Baru 29 Persen Warga Sikka Pelanggan PDAM
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
MAUMERE — Dari sebanyak 320.821 warga dan 83.023 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Sikka yang tersebar di 21 kecamatan dan 147 desa serta 13 kelurahan, baru sekitar 29 persen saja rumah yang sudah menjadi pelanggan air di Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAM).

Hal ini membuat PDAM Sikka belum bisa menyumbangan dana untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) karena cakupan pelanggannya masih 29 persen dari jumlah penduduk di wilayah ini.
“Untuk menyumbangkan pendapatan bagi Kabupaten Sikka, sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri maka capaian pelanggan PDAM harus sebesar 80 persen warga kabupaten Sikka,” sebut Direktur PDAM Sikka, NTT, Frans Laka, Kamis (23/7/2020).
Frans mengatakan, hingga tahun 2020 capain pelanggan PDAM Sikka baru 29 persen dari jumlah penduduk di wilayah ini. Peraturan Menteri Dalam Negeri No 25 Tahun 2009 pada poin 5 telah menegaskan hal tersebut.
Dikatakannya, sesuai Permendagri, Pemda agar tidak menetapkan target pendapatan yang berasal dari setoran laba bersih PDAM yang cakupan pelayanan belum mencapai 80 persen dari jumlah penduduk dalam wilayah administratif daerah kabupaten dan kota pemilik PDAM.
“Kita harapkan dengan beroperasinya bendungan Napun Gete dan pemboran air tanah bisa menaikkan pelanggan. Pemasangan sambungan rumah baru yang dibiayai pemerintah juga sangat berkontribusi bagi peningkatan pelanggan,” ujarnya.
PDAM Sikka pun kata Frans, pada tahun 2021 akan menambah pelanggan baru di 6 desa di wilayah Kecamatan Kangae yakni Desa Langir, Habi, Watumilok Tana Duen, Watuliwung dan Kokowahor.
Biaya instalasi yang dikeluarkan, sebutnya, sekitar Rp4,8 miliar, sementara sumur bornya menggunakan sumur bor Proyek Pengembangan Air Tanah (P2AT) milik Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
“Pemerintah desa dari 6 desa siap menganggarkan Rp250 juta sampai Rp500 miliar untuk membantu biaya sambungan rumah. Sekarang masih menunggu kerjasama antara pemerintah kabupaten dan pusat,” jelsnya.
Kerjasama ini kata Frans harus dilaksanakan karena sumur bor yang dipergunakan merupakan sumur bor P2AT dari pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian PUPR sehingga masih menunggu surat kerjasamanya.
Tetapi bila pemerintah pusat tidak mengizinkan, lanjutnya, maka PDAM Sikka berharap pemerintah Kabupaten Sikka bisa membiayai pengeboran 2 sumur dengan kapasitas 20 liter per detik.
“Pengujian 2 sumur bor tersebut sudah dilakukan dan bisa dipergunakan sementara satunya masih diuji dimana kapasitas totalnya 30 liter per detik. Kami juga masih terkendala dengan pembiayaan,” tuturnya.
Untuk menambah cadangan air bersih, terang Frans, tahun 2020 PDAM Sikka melakukan pengeboran di 2 lokasi dengan kapasitas 30 liter per detik dan bisa menambah 3 ribu pelanggan.
Saat musim kemarau sambungnya, ada penurunan 10 sampai 15 persen debit air sehingga penjadwalan pengaliran air ke pelanggan diatur secara bergilir. Diharapkan dengan pengeboran 2 sumur yang sedang dilakukan sebutnya, bisa mengatasi kekurangan air saat musim kemarau.
“Masyarakat yang kekurangan air bisa melaporkan ke kantor PDAM dan akan didistribusikan ke wilayah tersebut untuk warganya. Kegiatan ini sudah berjalan selama 2 tahun,” paparnya.
Hendrikus Endi warga Kota Maumere berharap agar PDAM Sikka bisa meningkatkan pelayanan agar air bisa rutin mengalir setiap harinya ke rumah pelanggan dengan melakukan penambahan sumur bor.
Menurut Endi, saat musim kemarau banyak mata air mengalami kekeringan sehingga debitnya menurun. Untuk itu solusinya PDAM kata dia, harus menambah banyak sumur bor agar suplay air ke pelanggan tidak terganggu.
“Kita harapkan agar pelayanan PDAM Sikka terus ditingkatkan dimana saat ini sudah baik namun air masih mengalir belum terlalu lancar setiap hari. Pemerintah harus membantu dengan mempergunakan sumur P2AT yang banyak tidak berfungsi,” sarannya.