Warga Lamsel Gunakan Patok Bambu Cegah Abrasi
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Banjir rob imbas gelombang pasang dan angin kencang mengakibatkan kerusakan di pantai timur Lampung Selatan. Namun, warga memiliki cara alami untuk menahan terjangan ombak. Salah satunya dengan membuat patok bambu dan kayu.
Burhani, pemilik rumah di Dusun Sukabandar, Desa Legundu, Kecamatan Ketapang, mengaku memanfaatkan bambu untuk tonggak penahan abrasi. Sebagian tonggak bambu dibuat menyerupai pagar penahan terjangan ombak.
Patok bambu yang dikombinasikan dengan kayu, menurutnya efektif meredam laju abrasi. Sebab, keberadaan tonggak bambu yang dibuat memanjang di tepi pantai menahan ombak dan angin.

Namun ketinggian gelombang disertai angin kencang, mengakibatkan halaman rumah dipenuhi pasir. Pasir dari terjangan ombak menimbun tanaman pohon yang ditanam tepat di depan rumah.
Semula, ia menyebut di depan rumah yang ditinggali menjadi lokasi tambat perahu. Namun sebagian pohon tumbang akibat terkena angin kencang, gelombang pasang. Bambu yang dipergunakan untuk pencegahan abrasi jenis petung, bambu hitam dan bambu kuning. Jenis bambu hitam yang bisa tumbuh di tanah berpasir berpotensi menahan laju ombak.
“Pasir yang terbawa ke daratan kerap akan terseret lagi, namun jika ada tonggak bambu dikombinasikan dengan tonggak kayu, kawat bisa mencegah abrasi diselingi penanaman pohon,” terang Burhani saat ditemui Cendana News, Rabu (10/6/2020).
Burhani menyebut, sebagian pohon yang ditanam di tepi pantai cukup beragam. Jenis paling dominan merupakan ketapang laut, waru, kelapa, cemara laut, ketapang kencana. Sejumlah bibit pohon tersebut memiliki perakaran yang kuat dan menjadi tanaman vegetasi pantai. Melalui penanaman ulang berbagai jenis bibit pohon, diharapkan abrasi bisa dicegah.
Berbagai jenis bibit tanaman baru, menurutnya dilindungi oleh patok bambu. Ia telah mencoba melakukan penanaman mangrove atau bakau. Namun karena kondisi tanah berpasir, tidak cocok untuk penanaman bakau. Jenis pohon kelapa, ketapang yang memiliki akar kuat sekaligus menjadi peneduh dan sarana tambat perahu nelayan.
“Penanaman pohon di tepi pantai selain untuk konservasi lingkungan, tentunya bisa dipakai nelayan untuk sandar perahu,” terang Burhani.
Udin, warga lain, juga memanfaatkan bambu untuk tonggak pencegah abrasi. Lokasi yang diberi patok bambu dikombinasikan dengan batang kayu, kawat dan susunan batu. Konstruksi sederhana untuk tanggul tersebut sangat bermanfaat untuk menahan laju abrasi. Sebab, pantai timur langsung berhadapan dengan laut Jawa.
“Bambu yang dipatok memang tidak tumbuh, namun menjaga terjangan ombak bisa diredam,” terangnya.
Patok bambu dan kayu dilengkapi ban, kawat dan batu akan makin kuat saat kerang menempel. Di dekat patok dan tanggul alami tersebut, ia menanam jenis pohon waru. Pohon waru memiliki kemampuan untuk tumbuh pada tanah berpasir mencegah, terjangan gelombang. Sebagian tanaman yang telah tumbuh, menurutnya efektif memperlambat kerusakan pesisir.
Bambu yang diperoleh dari kebun miliknya, menurut Udin juga multi manfaat. Sebagian tanaman bambu yang ditanam berjajar akan menjadi pagar alami saat musim angin timur.
Terjangan angin timur bisa teredam oleh tanaman bambu yang ditanam berjajar. Selain itu, tanaman bambu bisa dipergunakan untuk tonggak budi daya kerang, rumput laut yang menghasilkan secara ekonomis.