memahami apa sebenarnya hipertensi itu dan apa yang menyebabkannya. Akibatnya, banyak masyarakat yang tidak menyadari cara penanganan maupun perawatannya.

dr. Agus Rahmadi BIOMED, MA, menjelaskan, hipertensi atau darah tinggi merupakan suatu penyakit yang timbul akibat naiknya tekanan darah pada seseorang.

dr. Agus Rahmadi, BIOMED. MA saat acara online kesehatan, Sabtu (22/8/2020) – Foto: Ranny Supusepa

“Ada dua jenis hipertensi, yaitu primer dan sekunder. Dimana yang primer ini tidak diketahui penyebabnya dan yang sekunder merupakan hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lainnya,” kata Agus dalam satu acara online, Sabtu (22/8/2020).

Ia mengibaratkan hipertensi itu sebagai suatu kondisi selang air yang keras. Sementara hipotensi seperti kondisi selang air yang lembek.

“Penyebabnya adalah, secara langsung air yang ada dalam selang tersebut. Dalam artian, pengaruhnya bisa dari si air itu sendiri, mengapa air itu jadi keras. Atau selangnya yang kekecilan. Atau kapasitas pompa air yang terlalu besar jika dibandingkan ukuran selang,” urainya.

Sehingga, jika diaplikasikan langsung  yang harus dilihat adalah pembuluh darah, darah, jantung dan sistem pengeluaran tubuh.

“Pembuluh darah itu memiliki elastisitas. Yang mana, ia bisa mengecil atau membesar dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah saraf,” urainya.

Saat pembuluh darah membesar, maka volume darah yang ada di dalamnya akan membesar dan saat mengecil artinya volume darah juga akan mengecil atau sedikit.

“Pada hipertensi, yang terjadi adalah selangnya mengecil sementara volumenya besar. Karena itu, dalam perawatan pasien dengan hipertensi, ada obat yang ditujukan untuk memperbesar pembuluh darah, sehingga bisa menampung arus darah,” urainya lebih lanjut.

Faktor kedua adalah darah yang volumenya bisa banyak atau bisa sedikit. Dalam hal ini, darah mengandung terlalu banyak air.

“Sehingga pada pasien hipertensi, diminta untuk mengurangi konsumsi garam. Karena garam bisa mengikat air, yang menyebabkan volumenya semakin bertambah,” ucapnya.

Dan faktor ketiga adalah jantung sebagai pompa darah ke seluruh tubuh. Jika pompanya bekerja dengan kapasitas besar sementara pembuluh darahnya kecil, maka akan timbul  hipertensi.

“Faktor terakhir adalah keran atau sistem pengeluaran dalam tubuh. Yang dalam hal ini, salah satunya adalah ginjal. Kalau ginjalnya tidak berfungsi secara normal maka proses pengeluarannya juga terganggu hingga bisa menyebabkan hipertensi,” imbuhnya.

Agus menyebutkan gejala hipertensi tidaklah spesifik. Tapi yang paling sering diidentifikasikan sebagai gejala hipertensi adalah nyeri di kepala.

“Nyeri kepala ini tidak merujuk pada hipertensi saja. Tapi bisa menjadi pertanda untuk seseorang melakukan pengecekan tekanan darah jika mengalami nyeri kepala. Harus diukur, untuk bisa memastikan bahwa benar tekanan darahnya meningkat,” ujarnya.

Kondisi hipertensi ini, lanjutnya, tidak bisa dipatok secara umur maupun gender. Harus dilakukan dengan melihat kondisi setiap faktor yang mempengaruhi.

“Hipertensi itu biasanya terjadi pada orang yang pembuluh darahnya mulai kaku, yang memang biasa terjadi pada orang yang beranjak tua. Walaupun pada usia muda, kasus hipertensi juga banyak ditemukan sebagai akibat dari pola makan yang banyak mengandung garam dan MSG,” paparnya.

Untuk menangani kondisi hipertensi ini, ia menyebutkan, yang biasa dilakukan oleh tenaga medis adalah memberikan obat yang membantu memperbaiki setiap faktor yang mempengaruhi keberadaan hipertensi ini.

“Misalnya obat yang digunakan melebarkan pembuluh darah, yang akan mengurangi tekanan pada pembuluh darah. Atau secara alami, yang bisa dilakukan adalah dengan manajemen stres dan relaksasi untuk melebarkan pembuluh darah,” ucapnya.

Atau sebagai alternatif lainnya, adalah mengonsumsi beberapa tanaman yang ditengarai mampu menurunkan tingkat stres dan melebarkan pembuluh darah.

“Walaupun belum diuji secara klinis, tapi beberapa tanaman obat memiliki khasiat untuk membantu melebarkan pembuluh darah. Contohnya, tanaman pegagan, yang sering diminum oleh sebagian orang dalam bentuk teh,” imbuhnya.

Cara lainnya adalah mengurangi epinefrin, yang jika berada dalam tubuh secara berlebih akan berpotensi menciutkan ukuran pembuluh darah.

“Penelitian menunjukkan bahwa epinefrin ini berkaitan dengan kadar kortisol dalam tubuh. Sehingga jika epinefrinnya berkurang, maka kortisolnya juga akan berkurang sehingga pembuluh darah bisa membesar. Caranya ya dengan olahraga dan cukup tidur,” kata Agus.

Konsep lainnya yang perlu dilakukan dalam menangani atau mencegah terjadinya hipertensi adalah dengan menjaga asupan garam ke tubuh dan mengkonsumsi lebih banyak Kalium.

“Banyak makanan yang tinggi Kalium, seperti kurma, pisang dan alpukat. Harapannya adalah dengan naiknya Kalium maka kadar Natrium akan turun. Sehingga cairan dalam darah akan terbuang. Makanan yang bisa membantu membuang cairan ini, seperti timun dan seledri,” urainya lebih lanjut.

Menjaga berat badan yang identik dengan berlebihnya lemak dalam tubuh, juga perlu dihindari untuk mencegah terjadinya hipertensi.

“Gambarannya seperti ini, jika pembuluh darah itu tertekan oleh banyaknya lemak di tubuh, maka akan membuat aliran darah akan terhambat. Berat badan ini, mempersulit proses penyembuhan hipertensi. Sehingga, sangat penting untuk menjaga berat badan dalam angka yang ideal,” lanjutnya.

Tingginya kasus hipertensi ini, menurut Agus harus ditanggulangi dengan membangun kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini pada gejala yang timbul.

“Harus rutin melakukan cek kesehatan. Jangan merasa karena masih muda atau tidak ada gejala lalu merasa tidak akan terkena hipertensi. Jaga gaya hidup sehat sejak muda. Karena penyakit yang timbul di masa tua itu seringkali merupakan efek jangka panjang dari apa yang dilakukan saat muda,” pungkasnya.

Lihat juga...