Kemenkop UKM Dorong Koperasi Pangan Masuk Skala Bisnis

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) mendorong koperasi-koperasi sektor pangan masuk dalam skala bisnis agar mendapatkan market yang stabil.

Menteri Koperasi UKM, Teten Masduki menegaskan, koperasi sektor pangan harus masuk ke dalam skala bisnis supaya koperasi tersebut dapat tumbuh berkembang.

Seperti salah satunya, sebut dia, Koperasi Gapoktan Tani Mulus di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang saat ini mengolah lahan pertanian seluas 278 hektare.

Dengan dukungan modal dari pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari bank. Bahkan tahun ini Koperasi Gapoktan Tani Mulus menargetkan penambahan lahan garapan seluas 10 ribu hektare.

“Kalau produksinya dalam skala bisnis bisa mendapatkan market yang stabil, maka bisa mendapatkan skema pembiayaan, baik itu pembiayaan modal kerja untuk produksi maupun investasi untuk pembangunan RMU (Rice Milling Unit/pengilingan padi), dan pengolahan hasil padinya,” ungkap Teten berdasarkan rilis yang diterima Cendana News, Senin (20/7/2020) pagi.

Kemenkop UKM, kata Teten, siap memberikan alternatif pembiayaan bagi koperasi pangan yang mengalami masalah likuiditas. Seperti skema pembiayaan talangan karena semua ritel atau juga non ritel tidak bisa menerima pembiayaan secara langsung. Ini dikarenakan konsinyasi 14 hari.

Sehingga tambah Teten, kebutuhan-kebutuhan terkait pembiayaan tersebut nanti akan diselesaikan supaya betul-betul koperasi bisa tumbuh besar.

“Koperasi bisa tumbuh besar karena didukung dengan skema pembiayaan yang terhubung dengan market,” ujarnya.

Dia mengatakan, banyak petani yang menjual hasil panennya  langsung ke pasar. Biasanya seperti itu petaninya tidak terlindungi. “Kalau nanti ini dalam bentuk koperasi. Koperasi jadi offtaker yang beli dari hasil panen petani lalu koperasi juga mengarahkan petani tanam,” imbuhnya.

Dengan konsep korporatisasi petani, maka menurutnya, koperasi yang akan melindungi petani dari permainan harga.

“Kalau koperasi bisa memberikan dana talangan ketika petani membutuhkan. Maka di saat panen raya, mereka juga bisa menahan penjualan padi ketika harga jatuh. Itu yang dibutuhkan,” tukasnya.

Lihat juga...