Pengembangan Budidaya Udang Diharap Tetap Pertahankan Vegetasi Mangrove
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LAMPUNG — Kepala UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah XIII Gunung Rajabasa-Way Pisang-Batu Serampok, Wahyudi Kurniawan mengharapkan pengembangan sektor usaha budidaya udang tetap mempertahankan vegetasi mangrove.
Sesuai rencana, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membentuk kluster budidaya udang. Lokasi yang dipilih berada di kawasan pesisir timur, Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan. Diketahui wilayah pengembangan cluster budidaya udang masih berada di area Register I Way Pisang.
“Sebanyak 50 hektare kawasan hutan mangrove yang masih alami tetap dipertahankan dan tidak diizinkan melakukan perluasan tambak untuk mencegah abrasi, bahkan jika memungkinkan akan diperluas untuk tanaman mangrove,” terang Wahyudi Kurniawan saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (23/7/2020).
Upaya pelestarian mangrove telah dilakukan bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Hijau Lestari. KTH tersebut berada di Dusun Kuala Jaya, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi yang melakukan konservasi pesisir pantai. Jenis tananaman mangrove api api, bakau dan prepekan tetap dipertahankan. Persediaan bibit sebanyak 60 ribu batang dipersiapkan untuk konservasi wilayah yang terimbas abrasi.
Wilayah hutan produksi yang telah menjadi tambak disebutnya tidak bisa diperluas. Izin untuk pembukaan pada kawasan Register I Way Pisang harus melalui Dinas Kehutanan Provinsi Lampung.
Integrasi mangrove dan tambak yang sudah ada akan meningkatkan kualitas udang. Sebab sistem irigasi dari laut akan melewati hutan mangrove. Kolam penampungan yang telah terserap akar mangrove diharapkan menghasilkan kualitas air yang memadai untuk budidaya.
Zainal Fatoni, kepala Desa Pematang Pasir menyebut cluster tambak udang dipusatkan di desanya. Sejumlah program yang digulirkan diantaranya pengelolaan irigasi tambak partisipatif (PITAP).
“Selama ini banyak petambak menjalankan usaha secara tradisional, sistem cluster diharapkan meningkatkan kualitas tambak kami,” cetusnya.
Sistem tambak ramah lingkungan menurutnya akan diimbangi dengan pengembangan mangrove. Sebab wilayah Pematang Pasir yang ada di pesisir memiliki hutan mangrove yang masih tetap terjaga.
Suroto, salah satu petambak tradisional menyebut budidaya udang vaname dan windu sebagian dilakukan tradisional. Wilayah pesisir yang dijadikan cluster budidaya udang diakuinya akan ikut meningkatkan kesejahteraan. Pembenahan irigasi jadi harapan selama belasan tahun. Sebab rehabilitasi saluran kerap harus mempergunakan alat berat dan biaya yang mahal.
Perhatian dari pemerintah dengan pembuatan cluster sekaligus memperbaiki tanggul. Jalur tanggul yang selama ini dikenal sebagai paret oleh masyarakat sekaligus menjadi akses jalan. Sistem klaster diharapkan ikut memperbaiki infrastruktur jalan memperlancar distribusi hasil panen. Pendampingan pengelolaan kawasan mangrove sekaligus menjadi paket usaha pertambakan berkelanjutan berbasis konservasi.