Hypoxia Diawali Adanya Infeksi di Paru-Paru
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
PURWOKERTO — Dalam beberapa hari terakhir muncul gejala baru pada pasien positif Covid-19 yang disebut happy hypoxia atau berkurangnya suplai oksigen dalam tubuh. Hypoxia diawali dengan adanya infeksi di paru-paru yang bisa menyebabkan gagal nafas.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyumas, Sadiyanto mengatakan, pasien positif Covid-19 yang terkena hypoxia, seharusnya mengalami sesak nafas akibat infeksi paru-paru. Hanya saja hypoxia yang dialami tidak menyebabkan kompensasi klinis dari fisik sesak napas, sehingga pasien merasa nyaman saja dan tidak merasa sesak padahal saturasi oksigen terus turun.
“Ini yang menyebabkan menjadi sangat berbahaya, karena penurunan kadar oksigen tidak dirasakan gejalanya di awal. Baru terasa sampai kekurangan oksigen yang fatal, pasien menjadi gelisah hingga penurunan kesadaran, suplai oksigen di otak kurang, gagal napas dan bisa menyebabkan kematian,” terangnya, Minggu (30/8/2020).
Lebih lanjut Sadiyanto menjelaskan, ada perbedaan mendasar pada Orang Tanpa Gejala (OTG) dan happy hypoxia. Bila mengacu pedoman, Orang Tanpa Gejala adalah orang yang tidak memiliki gejala dan memiliki resiko tertular dari orang terkonfirmasi Covid-19. Orang yang memiliki kontak dekat dengan pasien positif masuk dalam kriteria Ini.
Namun ada situasi yang abnormal yang bisa terjadi padi pasien yang terinfeksi Covid-19, karena adanya infeksi ke paru paru atau happy hypoxia yaitu kondisi yang mengarah ke gagal napas, diawali dengan penurunan kadar oksigen dalam darah, ditandai dengan penurunan suplai oksigen.
“Ada lagi istilah pasien terkonfirmasi positif dengan tanpa gejala, yaitu orang yang hasil pemeriksaan swab PCR nya positif, tapi saat hasil menunjukkan positif yang bersangkutan tidak mengeluhkan adanya gejala. Gejala yang muncul bisa saja ringan di waktu sebelumnya,” jelasnya.
Beberapa gejala dari infeksi Covid-19 adalah demam, nyeri tenggorokan, batuk, pilek, hilang indra penciuman, mual dan muntah. Beberapa gejala bisa dialami bersamaan, atau pasien bisa mengalami salah satu dari gejala saja. Gejala bisa muncul dari ringan, sedang, sampai berat. Untuk gejala yang mengarah ke gejala yang berat adalah sesak napas, karena biasanya harus segera mendapat perawatan medis.
“Jadi antara OTG dan happy hypoxia tidak bisa di komparatifkan, OTG adalah kriteria orang terkait kontak orang dengan pasien terkonfirmasi positif, sedangkan happy hypoxia adalah tanda dan gejala berat dari infeksi Covid-19,” tuturnya.
Untuk pasien yang swab positif tapi tidak memiliki gejala saat diperiksa, maka termasuk kategori terkonfirmasi positif Covid-19 dengan tanpa gejala.
Sebelumnya, Bupati Banyumas, Achmad Husein mengatakan ada tiga pasien positif Covid-19 di Banyumas yang meninggal karena happy hypoxia. Dimana kadar oksigennya mengalami penurunan dratis.
“Kadar oksigen yang normal itu di atas 90 persen, pasien positif Covid-19 di Banyumas yang meninggal karena hypoxia, kadar oksigennya turun hingga 80 – 75 persen,” pungkasnya.