INDEF: Penanaman Modal Perlu Dioptimalkan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Peneliti INDEF, M Rizal Taufikurahman, mengatakan, di tengah melambatnya ekonomi global akibat pandemi Covid-19, peran penanaman modal dalam negeri perlu dioptimalkan.

“Ini penting untuk memenuhi target capaian realisasi investasi tahun 2020 sebesar Rp817,2 triliun. Investasi juga perlu diarahkan ke sektor-sektor strategis utamanya yang padat karya,” ujar Rizal pada diskusi hasil kajian tengah tahun INDEF bertajuk ‘Menata Arsitektur Ekonomi Pasca Pandemi’ yang digelar secara webinar di Jakarta, Selasa (21/7/2020).

Sedangkan upaya lain tambah dia, adalah dengan memperkuat pola-pola kemitraan strategis antara pelaku usaha besar dengan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Sehingga peran UMKM dapat meningkat dan memacu perbaikan produktivitas. Kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) juga perlu memperhatikan dan mendorong terjadinya kemitraan tersebut.

Selain itu, menurutnya, perlu memperbaiki ICOR di bawah angka pertumbuhan ekonomi, dimana sangat berpengaruh terhadap ketertarikan para investor karena terkait dengan biaya investasi.

Terpenting lagi, yakni perlu melakukan pemetaan distribusi investasi regional dan sektoral berdasarkan potensi investasi berbasis sumberdaya alam dan kekuatan pasar domestik, hilirisasi industri, industri substitusi impor (ISI), dan pemanfaatan berbagai fasilitas infrastruktur yang sudah dibangun.

Tentu perlu memfokuskan dan memilah investasi di masa pandemi Covid-19 pada sektor riil berbasis industri manufaktur yang berdaya saing di pasar domestik dan pasar global (ekspor).

“Yang berasal dari penanam modal domestik/dalam negeri dengan memberikan berbagai fasilitas insentif keuangan dan permodalan,” ujarnya.

Kesemua upaya tersebut adalah menurutnya, untuk antisipasi terjadinya resesi yang semakin mendalam pada triwulan III-IV tahun 2020.

“Antisipasi resesi, maka peran BKPM juga menjadi sangat strategis, terutama dalam menciptakan nilai tambah dan pasar kerja di tengah pandemi Covid-19,” tukas Rizal.

Dalam pemulihan ekonomi sektoral dan dunia usaha, memang kata dia, pemerintah telah menganggarkan sejumlah dana untuk memacu sektor riil. Namun pelaksanaan penyaluran anggaran tersebut belum efektif.

Oleh karena itu, perlu perbaikan administrasi dan verifikasi agar lebih memudahkan bagi penerima manfaat sehingga tidak diperlukan waktu lama untuk merealisasikan stimulus.

Kemudian diperlukan upaya peningkatan sosialisasi yang mendalam hingga ke berbagai wilayah, sangat diperlukan untuk mempermudah pelaku usaha dalam mengajukan insentif. Lebih lanjut, perlu ada langkah-langkah lain yang dilakukan secara sinergi dengan dunia usaha mulai dari petani hingga pengusaha besar.

“Pemerintah juga perlu mendorong badan usaha  baik BUMN maupun BUMD untuk meningkatkan kemitraan strategis dengan pelaku usaha swasta,” pungkasnya.

Lihat juga...