Masa Tanam, Petani di Lasmel Andalkan Pakan Ternak dari Hasil Kebun

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Masa tanam jagung, sayuran berimbas petani tidak bisa melepasliarkan ternak kambing, sapi yang dimiliki. Adam, petani pemilik ternak di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut ia memilih mengandangkan belasan ternak untuk meminimalisir kerusakan tanaman.

Proses mengandangkan ternak saat awal masa tanam diakui Adam menjadi kesepakatan bersama. Sebagai solusi untuk mendapat asupan pakan ia dan petani lain memanfaatkan daun tanaman dari kebun miliknya.

Ternak jenis ruminansia tersebut tetap mendapat asupan pakan tanpa harus digembalakan. Petani yang memiliki kebun dengan berbagai tanaman nangka, mindi, leresede tersebut mengintegrasikan pertanian dengan perkebunan.

“Kearifan lokal petani di wilayah ini tidak akan melepasliarkan ternak agar tidak merusak tanaman milik petani lain, ternak kambing akan aman di kandang sekaligus tidak merusak tanaman dan bahan pakan tetap bisa diperoleh,” terang Adam saat ditemui Cendana News, Rabu (22/7/2020).

Petani yang sekaligus memiliki ternak akan melakukan penanaman bahan pakan. Berbagai jenis tanaman pakan yang berfungsi sebagai pagar hijau meliputi rumput gajahan, rumput odot, kemlandingan dan nangka. Sistem penyediaan pakan secara swadaya dilakukan petani pemilik ternak tanpa harus mengambil sumber pakan dari kebun milik orang lain.

Integrasi ternak dengan perkebunan diakui Adam sekaligus menjadi siklus menguntungkan. Sebab ternak kambing menghasilkan kotoran bahan pupuk. Pupuk kandang yang telah dibuat menjadi kompos bersama limbah pembakaran sisa pakan bermanfaat untuk menyuburkan tanah.

“Jenis sayuran kacang panjang, ubi jalar dan kacang tanah akan bisa digunakan kembali sebagai pakan,” bebernya.

Masri, petani pemilik ternak lain menyebut sistem gotong royong dilakukan dalam pengelolaan kandang. Penyiapan kandang secara komunal diperuntukkan bagi sebanyak empat peternak kambing untuk memudahkan pengawasan.

“Saat masa tanam dimulai sebagian kebun akan dipagar menghindari ternak yang dilepasliarkan merusak tanaman,” cetusnya.

Masri menyebut memanfaatkan hasil kebun sebanyak sepuluh kambing miliknya menjadi investasi jangka panjang. Mendekati Idul Adha empat ekor kambing miliknya terjual untuk hewan kurban. Dijual dengan harga rata rata Rp1,8juta ia bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

Mengandangkan ternak disebutnya membuat ia harus rajin membersihkan kandang. Limbah sisa pakan berupa ranting dan daun akan dibersihkan untuk mengurangi pencemaran. Sebuah lubang khusus disiapkan untuk proses pembakaran dan penimbunan kotoran kambing. Setelah menjadi pupuk bisa dipergunakan pada tanaman pisang dan sayuran di kebun.

Lihat juga...