Setelah Pandemi, Bappenas Dorong Pembangunan Berkelanjutan Rendah Karbon

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan hampir setiap sendi kehidupan manusia di berbagai belahan dunia, baik dari sisi kesehatan, sosial maupun ekonomi. Namun di balik itu, kelestarian lingkungan mulai terjaga, harapan manusia untuk menyatu dengan alam kini menemukan momentumnya.

Direktur Lingkungan Hidup Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Medrilzam, mengungkapkan, untuk tetap menjaga momentum tersebut, pemerintah bertekad kembali membangun negeri secara lebih baik (build back better) berbasis rendah karbon.

“Tidak hanya normal baru yang perlu diterapkan dalam pembangunan jangka menengah dan jangka panjang, tetapi juga membangun kembali Indonesia secara lebih baik, dengan mempertahankan momentum agenda pembangunan berkelanjutan 2030, sekaligus mengatasi ancaman bencana yang ada di depan mata, yaitu perubahan iklim,” terang Medrilzam, Senin (15/6/2020) dalam kegiatan webinar.

Medrilzam mengatakan build back better diadopsi dari pemulihan pasca bencana, yaitu membangun kembali dengan menghindari terjadinya kerentanan semula, serta menjadikan proses pemulihan sebagai transformasi menuju arah yang lebih baik dari sisi ekonomi, sosial maupun lingkungan.

“Solusi kuncinya adalah pembangunan yang rendah karbon. Semua pembangunan yang berbasis rendah karbon dapat meningkatkan ketangguhan dan menghadirkan masa depan yang lebih baik. Dan berdasarkan riset yang ada, pembangunan rendah karbon dapat menciptakan lapangan kerja serta pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibanding yang tidak rendah karbon,” tandas Medrilzam.

Di Amerika, kata Medrilzam, perkembangan ekonomi hijau (green economy) mampu menyerap tenaga kerja dan memberikan pemasukan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Merujuk data dari University of Tennesse pada tahun 2007, negara bagian Pennsylvania mampu meningkatkan pendapatan hingga US$460 juta dan menciptakan 44.000 lapangan kerja baru dengan penggunaan energi baru terbarukan (EBT). Pada 2004, Britania Raya mampu mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 2,6 persen, meskipun emisi gas rumah kacanya turun sebesar 8,4 persen,” jelasnya.

“Untuk itu, dibutuhkan dorongan, seperti kebijakan dan iklim investasi yang menarik sektor bisnis agar berinvestasi di EBT dan efisiensi energi. Percayalah, green economy mampu berkembang selaras dengan pertumbuhan ekonomi,” sambung Medrilzam, menutup.

Lihat juga...