Pulau Solor Potensial untuk Pengembangan Kelor
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LARANTUKA — Tanaman Kelor atau Marungga sejak jaman dahulu sudah ditanami masyarakat di Pulau Solor Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan pulau karang.
Pamor Kelor yang kian meningkat membuat pemerintah NTT tertarik mengembangkan dengan tujuan dapat meningkatkan kesejahteraan, dan menjadi konsumsi masyarakat untuk mencegah stunting dan gizi buruk.
Saat meninjau penanaman, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat mengatakan, kelor merupakan tanaman yang produknya sangat dibutuhkan dunia, apalagi dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini.
Banyak negara di dunia membutuhkan protein yang tinggi sehingga tanaman kelor adalah satu-satunya pohon yang dinilai ajaib karena kaya vitamin dan gizi.
“Tantangan pengembangan kelor yakni ketersediaan air, tetapi untuk lahan seperti di Pulau Solor sangat bisa dikembangkan dengan sistem irigasi tetes.Pohon kelor mempunyai daya tahan yang sangat luar biasa, dimana ketika mendapatkan cukup air maka kelor akan bertahan selama 60 tahun,” ucapnya
Viktor berharap pemerintah membantu penanaman kelor di Solor agar bisa berjalan dengan baik dan bisa menjadi kelor organik, sehingga kebutuhan pasar dunia yang begitu tinggi dapat dipenuhi.
Sejauh ini sebutnya, kelor memang masih banyak ditanam secara liar oleh masyarakat. Ia berharap, kedepannya bisa berkembang pesat mencapai 30 sampai 40 hektare agar bisa dijadikan industri perkebunan.
“Kalau berkembang pesat lahan kelornya maka kita akan memproduksi sendiri termasuk pengeringan dan membuat kemasannya. Langkah Pemda Flores Timur serius menjadikan kelor sebagai program pemerintah sangat baik dan kabupaten ini akan menjadi satu kabupaten terkaya di NTT dengan kelornya,” pungkasnya.
Sementara itu, masyarakat setempat mengaku mendapatkan instruksi dari pemerintah untuk menanam kelor di lahan 13 hektar.
“Kami disuruh membuka lahan dan menanam kelor di lahan seluas 13 hektare,” kata ketua kelompok penanaman kelor di Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, NTT, Feliks Soge Lewar, Rabu (29/7/2020).
Feliks katakan, anggota kelompok sebanyak 60 orang asal Desa Pamakayo dan Lewonama diminta untuk membuka lahan di padang savana seluas 13 hektare dan menanam kelor.
Warga dibayar Rp60 ribu per hari setiap orangnya sebutnya hanya untuk membersihkan lahan dan menanam kelor saja dan belum ada pembicaraan ke depannya soal perawatannya.
“Lahan 13 hektare tersebut, 4 hektare dikembalikan ke pemilik lahan dan sisanya diserahkan ke masyarakat untuk dikelola,” terangnya.