Masakan Mangut Bu Ana Semarang yang Legendaris
Editor: Koko Triarko
SEMARANG – Semarang sebagai kota pesisir, dikenal dengan keragaman menu bahari. Salah satunya kuliner mangut. Begitu terkenalnya makanan ini, ada pepatah mengatakan, belum ke Semarang kalau belum mencicipinya.
Ada banyak warung makan yang menyediakan jenis menu makanan laut, termasuk mangut. Satu di antaranya warung mangut Ibu Ana. Terletak di kompleks Maerakaca PRPP Semarang, warung kaki lima tersebut selalu ramai dikunjungi pembeli.
Meski kelas kaki lima, namun peminatnya tidak pandang status. Pembeli bermobil pun rela antre untuk bisa mencicipi kelezatan mangut di warung tersebut.

“Saya sudah puluhan tahun jualan di sini. Menu utamanya aneka masakan laut, ada cumi hitam, udang, ndas manyung, sampai mangut. Masaknya dengan cara mangut, tapi ikannya bisa beda-beda, bisa iwak sembilang atau manyung,” terang Ana, pemilik warung di Semarang, Sabtu (25/7/2020).
Bercita rasa manis pedas, masakan mangut warung Ibu Ana sudah dikenal luas. Tidak hanya masyarakat umum, para pejabat, termasuk Gubenur Jateng, Ganjar Pranowo, pun menjadi pelanggan. Demikian juga, Direktur PRPP Jateng, Titah Listyorini, juga menjadi konsumen tetap, setiap ada kegiatan di PRPP, selalu tidak lupa memesan menu mangut untuk para tamu.
“Banyak pejabat-pejabat yang datang, makan di sini. Biasanya hari kerja, pas jam makan siang. Ada juga rombongan anggota DPRD dari luar kota, yang kebetulan ada acara di Semarang, juga menyempatkan datang,” lanjutnya.
Ana mengaku, untuk menghasilkan masakan mangut yang pas, dirinya menggunakan bumbu dan bahan sesuai takaran.
“Sebenarnya bumbu yang dipakai sama saja, tapi mungkin takarannya yang pas. Jadi, terasa lebih enak. Bumbunya, kemiri dan cabai ditumbuk atau diuleg sampai lembut. Baru ditambah irisan bawang merah, bawang putih dan cabai lagi. Bumbu digongso (sangrai) sampai harum, kemudian diberi santan dan ikan mangut dimasukkan hingga mendidih,” paparnya lagi.

Jika sedang ramai, dirinya mengaku bisa memasak ikan manyung hingga lima kilogram. Per kilo rata-rata ada sekitar 15 potong. Tidak hanya daging mangut, bagin kepala ikan juga diolah menjadi kuliner ‘ndas’ (kepala) manyung. “Kalau ndas manyung, sehari rata-rata 20 – 25 kepala,” lanjutnya.
Untuk bisa menikmati seporsi sego mangut komplit, pembeli perlu merogoh kocek Rp26 ribu. Sementara untuk ndas manyung, harganya tergantung ukuran besar kecilnya. Namun, antara Rp40ribu – Rp80 ribu per porsi.
“Harganya kalau ukuran kecil Rp40 ribu – Rp50 ribu, standar. Sedangkan yang besar Rp80 ribu, bisa dimakan untuk tiga orang,” tegasnya.
Ana pun berseloroh, seakan belum ke Semarang kalau tidak mencicipi menu mangut khas Semarangan tersebut. “Pokoknya belum ke Semarang, kalau belum makan sego mangut,” terangnya sembari tersenyum.
Sementara, salah seorang pembeli, Ina Mutiana, mengaku warung sego mangut Ibu Ana sudah sangat dikenal. Dirinya pun sudah menjadi langganan tetap warung tersebut, sejak dua tahun lalu.
“Sering kemari, hampir setiap bulan pasti menyempatkan diri makan di sini. Cuma sempat terhenti saat ada pembatasan kegiatan, karena Covid-19. Warung juga tutup, tapi sekarang sudah buka, jadi datang lagi,” paparnya.
Diakuinya, cita rasa bumbu mangut yang pas, manis pedas, menjadi daya tarik utama. “Rasanya itu mantab, santannya tidak terlalu pekat, pedasnya pas. Jadi, enak,” pungkasnya.